Olahraga

Menelisik Kompetisi Bola Eropa di Tengah Pandemi

INDOPOSCO.ID – Kecuali Bundesliga Jerman dan La Liga Spanyol yang Sabtu (22/5/2021) malam lalu sudah menuntaskan musim 2020/2021, tiga liga besar Eropa lainnya baru akan menuntaskan musim kompetisinya Minggu (23/5/2021) malam ini dan Senin (24/5/2021) dini hari nanti.

Hanya Ligue 1 Prancis dan La Liga yang juara liganya mesti ditentukan oleh pertandingan terakhirnya. Sabtu malam tadi, persaingan sampai laga terakhir antara Real Madrid dan Atletico Madrid akhirnya mengukuhkan Atletico sebagai juara baru La Liga setelah membungkam tuan rumah Valladolid, sekalipun dalam waktu bersamaan Real juga menaklukkan tamunya Villarreal.

Dua kemenangan yang dicatat kedua tim satu kota ini membuat mereka tetap berselisih dua poin sampai hari terakhir kompetisi. Atletico 86 poin, Real 84 poin.

Di Prancis, Lille dan Paris Saint Germain yang berselisih satu poin dituntut harus menang. Tergelincir melawan Angers dan saat bersamaan PSG mengalahkan Brest, akan membuyarkan impian Lille merengkuh gelar juara liga utama untuk pertama kali dalam kurun 10 tahun terakhir. Dan itu artinya bukan saja punah sudah asa Lille merebut gelar juara liga keempat sepanjang sejarah Liga Prancis, tetapi juga membuat PSG mempertahankan dominasi dalam empat musim terakhir.

Memang masih ada Monaco yang berselisih dua dan tiga poin di bawah mereka, tetapi kalaupun Lille dan PSG nanti kalah dari lawannya masing-masing, Monaco tetap tak bisa juara karena kalah selisih gol dari Lille.

Di tempat lain di Jerman, trofi Bundesliga untuk kesembilan kali berturut-turut kembali menjadi milik Bayern Muenchen, bahkan sebelum tim Bavaria ini menyelesaikan tiga pertandingan terakhirnya. Ini juga untuk ke-30 kalinya Bayern menduduki singgasana liga sepak bola profesional tertinggi Jerman.

Di Italia, Inter Milan mengkudeta Juventus yang selama delapan musim terakhir berturut-turut menjadi jawara Serie A. Ini pertama kali dalam kurun 11 tahun terakhir Inter kembali menjuarai Serie A.

Itu juga gelar juara liga ke-19 kali Inter sepanjang sejarah Serie A. Memang satu gelar di atas Milan, tetapi jumlah sebanyak itu tetap medioker dibandingkan dengan Juventus yang sudah 36 kali menjuarai Serie A. Di Inggris, Manchester City menjadi juara liga yang ketiga kalinya selama empat tahun diasuh Pep Guardiola sebelum menuntaskan tiga pertandingan terakhirnya.

Prokes Ketat

Perebutan status juara liga adalah satu dari sekian atraksi yang sangat menarik dan amat mendebarkan dari lima liga besar Eropa yang paling banyak disaksikan penggemar sepak bola di seluruh dunia itu.

Apalagi itu semua terjadi pada musim yang sangat unik yang tak akan terjadi lagi dalam 100 tahun mendatang, seandainya omongan Bill Gates bahwa pandemi adalah fenomena sekali dalam setiap 100 tahun, benar.

Separuh musim lalu memang dilewatkan dalam suasana pandemi dan lockdown sehingga terlarang ditonton di dalam stadion, tetapi pada musim 2020/2021 klub-klub liga besar Eropa itu –dan demikian pula seluruh liga sepak bola dan cabang olah raga lainnya di seluruh dunia—seluruhnya dilalui dalam suasana pandemi, dari awal sampai akhir kompetisi.

Sampai saat ini, Covid-19 telah menulari 166 juta orang di seluruh dunia di mana 2,45 juta di antaranya berakhir dengan kematian. Dari angka ini 27 persen atau sekitar 46 juta kasus terjadi di Eropa, namun jumlah korban meninggal dunia di Eropa mencapai 41 persen atau sekitar 1 juta kematian.

Dengan jumlah korban sebesar itu wajar jika Eropa menempuh langkah-langkah keras dalam membendung penyebaran virus corona yang di antaranya mempengaruhi kompetisi olahraga, termasuk kompetisi sepak bola, digulirkan kembali.

Jauh sebelum mereka menggulirkan kembali kompetisi, rapat-rapat antarlembaga dan lintas-otoritas digelar oleh kebanyakan negara di Eropa, termasuk negara-negara tempat liga besar berada. Dan ini termasuk musim kompetisi sepak bola 2020/2021 yang akhir pekan ini akan memasuki epilognya.

Kompetisi sepak bola Eropa sudah menjadi industri sehingga selalu berkaitan dengan bisnis, tetapi saat menggulirkan lagi musim tidak pernah melulu didasarkan kepada semata bisnis. Sebaliknya, kepatuhan kepada rekomendasi otoritas kesehatan menjadi acuan utama bagaimana kompetisi harus dijalankan

Oleh karena itu, ketika waktunya tiba menggulirkan kompetisi itu mereka mengawalnya dengan protokol kesehatan yang sangat ketat. Dan itu bukan formalitas belaka atau demi mengikuti trend.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button