Gaya Hidup

Ini Tips Menjadikan Jangkrik sebagai Sumber Pangan Kaya Protein

Walau begitu, pada kenyataannya, menurut Thanthitiwat, kebanyakan masyarakat di berbagai belahan dunia masih belum bisa menerima serangga sebagai salah satu pilihan bahan pangan sumber alternatif. Penelitian menunjukkan, orang-orang di negara-negara Barat tidak sepenuhnya nyaman memakan serangga karena mereka cenderung memandang serangga sebagai sesuatu yang najis atau berpotensi berbahaya,

Namun, seiring waktu lebih banyak orang mulai menerima konsumsi jangkrik, karena perusahaan makanan menciptakan produk berbasis jangkrik dengan bentuk dan kemasan yang lebih menarik seperti bubuk dan protein bar.

“Semua orang takut (mencicipi jangkrik) tetapi bila Anda membuka pikiran dan paham ini sangat terkait dengan konsep keberlanjutan, hanya membutuhkan sedikit sumber daya untuk membuat 1 kg jangkrik, buka hatimu dan cobalah,” kata dia.

Walau begitu, mencoba langsung jangkrik dalam wujud aslinya, mungkin bukan ide buruk. Bela (bukan nama sebenarnya), seorang jurnalis dari Jakarta, Indonesia termasuk salah satu sosok yang akhirnya memberanikan diri mencicipi hidangan jangkrik. Dalam percobaan kali pertama, dia bahkan menyantap langsung jangkrik dalam wujud aslinya.

“Ini kali pertama saya mencoba, rasanya mirip seperti ikan teri. Renyah, saya suka,” ujar dia yang akhirnya membawa pulang hidangan jangkrik yang telah dibumbui rasa barbekyu.

Orang-orang dengan riwayat alergi terhadap jenis kerang-kerangan dan tungau debu perlu waspada bila ingin mengonsumsi jangkrik. Tetapi, penelitian di bidang ini masih kurang, dan para ilmuwan masih perlu melakukan lebih banyak studi untuk memahami sepenuhnya potensi reaksi alergi terkait konsumsi serangga. Beberapa peneliti mengingatkan, serangga seperti jangkrik dapat bertindak sebagai pembawa patogen yang dapat menginfeksi manusia dan hewan.

Berbicara harga produk berbasis jangkrik saat ini, Thanthitiwat menuturkan produk jangkrik dalam bentuk bubuk dibanderol 1300 Baht atau setara Rp555.190 per kg dan 250 baht atau 106.767 per 100 gram. Produk sudah tersedia dan bisa dipesan melalui internet.

Lalu, apakah ini akan tersedia di Indonesia dengan mayoritas penduduk muslim? Thanthitiwat mengatakan, sudah ada pembicaraan terkait ini dengan Duta Besar Indonesia untuk Bangkok. Menurut dia, produk ini halal bagi muslim.

“Duta Besar Indonesia sudah mengunjungi kami sebelum pandemi COVID-19 dan beliau berencana datang lagi dengan pebisnis asal Indonesia tahun ini, mungkin bulan depan dan beliau akan kembali ke negaranya, mencoba menyakinkan masyarakat Indonesia tentang konsumsi serangga, mungkin membawa jangkrik dari pulau Jawa,” demikian kata dia. (mg2)

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button