Nasional

Siswa Mengaku Senang Belajar Tatap Muka Dibanding Belajar Online

Sementara itu, Chief Education Officer Zenius Sabda PS mengatakan, kompetensi individu menentukan masa depan Indonesia. Oleh karena itu, dibutuhkan penerapan belajar yang fokus pada pemahaman dasar materi dan pengembangan pola berpikir kritis.

Hal itu, menurutnya, untuk membantu siswa mendapatkan pengalaman belajar yang personal, sesuai dengan tahapan belajar serta kemampuan masing-masing. “Ada empat kemampuan dasar yang penting dimiliki oleh seorang individu yaitu logika, kemampuan matematis dasar, membaca, dan scientific thinking. Dan platform kami memberikan materi pembelajaran yang dapat menstimulasi kemampuan dasar tersebut,” katanya.

Ia meyakini, pola pembelajaran tersebut mampu membentuk individu yang kompetitif atau kami menyebutnya individu yang cerdas, cerah, dan asyik. “Individu yang cerdas terlatih memiliki pemikiran yang kritis, cerah membuat mereka lebih percaya diri menjalani kehidupan sehari-hari. Dan asyik itu memiliki kemampuan sosial dan memiliki motivasi untuk terus belajar,” bebernya.

Berita Terkait

Sebagai anggota dari Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD), Indonesia berpartisipasi dalam tes Programme for International Student Assessment (PISA) yang menguji kemampuan dasar siswa SMA. “Kami komitmen untuk membantu meningkatkan skor PISA Indonesia,” ucapnya.

Sebelumnya, Plt Direktur sekolah menengah atas (SMA), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Purwadi Sutanto mengatakan, PJJ di masa pandemi dikeluhkan guru, siswa dan masyarakat.

“Ada penurunan kemampuan belajar siswa atau loss learning bahkan PJJ menambah angka putus sekolah (APS) anak,” ujarnya.

Bahkan lebih jauh, dikatakan Purwadi, pembelajaran di masa pandemi menyebabkan gangguan kesehatan mental pada anak atau stress. “Perangkat belajar selama PJJ jadi kendala serius dan pembelajaran juga hanya bisa dilakukan di zona jaringan internet,” katanya.

Ia menyebut, berdasarkan hasil PISA 2000 hingga 2018 menunjukkan hasil belajar pendidikan siswa sekolah dasar dan menengah masih rendah. Dari hasil skor dan pemeringkatan PISA kompetensi membaca siswa 70 persen di bawah kompetensi minimal. Sementara kompetensi matematika 71 persen di bawah kompetensi minimal.

“Untuk Sains 60 persen di bawah kompetensi minimal. Hasil ini tentu masih rendah dan menjadi pekerjaan rumah (PR) semua pihak, baik orangtua, masyarakat dan pemerintah,” katanya.

Ia menyebutkan, masalah dasar yang mempengaruhi rendahnya hasil pendidikan di antaranya kualitas guru, infrastruktur dan tingkat kesenjangan orangtua. “Kita harus optimistis skor PISA 2022 nanti naik,” ucapnya. (nas)

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button