Megapolitan

Ketika Robohnya Pagar Stadion Kita

INDOPOSCO.ID – Karya sastra terkenal ‘Robohnya Surau Kami’ dari budayawan Ali Akbar Navis yang terbit pada 1956 merupakan refleksi dan otokritik tentang cara orang beragama.

Ceritanya soal tokoh kakek penjaga masjid yang sangat taat beribadah kepada Tuhannya sehingga ia tak menghiraukan lagi kehidupannya di akhirat.

Sampai akhirnya kakek mendengar cerita dari seorang tokoh bernama Ajo Sidi yang menghantam semangatnya yang tinggi dalam beribadah, dan dia pun bunuh diri.

Di seberang pulau dari mana cerita itu berasal, konon kabarnya ada juga semangat yang mampu merobohkan pagar tribun stadion internasional di Jakarta Utara pada Minggu (24/7) malam.

Semangat dan gairah menonton sepakbola yang meningkat 100 kali lipat dari suporter klub Persija Jakarta, The Jakmania, merobohkan pagar tribun di sisi utara stadion yang baru resmi digunakan di waktu petang tersebut.

Tak ayal, semua fantasi seperti gembar-gembor soal keamanan stadion yang diungkapkan pengelola, PT Jakarta Propertindo Tbk, seolah sirna.

The Jakmania melalui Ketua Umum Dicky Sumarno seolah menyindir, katanya stadion yang dibangun untuk laga sepakbola internasional, kok tidak memikirkan fasilitas yang cukup aman untuk pemandu suporter alias “capo” saat menyanyikan lagu-lagu dukungan?

Lebih lanjut, Dicky pun membandingkan kondisi JIS dengan Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) yang sudah memiliki fasilitas keamanan lebih lengkap untuk keamanan suporter (penonton).

Menurut Dicky, peristiwa robohnya pagar berarti banyak hal yang harus disiapkan pengelola di Jakarta International Stadium (JIS). Kalau di SUGBK sudah ada fasilitas tambahan semi permanen ‘steger’ untuk dinaiki ‘capo’ dalam memandu suporter menyanyi dan segala macam. Kalau di JIS justru belum ada.

Jangankan membuat fasilitas itu ada, Jakpro sejak awal mendesain tribun memang khawatir dengan ketinggian pagar pembatas bisa mengganggu kenyamanan saat menonton pertandingan maupun konser musik.

Sehingga waktu 16 November 2021 itu dikemukakan bahwa pagar pembatas (barrier) di tribun tier 1 didesain tidak terlalu tinggi, sekitar 60-70 sentimeter atau setinggi paha orang dewasa.

Konsep pengelola dalam membangun JIS campur-aduk, buat sepak bola dan konser musik bisa, buat shalat dan ibadah juga bisa.

Selain itu JIS juga memiliki skala penonton yang berkelas-kelas, tidak setara. Yang membayar lebih banyak akan mendapatkan fasilitas lebih aman.

Evaluasi JIS

Sejumlah pihak mulai menyuarakan sejumlah kekurangan-kekurangan di dalam JIS. Tak terkecuali, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga memprotes sulitnya sinyal seluler di dalam bangunan.

Berbanding dengan di SUGBK, masih tersedia sinyal yang cukup kuat untuk mengirim gambar dari dalam. Sedangkan di dalam JIS, ponsel dengan sinyal 4G saja tidak kuat untuk membuka pesan yang dikirim lewat pesan WhatsApp.

Mohon maaf, untuk koreksi saja, stadion dengan skala Internasional seharusnya sudah difasilitasi dengan jaringan internet yang mumpuni, terutama untuk pengiriman berita pertandingan, dan lain-lain.

Selain itu, setiap akan menggelar hajatan akbar di JIS, perlu upaya yang keras dari lintas instansi guna memastikan kenyamanan berlalu lintas dan keamanan pengunjungnya karena lokasi stadion berada di tengah-tengah kota Jakarta Utara.

Meski sampai saat ini belum diketahui berapa anggaran yang dikeluarkan setiap kali digelar hajatan di JIS.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button