Headline

KRI Nanggala-402 dan Tugas Operasi Militer

INDOPOSCO.ID – Kedalaman laut menjadi medan kerja jajaran Satuan (Sat) Kapal Selam Armada TNI AL dalam bertugas operasi militer. Tiada cakrawala dan embusan angin yang menyegarkan bisa mereka nikmati melainkan udara dari mesin pengondisi yang mereka hirup sepanjang hari.

Ruangan, tempat mereka hidup dan bekerja untuk operasi tempur dan perang juga sangat sempit dan banyak hal yang biasa dilakukan di lingkungan normal dilarang dilakukan dalam lambung kapal selam.

Selain kualifikasi yang tertentu, kualitas psikologi personel pengawak kapal-kapal selam TNI AL benar-benar menentukan kesanggupan mereka untuk mampu menyandang brevet Hiu pada Satuan Kapal Selam Armada TNI AL dengan moto Tabah Sampai Akhir ini. Mereka harus mampu berada dalam situasi sangat terbatas dan tekanan tinggi di lingkungan tertutup selama berpekan-pekan di bawah air.

Pada Rabu (21/4/2021), kabar mengejutkan datang dari Pulau Bali, berupa kabar hilang kontak KRI Nanggala-402 dalam misi latihan gabungan penembakan torpedo dan peluru kendali TNI AL. Disebutkan dalam kabar yang dikonfirmasi Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto itu bahwa lokasi kejadian yang diperkirakan adalah 60 mil laut utara Pulau Bali.

Itu adalah di utara Kabupaten Buleleng, yang menjadi salah satu perairan yang cukup ramai pelayarannya. Informasi menyebutkan bahwa lokasi itu tengah menjadi fokus perhatian kapal-kapal militer Indonesia (TNI AL) dengan sebab yang belum bisa diungkapkan kepada publik.

Pada masa lalu, Singaraja di Kabupaten Buleleng menjadi ibu kota Provinsi Bali sebelum dipindahkan ke Denpasar, dan sempat menjadi ibu kota Negara Indonesia Timur.

Sepanjang sejarah TNI dan TNI AL, kejadian-kejadian terkait dengan kapal selam TNI AL termasuk yang paling tidak diungkap kepada publik kecuali hal-hal yang sifatnya seremonial dan inovasi-inovasi yang sifatnya mendasar.

Kapal selam merupakan salah satu arsenal militer suatu negara yang kehadirannya sangat diperhitungkan di kawasan. Karakter dasarnya yang menyelam di kedalaman dan sangat sulit dideteksi lokasinya serta kerahasiaan pada sistem kesenjataan serta misi yang sedang dijalankan, membuat semuanya menjadi serbarahasia.

Seolah mengentalkan kerahasiaan itu, seragam harian pengawal kapal selam TNI AL juga berwarna hitam dengan baret hitamnya. KRI Nanggala-402 dibuat galangan kapal Howaldt Deutsche Werke di Kiel, Jerman (Barat), pada tahun 1981 setelah kontrak efektif ditandatangani pada 1977.

Pada masa pemerintahan Orde Lama, Indonesia memiliki armada kapal selam yang disegani dalam jumlah cukup banyak, yaitu 12 unit dari kelas Whiskey buatan Uni Soviet yang beroperasi mulai 1959 hingga 1962. Mereka turut dikerahkan dalam Operasi Trikora yang berujung pada kembalinya Irian Barat kepada Indonesia.

Dalam pelayaran KRI Dewaruci pada 2003 pernah melewati dermaga HDW ini di ujung Terusan Kiel menuju Rostock dari Hamburg.

KRI Nanggala-402 memiliki “saudara kembar”, KRI Cakra-401, yang sama-sama dari Type 209/1300, tipe kapal selam buatan HDW Jerman yang cukup banyak populasi di seluruh dunia dan dibuat secara lisensi dan dikembangkan beberapa negara, di antaranya oleh Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering di Korea Selatan yang menjadi kelas Changbo-Go.

Kapal selam buatan Korea Selatan ini juga dibeli Indonesia dalam skema yang semula adalah enam unit. Indonesia juga membangun kapal selam Changbo-Go ini di dermaga PT PAL, Surabaya. Tiga dari kapal selam kelas Changbo-Go ini telah hadir di Tanah Air, yaitu KRI Nagapasa-403, KRI Ardadedali-404, dan KRI Alugoro-405.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button