Nusantara

Kesedihan Seorang Nenek Pedagang Uduk di Kota Serang yang Gagal Naik Haji

INDOPOSCO.ID – Waktu itu, suara adzan magrib menggema keras dari toa masjid. Sarwiyah (75) beranjak dari ruang tamunya menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. Seperti biasanya, rukun Islam kedua ditegakkan di kamar pribadinya.

Selepas itu, dia berjalan ke ruang tamu memperhatikan dua cucunya yang sedang makan malam sambil menonton televisi. Sesekali, matanya tertuju pada sebuah bingkai foto yang dipasang didinding ruang keluarga.

Mulutnya terbuka, tersenyum manis melihat foto cucu perempuannya menggunakan pakaian serba putih belajar manasik haji. Yang membuatnya tersenyum manis, karena sampul foto yang begambarkan Ka’bah.

Terlintas di benaknya, akan mencium Ka’bah tahun ini di Makah. Terlebih, dirinya sudah mendaftarkan dan melunasi segala keperluan untuk berangkat haji tahun ini.

Tetapi, suara televisi memalingkan pandangannya. Pasalnya, kabar diberita memberikan informasi adanya kemungkinan naik haji tahun 2021 batal dengan alasan situasi pandemi Covid-19.

Hatinya tertegun. Kakinya melangkah menuju lemari baju. Pakaian serba putih yang dibelinya dari toko dan masih terbungkus pelastik, dibukanya, dielus-elus dan dipeluk dengan erat.

Sambil duduk di kursi ruang tamu, kepalanya mengenadah ke langit-langit rumah. Sontak mulutnya kembali tersenyum dan memanjatkan doa pasrah yang terbaik kepada yang maha kuasa. Meskipun sudah dua kali gagal diberangkatkan.

Proses persyaratan untuk keberangkatan haji sudah dipenuhi. Bahkan sebelum bulan puasa tahun ini, Sarwiyah sudah latihan manasik haji. Waktu itu, pembimbing pelaksanaan haji memerintahkan dirinya untuk siap-siap jika dipanggil haji.

“Belum, cuma liat berita doang. Pembimbingnya H. Agus, belum ada pemberitahuan. Lagi manasik sebelum puasa tahun ini. Disuntik vaksin 2 kali di Piskesmas Walantaka,” katanya saat ditemui di rumahnya, Kamis (10/6/2021).

Warga Lingkungan Pesanggrahan, RT 07, RW 03, Kelurahan Pesanggrahan, Kecamatan Walantaka, Kota Serang, Banten mengaku tidak kecewa sama sekali jika gagal berangkat melaksanakan rukun Islam yang ke lima.

Meskipun herja keras menabung dari hasil jualan uduk, pecel dan ketupat secara keliling belum terbayar, pihaknya tetap berprasangka baik, pasti rencana yang kuasa yang paling baik.

Sejak belasan tahun ke belakang, Sarwiyah menyisihkan hasil jualannya untuk menabung. Sedikit-sedikit terkumpul dan di investasikan melalui arisan. Kemudian jika menang arisan, uangnya dibelikan emas untuk bayar berangkat haji.

Tahun 2012 tepatnya, emasnya itu terjual seharga Rp25 juta. Tidak berpikir panjang, dia langsung mendaftarkan haji di Kemenag Kota Serang. Lalu tahun ini, pihaknya sudah menyetorkan lagi Rp10 juta dan melunasi syarat administrasi haji.

“Daftar pertama Rp25 juta langsung, yang kedua Rp10 juta. Jadi jumlahnya Rp35 juta. Daftar 2012 itu DP, pelunasan tahun 2020,” tuturnya.

Ibu dari tiga anak ini tetap komitmen untuk berangkat haji. Bahkan, pihaknya tidak ingin mengambil uang yang telah disetorkan.

Hanya ada tiga doa yang ingin dipanjatkan di Makah, diberi kesehatan, umur panjang dan keselamtan bagi keluarganya. Harapan besarnya tidak banyak, hanya ingin diberi kesempatan untuk mengunjungi Ka’bah.

“Kalau jadi berangkat ke Ka’bah, mau ngedoa selamat, umur panjang, sehat terus. Kita mah nggak mau diambil (uang haji), pasrah kapan saja yang penting bisa berangkat. Ibu mah nggak apa-apa asal berangkat saja,” tuturnya. (son)

Sponsored Content
Back to top button