Megapolitan

Proyek Lanjutan MRT Jakarta dan Sentuhan Sejarah

INDOPOSCO.ID – PT MRT Jakarta direkomendasikan untuk turut melibatkan tim ahli cagar budaya sebelum dimulainya konstruksi pembangunan MRT Fase 2A yang membentang dari Bundaran HI hingga Kota Tua.

Pelibatan tim ahli cagar budaya tersebut menandakan betapa jalur pembangunan MRT Fase 2A sepanjang 11,8 kilometer tersebut akan lebih menantang ketimbang pada Fase 1. Pada Fase 1, penggalian dan pembuatan terowongan tidak terlalu menemukan kesulitan berarti karena struktur perkotaan yang lebih modern dan tertata.

Sementara pada Fase 2A, konstruksi jalur tersebut akan melalui sejumlah bangunan yang dianggap sebagai cagar budaya sehingga harus dipreservasi. Ini diakui oleh Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda) William Sabandar.

Selain karena dilalui oleh bangunan bernilai historis tinggi, pengerjaan proyek yang berada di ring satu atau kawasan vital negara ini juga harus memperhatikan perbedaan kontur tanah, terutama di utara Jakarta yang dianggap lebih rentan terjadi penurunan muka tanah.

Oleh sebab itu, prinsip kehati-hatian dan penuh perhitungan dalam pengerjaan stasiun tidak boleh diabaikan agar tidak terjadi penurunan struktur bangunan, mengingat seluruh pembangunan stasiun dikerjakan di bawah tanah (underground).

“Kesulitan-kesulitan itu harus diperhitungkan, apalagi ketika masuk sepanjang jalur ke kota yang lebih sempit, kanan-kiri ada bangunan tua yang harus dikonservasi. Harus kita ‘protect’ agar jangan sampai terjadi hal tidak diinginkan, seperti penurunan bangunan,” jela William.

Setidaknya ada 10 lokasi bernilai historis tinggi yang akan dilewati pada rute fase 2A. Bangunan-bangunan tersebut adalah Tugu Jam Thamrin, Bundaran Bank Indonesia, Bank Indonesia Thamrin, Monumen Nasional (Monas), Museum Nasional, Menara BTN, Istana Presiden RI, Gedung Arsip Nasional, Gedung Candra Naya, serta Museum Bank Mandiri.

Dengan melibatkan para arkeolog dari universitas ternama, seperti Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung, MRT Jakarta berupaya merawat dan menjaga nilai sejarah lintasan cagar budaya selama pembangunan berlangsung.

Sebelum konstruksi dimulai, penggalian benda-benda bersejarah atau ekskavasi dilakukan selama dua bulan pada Agustus 2020 di kawasan Monas, Kebon Sirih hingga MH Thamrin. Sesuai perkiraan, artefak atau benda bersejarah ditemukan selama proses ekskavasi, mulai dari tulang sendi dan gigi bovidae (hewan pemamah biak, seperti kerbau, antelop, bison), fragmen keramik cina, fragmen keramik Eropa, peluru, botol tembikar, hingga koin Belanda. Temuan artefak tersebut diperkirakan berasal dari abad 18 sampai 20 Masehi.

Puluhan artefak itu ditemukan di 14 titik penggalian sepanjang kawasan konstruksi MRT Fase 2A, yakni bawah tanah Jalan MH. Thamrin dan sebagian Jalan Medan Merdeka Barat.

Ketua tim ekskavasi pembangunan Stasiun MRT Thamrin dan Monas, Cecep Eka Permana mengatakan, ragam artefak tersebut ditemukan dengan penggalian kedalaman 100–150 sentimeter. Mendekati dua meter, sudah tidak ditemukan lagi artefak.

Artefak 1930-an

Ragam artefak mulai dari tembikar, fragmen keramik hingga uang koin yang ditemukan pada proses ekskavasi menandakan bagaimana aktivitas perekonomian Batavia sekitar 1930-an berlangsung.

Sentuhan artefak dalam pembangunan MRT ini tentunya akan menjadi daya tarik tidak hanya bagi penumpang, tetapi juga wisatawan Ibu Kota.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button