Gaya Hidup

Penderita Covid-19 dan Pembekuan Darah

Pembekuan ini berbeda dengan istilah kekentalan darah yang sebagian orang anggap bisa diatasi dengan meminum banyak air agar darah menjadi lebih encer. Pada kondisi darah mengental misalnya saat seseorang dehidrasi maka viskositas atau kekentalan dan osmolalitas –keseimbangan cairan dan garam tubuh–nya meningkat dan terjadi hemokonsentrasi.

Mudahnya, disebut darah mengental dan ini berbeda dengan darah menggumpal atau adanya bekuan darah seperti pada kasus Covid-19.

Dalam pengobatan, pasien Covid-19 yang menjalani perawatan di rumah sakit biasanya juga diinfus cairan saline NaCL 0.9 persen kecuali apabila dia mengalami kondisi lain. Komposisi cairan ini sama seperti pada tubuh sehingga mencukupi kebutuhan walaupun pasien lupa minum air.

Berita Terkait

“Sekali lagi itulah fungsinya ada cairan infus diberikan agar mencukupi kebutuhan cairan harian apalagi kalau lupa minum selama diopname,” ujar Vito.

Vito menyayangkan ada pendapat di masyarakat yang menyebut pengobatan Covid-19 hanya cukup dengan banyak minum air bukannya dengan cara yang selama ini dilakukan para dokter.

Pendapat ini bersumber dari seorang pria melalui video yang beredar beberapa waktu lalu. Dia mempertanyakan alasan rumah sakit tidak mewajibkan pasien Covid-19 minum air. Sang pria lalu mengklaim penelitian menunjukkan pasien Covid-19 mengalami pengentalan darah sehingga diberi obat heparin dan aspirin. Padahal seharusnya pasien ini diberi minum air hangat.

Vito menegaskan pendapat pria ini salah. Pengobatan standar sudah merujuk pada panduan pengobatan pasien Covid-19 yang diberikan Kementerian Kesehatan berdasarkan rekomendasi resmi para dokter termasuk spesialis paru, jantung dan pembuluh darah, penyakit dalam, spesialis anak dan anestesi.

Jadi, berdasarkan paparan yang diungkapkan pada paragraf-paragraf di atas, pembekuan darah pada kasus Covid-19 memang dapat mengakibatkan pembekuan darah vena yang fatal dan tidak bisa diobati dengan minum air yang banyak.

Di sisi lain, dia mengingatkan aktifnya pembekuan darah selain karena virus penyebab COVID-19 juga bisa diperparah kebiasaan sedenter atau tak aktif semisal rebahan. Selain itu, waspadai kondisi obesitas. Pada mereka yang mengalami obesitas, di dalam tubuhnya terjadi peradangan kronik yang meningkatkan risiko terjadinya pembekuan darah.

Vito menambahkan, kalau orangnya banyak rebahan, menyebabkan pembekuan darah semakin tinggi. Bahkan pada kasus bukan Covid-19, kebiasaan ini bisa menyebabkan pembekuan darah vena. (aro)

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button