Megapolitan

PR Stunting dan Risiko Penurunan Kualitas SDM

Banyak yang belum memahami bahwa periode 1000 hari pertama kehidupan, yakni 9 bulan masa kehamilan dan dua tahun masa pertumbuhan anak, adalah masa yang sangat penting. Pada masa inilah terjadi perkembangan otak yang sangat pesat. Jika melewati periode ini, anak stunting akan sulit diperbaiki seperti dilansir Antara.

Stunting harus menjadi perhatian banyak pihak karena stunting tak hanya menyangkut tinggi-pendek tubuh seorang anak tapi juga berdampak besar pada perkembangan otak anak. Jika tak dilawan sejak awal, stunting akan mempengaruhi kemampuan anak belajar di sekolah dan bekerja saat dewasa nanti.

Faktanya anak-anak inilah yang 24 tahun mendatang akan menjadi populasi usia produktif. Alhasil, cita-cita Indonesia Emas 2045, di mana Indonesia akan memperoleh bonus demografi, bisa gagal jika kita tak segera melawan stunting sejak sekarang.

Berita Terkait

Di lain pihak, Anggota DPR RI Dapil Jabar VIII Ono Surono mengatakan, nasib bangsa di masa depan ada di tangan kaum muda. Karena itu, pendidikan dan sosialisasi pencegahan stunting amat penting bagi kaum muda.

Oleh karena itu, pendidikan gizi dan stunting merupakan kewajiban bagi anak-anak remaja calon pengantin agar mempersiapkan diri dengan asupan gizi seimbang dan pengetahuan terkait pola asuh.

Penanganan stunting yang masif juga diperlukan dengan berbagai intervensi yang inovatif. Salah satunya dengan membawa gagasan memanfaatkan bubuk daun kelor sebagai salah satu makanan tambahan super bagi balita dan kaum ibu.

Masyarakat di kawasan atau kantong-kantong rentan kasus stunting perlu untuk diedukasi untuk mulai menanam dan memanfaatkan kelor sebagai tanaman yang diketahui sebagai superfood dan bergizi sangat tinggi.

Bahkan badan kesehatan dunia WHO telah merekomendasikan bubuk daun kelor sebagai asupan super untuk mengatasi malnutrisi di seluruh dunia karena kandungan mikronutrisinya yang kaya.

Kelor juga tanaman yang mudah tumbuh di tanah Nusantara. Berdasarkan berbagai penelitian, bubuk daun kelor sudah terbukti mampu menyeimbangkan gizi di dalam tubuh manusia.

Di Flores Timur, misalnya, Bupati Antonius Hadjon, berhasil menurunkan angka stunting dari 40 persen hingga 20 persen dengan menjadikan bubuk daun kelor sebagai asupan tambahan di posyandu-posyandu seperti dilansir Antara.

Maka memang ke depan, intervensi yang inovatif dan masif menjadi salah satu kunci yang efektif untuk menuntaskan pekerjaan rumah mengatasi stunting yang menghantui generasi penerus bangsa ini.

Sebab dengan cara-cara inilah, Indonesia bisa menekan angka stunting sampai ke level serendah-rendahnya. (aro)

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button