Gaya Hidup

Kura-Kura Berjenggut di Negeri Rempah

“Manusia yang ingin memanfaatkan kelezatan serta manfaat biji neraka, mendapat tantangan keras dari kura-kura berjanggut yang menurutnya kegiatan itu akan membuat bumi berhenti berputar,” ucapnya dilansir Antara.

Sementara itu, Kurator Festival Bumi Rempah Nusantara Rama Soeprapto menjelaskan alur cerita film ini menuju ke abad 17 di Lamuri, Aceh, yaitu sebuah kesultanan yang terletak di kerongkongan Selat Malaka.

“Saat itu keadaannya baru saja babak belur dihajar banjir besar. Penyakit serta kelaparan adalah 2 imbas yang harus ditangani Sultan Nuruddin atau Anak Haram, penguasa negeri itu,” tutur Soeprapto.

Dalam kisahnya, lanjut Soeprapto, negeri itu sangat miskin dan sedang dikucilkan akibat perebutan kekuasaan beberapa tahun sebelumnya. Satu-satunya yang bisa diandalkan adalah merica. Konon, merica terbaik di dunia tumbuh di Lamuri, Aceh.

Tetapi, karena larangan serta blokade dagang merica- merica itu telah lama membusuk di gudang. Pada saat banjir besar, pedagang hantu menggunakan kesempatan ini untuk membeli langsung rempah- rempah di gudang anak haram.

Belakangan dengan uang yang didapat dari Pedagang Hantu serta harga merica yang menjulang di pasar dunia. Anak Haram ingin menguasai sendiri jalur perdagangan rempah. Hasratnya makin besar bersamaan dengan datangnya Ernem Misal, seorang duta besar Usmani.

“Jadi film ini menceritakan dan memperlihatkan unsur-unsur ke-Acehan, sesuatu yang tidak pernah terdengar dan terlihat lagi,” demikian Soeprapto. (mg2)

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button