Gaya Hidup

Ini Penyebab dan Solusi Konstipasi Anak

INDOPOSCO.ID – Sembelit alias konstipasi juga terjadi pada anak-anak, ada yang disebabkan kelainan organ, ada punya yang disebabkan oleh masalah pada organ, kata pakar kesehatan anak Prof. Dr. Hanifah Oswari, Sp.A (K). Guru Besar Tetap Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mengatakan, 95 persen kasus konstipasi disebabkan fungsi organ bermasalah, sisanya disebabkan oleh kelainan organ.

Dia menjelaskan empat gejala konstipasi yang bisa dialami bayi atau anak. Pertama, frekuensi buang air besar dua kali dalam seminggu, atau kurang dari itu.

“Apabila satu hari BAB, besoknya tidak, lalu besoknya BAB, itu masih normal,” kata Hanifah seperti dilansir Antara dalam diskusi daring Tentang Anak, Sabtu (6/3/2021).

Gejala kedua adalah feses keras dan rasa sakit ketika buang air besar, lalu cepirit satu kali dalam seminggu. Tanda lainnya adalah ada tanda-tanda anak menahan buang air besar, seperti feses terlalu besar sampai menyumbat WC karena anak sudah lama tidak mengeluarkan kotoran.

Dokter bisa memastikan gejala lainnya dengan memasukkan jari ke dalam dubur, anak bisa disebut konstipasi bila feses terasa besar dan keras.

Anak disebut mengalami konstipasi bila mengalami minimal dua gejala tersebut.

Hanifah mengatakan, dalam sepekan anak minimal harus buang air besar sebanyak tiga kali. “Kalau BAB 2 kali seminggu itu dikatakan konstipasi secara frekuensi.”

Pada bayi yang masih menyusui, frekuensi buang air besar yang sering dan tidak teratur yang jarang belum tentu konstipasi. Saat baru lahir dan mendapat ASI, bayi belum punya banyak enzim laktase di dalam ususnya. Padahal, ASI yang tinggi laktosa butuh enzim laktase agar bisa dicerna dan diserap tubuh.

“Karena enzim laktase pada bayi baru lahir itu kurang, jadi dia tidak bisa melakukan metabolism laktosa, akibatnya BAB-nya jadi sering, sehari bisa sepuluh kali, tapi dalam perkembangan bayi, bayi itu bertumbuh. Dia jadi mempunyai enzim laktasenya lebih banyak, bahkan kemudian bisa 2-3 hari tidak BAB, kadang bisa seminggu, bahkan sepuluh hari. Selama BAB nya tidak keras, itu bukan konstipasi.”

Konstipasi fungsional diduga diakibatkan rasa takut bayi atau anak yang trauma ketika merasa nyeri saat buang air besar akibat feses keras dan besar sehingga anusnya sakit. Rasa takut membuatnya menahan rasa ingin buang air, akhirnya feses menumpuk hingga terlalu banyak dan memicu rasa sakit berulang.

Kapan konstipasi terjadi?

Dia menjelaskan tiga waktu terjadinya konstipasi yang harus diwaspadai orangtua. Pertama, saat anak mulai mengonsumsi makanan pendamping ASI, juga perubahan dari susu formula ke susu UHT di mana ada perubahan pola makanan cari ke makanan padat. Perubahan itu membuat kotorannya jadi keras, lalu anak akan merasa sakit ketika buang air besar.

Kedua, ketika anak belum siap berlatih buang air di tempatnya. Ketika orangtua mengajari anak untuk buang air sendiri di toilet, bukan di popok, anak yang belum siap akan menahan sehingga feses jadi keras, kemudian justru jadi takut karena merasa sakit.

Latihan buang air di WC biasanya mulai dilakukan ketika anak berusia 1-3 tahun. Ia mengingatkan kepada orangtua untuk tidak memaksa anak agar tidak terjadi trauma. Pertanda anak sudah bisa diajari toilet training adalah bisa menaikkan dan menurunkan celana sendiri dan tertarik untuk ke toilet.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button