Nasional

Pemerintah Akui Tak Mudah Kembangkan Mobil Listrik

Menurut survei konsultan manajemen Solidiance, tutur KSP, pada 2018 ada 3 faktor penyebab rendahnya minat masyarakat Indonesia terhadap mobil listrik. Faktor itu adalah daya jelajah kendaraan listrik yang terbatas, Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang masih minim, serta harga mobil listrik yang masih cenderung lebih mahal dibandingkan mobil konvensional.

Pemerintah, tutur Moeldoko, tidak tinggal diam menanggapi permasalahan itu. Presiden Joko Widodo telah menandatangani Perpres No 55 Tahun 2019 mengenai Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai Untuk Transportasi Jalan. Pada Maret 2021 lalu, KSP bersama Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) telah menyosialisasikan program penggunaan mobil listrik di lingkungan kementerian serta lembaga melalui program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBL-BB).

KSP juga telah menekankan pentingnya pergeseran menuju industri mobil listrik dengan sumber energi terbarukan. Mobil listrik menjadi solusi dalam mengurangi konsumsi bahan bakar fosil dan meningkatkan kualitas lingkungan serta udara. Moeldoko optimistis Indonesia akan mampu meningkatkan peluang untuk menjadi basis produksi serta ekspor KBL-BB.

Sementara itu, Kementerian Perhubungan telah menyusun Peta Jalan Kendaraan Operasional K/L serta Angkutan Umum dari Kendaraan ICE (Internal Combustion Engine) ke KBL BB.

Kementerian ESDM bersama dengan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN ditunjuk membangun infrastruktur pendukung berupa SPKLU. Tercatat hingga April 2021 telah dibangun 112 unit SPKLU pada 83 lokasi di Indonesia. Tidak hanya itu PLN juga mempersiapkan berbagai stimulus untuk meningkatkan minat pasar untuk menggunakan KBL-BB. (mg2)

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button