Gaya Hidup

Perhatikan ini Sebelum Kunjungi Dokter Gigi

Imbauan ini dikeluarkan salah satunya seiring peningkatan kasus Covid-19 yang semakin tinggi di Indonesia. Data dari laman covid19.go.id, terjadi penambahan sekitar 40.427 kasus baru pada Selasa pukl 12.05 WIB dengan total kasus menjadi 2.567.630. Dari angka ini, pasien sembuh mencapai 2.119.478 orang.

Di sisi lain, PDGI mencatat pada 5 Februari 2021 sebanyak 396 dokter gigi yang terpapar Covid-19 dengan rincian dari puskesmas 199 orang, rumah sakit 92 orang, klinik 36 orang, praktek mandiri 35 orang, dan institusi pendidikan atau fakultas kedokteran gigi 13 orang. Dari jumlah ini, sebanyak 39 orang di antaranya meninggal dunia.

Risiko penularan Covid-19 di klinik gigi

Berita Terkait

Virus SARS- CoV-2 diketahui menyebar melalui tetesan pernapasan dan prosedur gigi diketahui menghasilkan banyak aerosol sehingga menyebabkan kekhawatiran air liur yang keluar selama pembersihan atau prosedur restoratif dapat membuat ruang praktik dokter gigi menjadi lokasi transmisi tinggi virus penyebab Covid-19 itu.

Mengomentari hal ini, peneliti dari Ohio State University melalui studi yang dipublikasikan dalam Journal of Dental Research pada 12 Mei 2021 menemukan, bukannya air liur tetapi larutan encer alat irigasi yang menjadi sumber utama bakteri atau virus dalam percikan dan semburan dari mulut pasien.

Bahkan ketika tingkat rendah virus SARS- CoV-2 terdeteksi dalam air liur pasien tanpa gejala, aerosol yang dihasilkan selama prosedur tindakan pada gigi tidak menunjukkan tanda- tanda virus corona.

“Membersihkan gigi tidak meningkatkan risiko infeksi Covid-19,” kata peneliti sekaligus profesor periodontologi di Ohio State, Purnima Kumar seperti dikutip dari Science Daily.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan, aerosol dari prosedur gigi cenderung mendarat di wajah dokter dan dada pasien dengan jarak jangkau bisa sampai sejauh 11 kaki atau 3,3 meter.

Air liur sempat dikatakan berpotensi mematikan pada awal pandemi Covid-19. Untuk itu, Kumar dan tim memutuskan melakukan studi melibatkan 28 pasien yang menerima implan gigi dan restorasi di Ohio States College of Dentistry pada 4 Mei dan 10 Juli 2020.

Para peneliti mengumpulkan sampel air liur dan larutan pembersih yang digunakan untuk membilas mulut saat sebelum serta 30 menit setelah prosedur.

Mereka menemukan, mikroba dalam larutan pembersih gigi (irigasi) berkontribusi sekitar 78 persen di dalam aerosol sementara air liur, bila ada, menyumbang 0,1- 1,2 persen dari mikroba yang didistribusikan di sekitar ruangan.

“Larutan irigasi mengencerkan air liur dengan perkiraan 20- 200 kali lipat, dan penelitian ini divalidasi oleh studi tahun 2020 yang melaporkan kurang dari 1 persen tingkat positif Covid-19 di kalangan dokter gigi,” kata Kumar.

Dokter gigi berada di garis depan praktik pengendalian infeksi dalam perawatan kesehatan. Selama pandemi, protokol baru diterapkan para dokter di ruang praktik termasuk sistem ventilasi ruangan yang diperkuat, peralatan penyedot aerosol ekstra, masker N95 dan pelindung wajah dan perpanjangan waktu henti antar pasien.

Mereka ini tentu tidak merasa aman karena dikelilingi aerosol. Temuan studi ini bisa menenangkan mereka saat melakukan prosedur.

“Namun, kita tidak boleh melupakan fakta virus ini menyebar melalui aerosol, dan berbicara, batuk atau bersin di klinik gigi masih dapat membawa risiko penularan penyakit yang tinggi,” demikian pesan Kumar. (mg3)

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button