Nasional

Kongres Beasiswa Indonesia yang Digelar ISC dan BAZNAS Hasilkan Tujuh Resolusi

Kemudian tambahan dari Kepala Lembaga Beasiswa BAZNAS (LBB), Sri Nurhidayah pada acara ini mengungkapkan, dalam pemberian beasiswa BAZNAS menerapkan proses verifikasi yang detail, agar memastikan tepat sasaran. Sri menyebut, LBB melibatkan pihak ketiga dalam memberikan beasiswa, seperti tim dari kemahasiswaan kampus.

“Kita selalu melibatkan pihak ketiga tidak pernah sendiri. Kalau untuk Beasiswa Cendekia BAZNAS dalam negeri yang S1, kami melibatkan kemahasiswaan kampus, karena ada tiga hal yang harus betul-betul diperiksa. Yang pertama kampus memastikan anak tersebut adalah fakir miskin, memang dari keluarga yang tidak mampu. Meskipun secara umum kami telah mengecek di basis data terpadunya Kemensos namun faktual tetap dilakukan,” ujar Sri.

Sri melanjutkan, yang kedua adalah memastikan bahwa beasiswanya tidak rangkap. Jadi tidak boleh anak yang sudah mendapatkan, mencari lagi beasiswa. Ketiga, Sri memastikan mahasiswa tersebut bebas dari keterlibatan narkoba.

Sementara untuk di luar negeri, BAZNAS bekerja sama dengan PPMI setempat, misalnya PPMI Mesir untuk program BCB di Universitas Al Azhar Kairo. Pun dengan beasiswa di Al Bukhari International University, Malaysia, yang melibatkan pihak kampus dalam seleksi. Setelah proses seleksi, kata Sri, fokus utama adalah pembinaan.

Untuk seleksi Beasiswa Cendekia BAZNAS, penentuan kampus untuk dalam negeri akreditasi minimal B. Kemudian BAZNAS langsung kerja sama dengan dengan Rektor atau Wakil Rektor bidang kemahasiswaan kampus terkait hingga ke verifikasi.

“Kemudian kampus melakukan penilaian faktual dan penentuan penerbitan SK terbit sama untuk Beasiswa Cendekia BAZNAS,” kata Sri.

Selain itu, BAZNAS juga memiliki suatu sistem Dashboard, yang berguna sebagai wadah para peserta beasiswa mencatat kegiatannya sehari-hari secara berkala.

Sementara itu, Kementerian Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) turut mengapresiasi inisiatif Indonesia Scholarship Congress dan Baznas menggelar kongres ini. Forum ini dinilai bisa mempererat silaturahmi sekaligus mempertemukan lebaga pengelola beasiswa di Indonesia.

Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Moderasi Beragama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia (Kemenko PMK) Agus Sartono mengatakan, kegiatan ini sejalan dengan fokus periode kedua pemerintahan Presiden Joko Widodo. Arah pemerintahan difokuskan pada pembangunan sumber daya manusia unggul.

“Sumber daya manusia yang kita harapkan profesional, produktif, inovatif, dan mampu bersaing, serta berkepribadian Indonesia,” ucap Agus.

Kongres Beasiswa Indonesia ke-1 pada hari pertama menghadirkan berbagai tokoh, di antaranya Direktur Eksekutif Filantropi Indonesia, Hamid Abidin; Deputi 2 Kemenpora, Dr. H. M. Asrorun Ni’am Sholeh, MA; Direktorat Sumber Daya Ditjen Dikti Kemdikbud, Juniarti Duwi Lestari; Tokoh Kebijakan Publik, Yanuar Nugroho, Ph.D; Tokoh Alumni Beasiswa, Ahmad Fuadi; Ketua Mata Garuda, Erbi Setiawan; dan Koordinator PPI Dunia, Choirul Anam.

Sedangkan hari kedua, pada Kamis (21/1) menghadirkan berbagai narasumber, di antaranya Kepala Lembaga Beasiswa BAZNAS Ri, Sri Nurhidayah; Representative of Paragon Scholarship, Hana Kusumawardhani; Direktur Eksekutif Rumah Kepemimpinan, Adi Wahyu Adji; Study Abroad Advisor Embassy of Japan Lukman Hakim; Kepala Divisi Pelayanan LPDP RI Ratna Prabandari; Scholarship Team Coordinator Nuffic Neso Indonesia, Indy Hardono; Lead of Leadership Development Program TELADAN Tanoto Foundation, Anita Kristiana, M.Psi., Psikolog,CPC; Ketua Sekolah Tinggi Manajemen PPM, Prof Bramantyo Djohanoutro, M.B.A., PhD., QIA; Direktur Pembinaan GTK PAUD Kemdikbud RI, Dr. Santi Ambarrukmi, M.Ed; Program Leader XL Future Leaders, Dwi Kartika Sari; Direktur Institut Kemandirian Dompet Dhuafa, Abdurrahman Usman; Education USA Advisor, Muhammad Iqbal; YSEALI Coordinator, Putra Aditya. (*)

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button