Ekonomi

Minyak Turun Karena Data Permintaan China Lesu

“Penguatan dolar lebih lanjut akan membebani nilai WTI dengan uji penurunan kami perkirakan di 79,50 dolar AS kemungkinan pada akhir minggu,” kata Jim Ritterbusch dari Ritterbusch and Associates.

Harga minyak kembali menguat setelah data yang menunjukkan aktivitas bisnis AS mengalami kontraksi selama empat bulan berturut-turut pada Oktober, dengan produsen dan perusahaan jasa dalam survei bulanan terhadap manajer pembelian melaporkan permintaan klien yang lebih lemah.

S&P Global mengatakan Indeks Output PMI (Indeks Manajer Pembelian) komposit AS, yang melacak sektor manufaktur dan jasa, turun menjadi 47,3 bulan ini dari pembacaan akhir 49,5 pada September.

Pelemahan itu dapat menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga Federal Reserve AS untuk melawan inflasi telah berhasil dan dapat membujuknya untuk memperlambat kebijakan kenaikan suku bunganya, sinyal positif untuk permintaan bahan bakar, kata Phil Flynn, seorang analis di grup Price Futures.

“Penurunan angka PMI adalah tanda bahwa ekonomi mungkin sedikit melambat, yang menghasilkan bullish,” kata Flynn, seperti dikutip Antara, Selasa (25/10/2022).

Brent naik pekan lalu meskipun Presiden AS Joe Biden mengumumkan penjualan sisa 15 juta barel minyak dari Cadangan Minyak Strategis, bagian dari rekor pelepasan 180 juta barel yang dimulai pada Mei.

Biden menambahkan bahwa tujuannya adalah untuk mengisi kembali stok ketika minyak mentah AS berada di sekitar 70 dolar AS per barel.

Tapi Goldman Sachs mengatakan rilis stok tersebut mungkin berdampak besar pada harga. “Rilis seperti itu kemungkinan hanya memiliki pengaruh kecil (kurang dari 5 dolar AS per barel) pada harga minyak”, kata bank tersebut dalam sebuah catatan. (mg2)

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button