Nasional

Kurikulum Merdeka Belajar, Ini Target Output 2045

INDOPOSCO.ID – Menyongsong era kampus merdeka belajar program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Trilogi Jakarta menyelenggarakan seminar dengan tema ‘Sarasehan Kurikulum Merdeka Belajar Menuju Pendidikan Merdeka’, Senin (31/5), secara virtual.

Kepala Program Studi PGSD Universitas Trilogi Jakarta sekaligus ketua panitia seminar Dr. Rudi Ritonga mengatakan, ini penting karena terkait arah dan orientasi pendidikan tinggi ke depan. Perubahan orientasi ini otomatis mempengaruhi kurikulum pendidikan tinggi.

“Tak bisa dimungkiri, perubahan ini juga dipengaruhi kemajuan informasi teknologi,” ujarnya

Rektor Universitas Trilogi, Prof. Dr. Mudrajad Kuncoro yang membuka seminar itu menekankan kesiapan penerapan merdeka belajar dan kampus merdeka (MBKN) di Universitas Trilogi. Pada seminar yang berlangsung secara daring ini menghadirkan peserta sebanyak 1.400 orang dari seluruh Indonesia.

Sesi pertama seminar ini dipandu Dr. Kabul Wahyu Utomo selaku Wakil Rektor Universitas Trilogi. Di sini, Prof. Dr. Ir. Arissetyanto Nugroho,M.M, Ketua Yayasan Pembangunan Pendidikan Indonesia Jakarta menjelaskan kampus merdeka itu adalah kampus mandiri, bebas berfikir untuk mencari kebenaran melalui tridharma perguruan tinggi.

“Konsep merdeka belajar di Universitas Trilogi diterapkan melalui teknososiopreneur untuk mendorong kemajuan pendidikan terpadu,” jelasnya.

Kemudian, Prof. Dr. Amilin, S.E.Ak., M.Si., CA., QIA., BKP., CRMP, Dekan FEB UIN Jakarta memaparkan implementasi MBKM dan pengalaman di UIN Jakarta. Dikatakannya, MBKM sejatinya diturunkan dari visi SDM unggul Indonesia berkarakter Pancasila.

“Ini mencakup berahlak mulia, mandiri, bernalar kritis, kreatif, gotong royong dan kebhinekaan global,” sebutnya.

Sedangkan pada sesi kedua dipandu oleh Rossi Iskandar. MPd, Dosen PGSD Universitas Trilogi. Dalam paparan sesi kedua ini, Prof. Dr. Komarudin Sahid, M.Si, Rektor Universitas Negeri Jakarta menekankan permasalahan implementasi MBKM pada semua kampus. Utamanya, kuliah di luar kampus 3 semester dengan jumlah 20 SKS.

“Paradigma pendidikan selama ini human resources development (HRD) dan human capacity development (HCD). Kebijakan MBKM muncul karena kurang diserap dunia usaha, maka lebih ke paradigma HRD,” jelasnya.

Kemudian, Dr. Gunas Mahdianto Kepala Bidang SD dan PKLK mewakili Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta menjelaskan, merdeka belajar ialah mengubah paradigma pembelajaran. Ada kebebasan sistem pembelajaran terbaik. Disesuaikan lingkungan sekolah dan peserta didik. Di sini, Dr. Gunas menyoroti aspek literasi dan numerik serta penilaian.

“Siswa harus mampu berpikir kritis dan lebih menggunakan kemampuan kognitif,” imbuhnya.

Paparan terakhir disampaikan Prof. Aris Djunaidi, mewakili Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim yang lebih menekankan kebijakan MBKM yang diturunkan dari visi SDM Indonesia 2045. Esensinya menjelaskan secara komprehensif dan holistik tentang bagaimana kebijakan dan implementasi kebijakan MBKM.

“Output-nya di tahun 2045 ialah memproduksi SDM (sumber daya manusia) unggul Indonesia maju yang berjiwa dan berkarakter Pancasilais,” pungkasnya. (arm)

Sponsored Content
Back to top button