Nasional

Jusuf Hamka dan Seribu Masjid

Dengan sisa umur yang ada, Jusuf berupaya membuktikan ucapannya, tidak hanya membangun, target 1.000 masjid juga akan diwujudkan lewat program renovasi masjid apabila ada yang memintanya melakukan. Masjid pun akan direnovasi dengan corak serupa.

Selain membangun dan merenovasi, Jusuf telah memberikan wasiat kepada anak-anak dan para cucu hingga cicitnya kelak, agar meneruskan janjinya mendirikan 1.000 masjid dari Sabang sampai Merauke.

Jusuf Hamka Dan Seribu Masjid

Membangun 1.000 masjid bukanlah ambisi untuk seorang Jusuf, bukan pula sebagai pertanggungjawaban sosial dari seorang pengembang jalan tol, mengingat beberapa masjid yang telah dibangun berada di zona bisnis miliknya.

“Bentuk rasa terimakasih saya kepada Allah dan ini bukan berbisnis, kita tunjukkan Islam yang ‘Rahmatan lil’alamin, Islam yang makmur, bukan kita sok, kita mulai coba tunjukkan itu,” kata Jusuf dengan logat Betawinya.

Bagi Jusuf Hamka, Masjid Babah Alun menjadi sarana syiar Islam, sebagai destinasi wisata religi yang bebas didatangi masyarakat dari manapun juga. Bahkan untuk memudahkan wisatawan Tiongkok bila berkunjung ke sana, petunjuk informasi di dalam masjid hanya bertuliskan bahasa Indonesia dan aksara China.

Melalui masjid dengan akulturasi budaya tersebut, Jusuf ingin menyampaikan bahwa Islam merupakan agama luluhur bangsa China sebelum komunisme masuk ke Negeri Tirai Bambu, seperti yang disampaikan Buya Hamka kepadanya.

Bukan hanya masjid yang diperbanyak olehnya, Direktur Utama PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk itu juga akan melebarkan program berbagi untuk sesama tidak mampu lewat Warung NKRI atau Warung Kuning Pojok Halal dan sedekah ‘drive thru’ di jalan tol yang digagas olehnya.

Masjid Babah Alun

Pengusaha sukses nan kaya raya pemilik jalan tol tidak hanya di Jakarta, ada juga di wilayah Jawa Barat, Surabaya dan segera menyusul di Medan, dikenal oleh pejabat negara sebagai sosok Inklusivisme. Hal ini diungkapkan oleh Menteri Perindustrian, Agung Gumiwang Kartasasmita melalui kata pengantar dalam buku semi otobiografi berjudul ‘Babah Alun Naik Haji’ yang ditulis sendiri olehnya pada 1985 dan dicetak pada 2020.

Nilai-nilai inklusivisme merupakan lawan dari eksklusivisme, yakni memandang semua orang, dirangkul, dihargai, diakui dan diberikan perhatian tanpa menimbang identitas suku, agama, status sosial, maupun kelas ekonomi.

Sikap inklusivisme seorang Jusuf Hamka tergambar dari karyanya membangun masjid di sejumlah wilayah di Jakarta yang diberi nama Masjid Babah Alun asal kata Ayah Alun. Sebagai ‘mega’ proyek bentuk pertanggungjawaban atas ucapannya kepada Tuhan-nya, saat teman-temannya bertanya mau membangun berapa banyak masjid, dengan asal bicara, ayah tiga anak itu pun menjawab 1.000 masjid.

Maka dimulai lah proyek pembangunan masjid tersebut sejak 2017, lokasi pertama di kolong Tol Layang Tanjung Priok, Jalan Warakas, Papanggo, Tanjung Priok Jakarta Utara, seluas kurang lebih 300 meter persegi.

Setahun berikutnya, berdiri lagi satu Masjid Babah Alun di kolong tol Ir Wiyoto, Jalan Pasir Putih, Ancol, Pademangan, Jakarta. Masjid ini lebih berbentuk mushola karena ukurannya lebih kecil, dibangun oleh Jusuf Hamka berkolaborasi dengan Artha Graha sebagai penyumbang dana.

Masjid Babah Alun ketiga berdiri di pinggiran Tol Depok-Antasari (Desari) Cilandak, Jakarta Selatan, di atas tanah seluas 450 meter persegi terdiri dari tiga bangunan dengan bangunan utama masjid seluas kurang lebih 200 meter persegi, diresmikan oleh Sekretaris Daerah DKI Jakarta Marullah Matali pada Agustus 2020 yang dulunya sebagai Wali Kota Jakarta Selatan.

Masjid berikutnya segera diresmikan pada 2021 ini dua masjid Babah Alun di Tol Sentul Selatan (pertengahan Maret) dan Tol Sentul Selatan (kisaran Juni-Juli). Proyek pembangunan masjid berikutnya ada di Soreang Pasir Koja, Bandung dan Sumedang, Jawa Barat.

Setiap masjid yang dibangun memiliki corak yang sama yakni bernuansa Tionghoa, dengan warna merah menyala, ornamen berwarna kuning emas menghiasi bangunan utama berwarna dasar putih gading. Masjid Babah Alun merupakan akulturasi dari budaya China, Islam dan Betawi.

Jusuf Hamka Dan Seribu Masjid

Asep Maman, arsitek pembangunan Masjid Babah Alun Desari menjelaskan, unsur Tionghoa dari masjid ini terlihat dari corak bangunan, bagian jurai luar bangunan (Nok) pada atap melengkung seperti atap kuil, serta pintu lengkung menyerupai gerbang di kuil Shaolin (Kong Liong) lalu diperkuat dengan ornamen-ornamen berwana kuning emas di setiap jendela.

Warna hijau pada atap serta kubah dan tulisan Asmaul Husna mewakili budaya Islami, sedangkan Betawi ada pada pagar yang mengitari lantai atas bangunan masjid dekat kubah yang dikombinasikan dengan ornamen China.

“Masjid pertama yang saya bangun itu di pabrik saya di daerah Bukuan, Samarinda, hanya coraknya bukan begini (Tionghoa, red), tapi Timur Tengah, nanti mau saya renovasi jadi mirip Babah Alun,” kata Jusuf. (aro)

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button