Headline

Turki Tertarik Beli Vaksin Nusantara

Nidom menilai vaksin Nusantara merupakan potensi bagi Indonesia untuk dijadikan aspek ekonomi berkat inovasi baru dalam teknologi kesehatan dari sebuah vaksin yang sudah berumur 300 tahun itu.

Berdasarkan pengamatan aspek sains, pada uji klinik tahap 1 serta 2 pada para relawan, tidak ditemukan masalah, bahkan para relawan merasa lebih nyaman usai penyuntikan vaksin Nusantara.

“Perbedaannya, vaksin Nusantara karena sel dendritik itu tidak terjadi inflamasi, sementara vaksin yang konvensional ini akan terjadi inflamasi,” tuturnya.

Inflamasi yang dimaksud adalah kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI) yang kerap dialami peserta vaksinasi Covid-19 seperti reaksi demam, kepala pusing, bengkak, bercak kemerahan serta sebagainya usai seseorang menerima suntikan vaksin konvensional.

“Vaksin konvensional yang saya maksud adalah yang berbasis inactivated virus (virus yang dimatikan) ataupun platform mRNA. Teknologi memasukkan sesuatu ke dalam tubuh seseorang dengan bahan asing itu merupakan konvensional,” tuturnya.

Sedangkan sel dendritik pada vaksin Nusantara, tutur Nidom, diterapkan dengan cara mengeluarkan mesin di dalam tubuh untuk diolah di luar tubuh, kemudian setelah aktif dimasukkan kembali ke dalam tubuh penerima manfaat.” Ini kan teknologi baru,” tuturnya. (mg2)

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button