Gaya Hidup

Ini Sejarah Minggu Jadi Hari Libur

INDOPOSCO.ID – Hampir di seluruh belahan dunia, Sabtu malam atau yang akronim disebut malam Minggu, diidentikkan dengan rutinitas pacaran bagi pasangan kaula muda. Bahkan ada anggapan, seolah yang tidak memiliki pasangan atau jomblo tidak boleh keluar rumah.

Terlebih khusus di Indonesia, banyak sindiran untuk yang jomblo di hari minggu. Seperti orang yang tidak memiliki kekasih terasing pada malam itu. Meskipun tidak ada fatwa, malam minggu kerap dinarasikan haram bagi yang jomblo.

Tapi pada faktanya, hal itu tidak dibenarkan atau hanya mitos. Sebab dalam sejarah penyebutan malam minggu, hari itu diartikan untuk istirahat, menghilangkan penat usai bekerja para buruh sepekan di pabrik.

Dikutip dari Quora. Konon, dahulu berbagai negara menetapkan hari libur yang berbeda-beda setiap minggunya. Hingga pertengahan abad 20, negara-negara di Timur Tengah menetapkan Jumat dan Sabtu sebagai hari libur. Kemudian, sejumlah negara Afrika Utara yang menetapkan hari libur pada Kamis dan Jumat. Tapi seiring berkembangnya globalisasi, peraturan di bidang ekonomi dan ketenagakerjaan pun mengalami penyamarataan.

Kesepakatan hari libur kerja itu mngalir sesuai berkembangnya kemajuan ekonomi di negara. Misalnya pada tahun 1938, pemerintah Amerika mengeluarkan Undang-Undang (UU) Standar jam kerja buruh beserta liburnya. Dalam UU itu, mengamanatkan maksimal 40 jam kerja setiap minggu, serta menetapkan Sabtu dan Minggu sebagai hari libur bersama yang diterapkan secara nasional.

Seiring penetapan UU tersebut, perlahan saat Sabtu malam atau malam minggu, digunakan para buruh pabrik untuk melepas penat mereka dengan bersenang-senang bersama keluarga atau teman. Dampaknya industri hiburan seperti bar, bioskop, diskotik, dan lain-lain mulai berkembang.

Dampaknya, produktivitas para karyawan di Amerika berakibat pada meningkatnya kinerja karyawan. Pabrik-pabrik disana serta bagi perindustrian di Amerika mengalami peningkatan.

Melihat kemajuan industri di Amerika dengan penerapan jam kerja seperti itu, mulai dari 1940 – 1960, makin banyak negara mengadopsi akhir pekan Sabtu dan Minggu sebagai hari libur.

Termasuk di Indonesia, lepas dari penjajahan perusahaan VOC karena bangkrut pada 1799, Indonesia jatuh ke tangan Kerajaan Belanda pada 1800. Dikarenakan di Belanda hari libur adalah hari minggu, maka sistem itu diterapkan pula kepada wilayah Indonesia.

Indonesia mengadopsi sistem Belanda, yaitu libur di hari Minggu untuk pekerja & pelajar. Sementara untuk BUMN dan Swasta, diserahkan kepada kebijakan masing-masing lembaga dan perusahaan

Untuk tradisi malam mingguan di Indonesia sendiri, mulai menyebar luas dari kota sampai ke desa-desa tahun 1973.

Tidak dipungkiri, baik dari zaman kolonial maupun zaman orde lama, tradisi malam mingguan memang sudah ada. Tapi sifatnya tidak merata akibat pemerataan ekonomi belum optimal. Biasanya tradisi malam minggu hanya dilakukan di wilayah perkotaan oleh kalangan menengah ke atas.

Seiring waktu, malam Minggu bukan cuma dianggap sebagai momen yang tepat untuk melepas penat. Tapi juga untuk memadu kasih. Rutinitas padat di hari biasa, terkadang bisa menghindari bertatap muka dengan orang tercinta. Jadi, wajar saja jika malam Minggu adalah waktu yang pas untuk melepas kerinduan. Sehingga tidak heran, malam hari adalah waktu yang paling romantis buat pacaran. (son)

Sponsored Content
Back to top button