Nasional

Kesejahteraan Guru dan Kebijakan Pemimpin Daerah

Kepada organisasi profesi guru dalam hal ini, terus berjuang tapi harus bisa menterjemahkan aspirasi anggotanya dengan baik dan dapat menyampaikannya dengan elegan, berikan solusi cerdas, gagasan dan argumentasi yang rasional atau kritik yang kostruktif untuk kemajuan dunia pendidikan. Diskusi dan penyampaian aspirasi yang mencerahkan mungkin salah satu cara yang menyejukan.

Memang kalau kita berbicara kesejahteraan ukurannya sangat subjektif. Berbicara kesejahteraan terkait erat dengan gaji atau honor guru.

Meskipun bicara kesejahteraan tidak selalu harus melulu bilangan angka Nominal. Karena ada juga guru dengan gaji honor Rp1 juta perbulan terlihat tetap normal berjalan aktivitas mengajarnya. Bahkan tidak menunjukan diri sebagai orang yang kekurangan. Hidupnya merasa cukup. Namun mental orang seperti ini sungguh luar biasa dan sangat bisa dihitung dengan jari.

Terlebih di zaman sekarang, dimana kehidupan sosial bermasyarakat sudah sangat konsumtif dan cenderung hedonis tentu memiliki dampak yang serius bagi perkembangan pendidikan kita.

Guru adalah profesi. Status sosial. Bahkan merupakan sumber penghasilan penghidupan keluarga.

Dengan beban mengajar dan mendidik yang full sebagai tugas dan kewajiban profesi, sudah seharusnya guru juga mendapatkan benefit terbaiknya. Guru juga harus memberikan kemampuan terbaiknya kepada peserta didik. Apalagi di tengah revolusi industri 4.0 ini.

Membutuhkan guru yang secara kualitas harus meningkatkan kompetensinya baik kompetensi paedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi keprofesionalan, harus beradaptasi dengan hal kebaruan baik secara tehnik pembelajaran yang berinovasi dan juga harus menguasai tehnologi kekinian atau eranya milenial.

Guru yang profesional akan mengerahkan segala kemampuan dan ilmu yang dimiliki agar bisa diserap dengan baik oleh anak didik. Maka sebab itu, kemampuan mengajar seorang Guru akan sangat menentukan kualitas pengajaran dan output hasil pembelajaran yang tercermin dari kualitas peserta didik paska lulus dari sekolah.

Dititik inilah, perlu adanya simbiosis mutualis antara pemerintah dari sisi pemangku kebijakan, suporting dan dari sisi guru yang menjalankan tugas profesi yang bertanggungjawab penuh terhadap kualitas anak didik yang akan menjadi generasi bangsa yang mencerahkan di masa depan. Dibalik peserta didik yang sukses karena dibelakangnya ada guru yang hebat.

Menurut hemat penulis, Pemerintah Daerah harus berani memberikan peningkatan Insentif Guru terutama yang masih berstatus honorer. Tentu saja pemberian ini tidak gratis atau sekedar untuk menyenangkan guru sesaat.

Namun harus ada ketentuan dan syarat yang harus dipenuhi oleh Guru sebagai profesi terutama yang masih berstatus honorer. Agar jelas dampak peningkatan kualitas pendidikan di sekolah dengan ditingkatkannya kesejahteraan Guru melalui peningkatan nominal insentif.

Kebijakan Pemerintah Daerah yang demikian akan mendorong akselarasi peningkatan kualitas pendidikan di sekolah baik yang bersifat kebijakan atau karena kesadaran natural guru.

Secara manusiawi, siapapun yang mendapat perhatian akan memberikan perhatian balik. Pemerintah Daerah meningkatkan kesejahteraan maka sebaliknya guru akan termotivasi untuk memberikan yang terbaik bagi dunia pendidikan sekolah.

Tentu saja, kita semua sangat berharap dunia pendidikan kita terus meningkat kualitasnya. Karena tantangan masa depan begitu rumit dan tidak bisa diprediksi secara mudah butuh penciptaan SDM yang handal dan siap memasuki dunia global.

Cara satu-satunya, menurut hemat saya adalah kita harus meningkatkan kualitas pendidikan kita. Agar siswa sebagai generasi bangsa masa depan siap mental,spritual dan skill mumpuni yang diperlukan untuk “bertarung” sebagai warga dunia. Dan itu dimulai dari sekolah yang di dukung penuh oleh kebijakan dari pemerintah daerah dan di dukung penuh dengan kualitas guru yang profesional, bermental positif dan kualitas spritual yang mencerahkan. (*)

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button