Headline

Mengintip Kesuksesan Lagi Real Madrid dan Implikasinya

Pelatih yang kini sudah empat kali menjuarai Liga Champions itu lebih menyerupai pecatur yang sedang memainkan buah catur, ketimbang pelatih yang mengomandoi tim di pinggir lapangan.

Kini dia mengubah Real sebagai tim yang menjadi ancaman untuk lawan yang konstan menekan lawan seperti Liverpool.

Tekanan tiada henti The Reds berulangkali diganggu pemain-pemain Real. Tak sekadar menekan, Madrid ini juga terus mencari, mendapatkan dan lalu mengeksploitasi titik lemah The Reds yang Minggu dini hari tadi itu terletak di sayap kanan pertahanannya yang diisi Trent Alexander-Arnold.

Bek kanan timnas Inggris itu rajin membantu serangan tapi sering terlambat membantu pertahanan. Dan ini dimanfaatkan Real dengan cara mengadunya dengan pemain sayap Vinicius Jr yang cekatan, cepat, bertenaga, terampil mendribel bola dan klinis.

Dari titik ini pula gol Real tercipta. Alexander-Arnold luput mengawal pemain Brazil berusia 21 tahun itu karena The Reds memang tak terbiasa mengawal pemain lawan. Mereka hanya perlu berada di tempat tepat pada saat yang tepat seperti sering diperlihatkan Virgil van Dijk.

Liverpool hampir selalu berhasil dengan pendekatan ini, tetapi bekal ini belum cukup menghentikan pemain-pemain liar bermanuver seperti Vinicius, dan juga rekannya Federico Valverde di sayap kanan yang membuat bek kiri Andy Robertson sering terteror. Mungkin hanya Benzema yang mendapatkan perhatian lebih dari Liverpool.

Tetapi pertarungan di lapangan tengah juga seru karena para gelandang Madrid berani mengganggu tekanan Liverpool dari tengah, sementara lini pertahanan mereka aktif menutup Sadio Mane dan Mohamed Salah walau tak begitu efektif, namun cukup berhasil mematikan Luis Diaz.

Di atas itu semua, adalah kiper Thibaut Courtois yang luar biasa sigap yang menjadi faktor terbesar di balik kegagalan Liverpool dalam merengkuh trofi juara Eropa ketujuhnya.

Tetapi pemain-pemain hebat tersebut tak mungkin tampil setangguh itu kalau tidak dipoles oleh pelatih yang jeli mengenali timnya dan sekaligus dalam-dalam mempelajari kekuatan serta kelemahan lawan yang nyaris sempurna seperti Liverpool sekalipun.

Ancelotti sendiri tahu pasti apa yang dia bisa harapkan dari pemainnya. Tapi dia juga tahu koneksi tradisi juara dengan tekad kuat pemainnya dalam memenangkan pertandingan.

17 kali mencapai final, dan 14 kali memenanginnya membuktikan tidak saja skuad dan pelatih yang hebat yang diperlukan untuk memenangkan turnamen seperti Liga Champions. Karena itu juga membutuhkan tradisi dan mentalitas juara yang belum dipunyai Man City dan PSG yang sudah mengeluarkan dana luar biasa besar untuk membentuk tim yang bisa menjuarai Liga Champions.

Madrid menunjukkan sukses tak saja soal uang, pelatih yang kreatif, pemain yang cemerlang, tetapi juga mentalitas juara yang tak lekang oleh waktu dan tak pupus oleh keluar masuknya pelatih-pelatih beragam pendekatan.

Di sisi lain, Ancelotti juga bisa menjadi referensi dalam bagaimana sebaiknya memasang strategi ketika menghadapi tim-tim yang tak henti menyerang dan menekan seperti Liverpool.

Tapi bukan dengan cara menumpuk pemain di belakang, melainkan dengan meredam kekuatan mereka, mencari celah kelemahannya, dan tak lupa mengenali dengan baik timnya sendiri.

Ketika semua itu didapatkan, maka tinggal dimuntahkan kembali menjadi tekanan balik yang membuat lawan takluk, sekecil apa pun tekanan itu, dan sesingkat apa pun waktu dibutuhkan untuk membuat tekanan balik itu seperti dilansir Antara.

Ancelotti dan Madrid menawarkan perspektif lain bagaimana sepakbola didekati, tanpa tak terlalu khawatir dikritik karena memainkan sepakbola yang tidak seatraktif Liverpool, Manchester City atau Barcelona.

Lagi pula, bersama pemain-pemain seperti Benzema, Vinicius Junior, Valverde, dan Courtois, sebuah tim serangan balik tetap menarik untuk disaksikan dan bisa membuat kompetisi makin dramatis nan menghibur. (aro)

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button