Olahraga

Klaim Komunitas Bola Eropa, Guardiola Pelatih Terbaik

INDOPOSCO.ID – Final Liga Champions antara Manchester City dan Chelsea memang masih satu pekan lagi. Bahkan Man City masih harus menuntaskan pertandingan liga terakhinya Minggu (23/5/2021) malam ini. Tetapi itu semua bukan halangan untuk memproklamirkan Pep Guardiola sebagai manajer terbaik sepanjang masa, paling tidak untuk sebagian komunitas sepak bola Eropa.

Ketika manajer Manchester United Ole Gunnar Solksjaer menyebut Alex Ferguson manajer terbesar sepanjang masa, mantan rekannya Gary Neville menyanggahnya dengan mengatakan justru Guardiola yang lebih pantas menyandang predikat itu.

Dan memang, kecuali trofi Piala Dunia dan Piala Eropa yang sampai saat ini belum dia rengkuh karena tak pernah melatih timnas mana pun, Guardiola menakjubkan selama 12 tahun menukangi tiga tim superkuat Eropa yang tidak saja dominan dalam liga domestiknya, tapi juga menjadi aktor sangat penting dalam teater sepak bola Eropa. Selama 12 tahun itu juga Guadiola tak pernah tak mempersembahkan trofi kepada tim-tim yang dilatihnya.

Kementerangan resume Guardiola tak ada habisnya. 31 trofi sudah dia rengkuh; masing-masing 10 trofi untuk Manchester City, 14 trofi untuk Barcelona, dan tujuh trofi untuk Bayern Muenchen. Dia juga membantu pemain-pemainnya merengkuh penghargaan individual.

Semua anugerah itu memenuhi almari pialanya. Dan ini bukan karena keberuntungan atau memainkan sepak bola yang asal menang. Tidak, Guardiola bukan pelatih seperti itu. Ketika timnya harus menang, maka itu mesti dicapai dengan cara yang indah, yang merelasikan rencana, taktik, teknik, keterampilan, dan bakat.

Tak heran di mana pun dia berkiprah, entah Barcelona, Bayern maupun City, Guardiola selalu menghadiahkan permainan atraktif yang hampir tak pernah mengecewakan siapa pun yang menyaksikannya.

Filosofi sepakbolanya yang terasuki filosofi sepakbola menyerang total-football yang dikenalkan sang mentor Johan Cruff di Barcelona, membuat dia selalu bisa menghadirkan tim yang mengawinkan permainan atraktif dan hasil yang mengesankan. Menyaksikan pemain-pemain Man City beraksi seolah melihat kembali tiki-taka nan indah namun mematikan pada zaman keemasan Barcelona.

Pemain-pemainnya bukan sekadar pesepa kbola, karena mereka juga seniman-seniman lapangan hijau, yang dari dribel dan caranya menempatkan diri, sampai menendang dan mengumpan, bukan sekadar meneruskan, memotong atau memblok bola, tetapi mereka melakukannya dengan manuver-manuver cantik sehingga sungguh asyik untuk dilihat.

Bukan cuma itu. Kelihaian dan kecerdasan Guardiola dalam meracik tim dan mengelola skuad, membuat City konsisten sepanjang musim. Memang pernah terselip, tapi tak pernah berulang-ulang. Jangan harap pula mereka kalah karena bermain buruk, apalagi karena ditekan lawan.

Terakhir mereka melawan Brighton 19 Mei lalu. Memang kalah 2-3, tetapi itu terjadi karena mereka harus bermain dengan 10 pemain sejak menit ke-10 setelah Joao Cancelo diusir ke luar lapangan.

Kekuatan Transformatif

Guardiola jelas telah membuat City menjadi tim yang sulit sekali dikalahkan, yang bersama Manchester United baru menelan enam kekalahan, sekalipun masih di bawah tiga kekalahan yang diderita Liverpool saat menjuarai musim lalu.

Kini dia menjadi manajer kedua dalam lima liga besar Eropa yang mempersembahkan trofi juara liga paling banyak setelah Sir Alex Feguson yang sudah mempersembahkan 13 trofi. Guardiola sudah sembilan trofi atau satu trofi lebih banyak ketimbang Giovanni Trapattoni. Guardiola juga membuat City menjadi klub kelima paling berhasil di Liga Inggris.

Kombinasi tangan dingin dia dan limpahan uang yang tidak henti mengalir dari pemiliknya di Abu Dhabi, telah mentransformasi City sebagai kekuatan elite sepak bola Eropa.

Dalam setahun ini saja, ketika hampir semua klub mengencangkan ikat pinggang, City malah bisa berbelanja sebanyak 100 juta pound (Rp2 triliun) untuk mendatangkan dua bek. Satu bek, yakni Nathan Ake, gagal bersinar, tetapi satunya lagi, Ruben Dias, menjadi kunci sukses City musim ini.

Dias turut mentransformasi City dan dianggap rekrutan baru Liga Inggris yang paling berpengaruh sejak Virgil van Dijk mentransformasi wajah Liverpool.

Tetapi bukan cuma uang Abu Dhabi yang membuat itu semua terjadi. Kejeniusan Guardiola yang telah menyulap City seperti adanya sekarang adalah juga faktor amat penting. Dia tak saja pandai memilih pemain dan meracik tim, tetapi juga jenius dalam mengelola klub-klub kaya. Kejeniusan inilah yang dibeli Abu Dhabi.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button