Headline

Vaksin Merah Putih Awali Langkah Besar RI di Industri Farmasi

“Syarat subjek tak boleh sudah divaksin, sementara cakupan vaksinasi di Jawa Timur relatif sudah tinggi. Idealnya pergi ke tempat yang cakupan vaksinasinya rendah,” katanya.

Tim pun harus memetakan berbagai kawasan dengan cakupan vaksinasi yang rendah hingga ke pelosok Jawa Timur. “Menemukan subjek hal yang berat. Tapi setelah dua tahun pandemi, biasanya cakupan rendah adalah orang yang menolak divaksin,” katanya.

Lalu, tim memperoleh informasi dari pemerintah setempat bahwa sebenarnya ada sekitar 2 juta lebih rakyat Jatim belum menerima vaksin. Umumnya tersebar di daerah tingkat II. “Mereka kelompok yang tidak mau divaksin, lokasinya jauh dari daratan,” katanya.

Upaya untuk membujuk subjek pun bukan perkara mudah. Tapi dengan bantuan dari kepala daerah, kolega di dinas kesehatan, Puskesmas, serta orang yang bersimpati dengan kegiatan penelitian vaksin, tim pun berhasil mengumpulkan 4.005 subjek.

Di fase 3 kali ini, katanya, penelitian subjek vaksin dilakukan di RS Soetomo, RS Universitas Airlangga Surabaya, RS Saiful Anwar Malang, RS Dr Soebandi Jember, dan RS Paru di Jember. Penelitian itu mengharuskan subjek mendatangi laboratorium penelitian. Kalau dari kota lain di sekitar Surabaya, mereka memperoleh pengganti transport.

“Pada sebagian orang transportasi kami urus, mereka dijemput. Tapi tidak 100 persen, karena ada yang datang atas kesadaran sendiri. Kendaraan dari Universitas Airlangga juga bisa digunakan,” katanya.

Uji klinik fase 2 sekaligus menandai tahapan akhir penelitian Vaksin Merah Putih. Jika seluruh laporan dinilai baik oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), maka Izin Edar Darurat (EUA) Vaksin Merah Putih akan diterbitkan pada September atau Desember 2022, demikian Dominic Husada. (wib)

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button