Ekonomi

TOP Digital Awards 2021: Xynexis Ingin Membangun Keamanan Digital Indonesia End to End

Xynexis menurut Eva Noor, tidak melulu berpikir hanya ruang lingkup orientasi di bisnisnya saja. Xynexis juga berpikir bagaimana eksis dalam bidang sosial di ranah komunitas IT.

Born to Protect adalah salah satu program yang bersifat sosial yang bertujuan mencari anak anak muda dikampus kampus seluruh Indonesia, yang fokus dibidang IT dan diperkenalkan pada dunia industri serta dipersiapkan menjadi tenaga handal diperusahaan perusahaan yang membutuhkan bekerja sama dengan Kominfo, BSSN dan Universitas.

Selain program Born to Protect, Xynexis juga terlibat membangun Indonesia Women Cyber Security  (IWCS) yang bertujuan membangun calon calon pemimpin perempuan di area kemanan digital.

“Dua program sosial non profit itu adalah bagian di mana Xynexis ingin terus memberi kontribusi pada masyarakat untuk memajukan generasi muda dan perempuan Indonesia bisa berperan pada dunia digital yang makin pesat perkembangannya,” ujar Eva.

Visi Xynexis, seperti dikatakan Eva adalah ingin menjadi pemain yang dominan, khusus untuk cyber security. Hal ini penting, karena menurut Eva saat ini banyak sekali perusahaan yang sudah diretas, bocornya data data pribadi ke mana-mana, bahkan sudah diperjualbelikan.

“Kenapa kita ingin jadi yang dominan di cyber security ini untuk di Indonesia. Karena menurut kita harus perusahaan Indonesia yang menjadi dominan di negaranya. Jangan perusahaan asing yang masuk ke Indonesia dengan metodologinya dan lain-lain, terus kita hanya jadi pasar,” jelas Eva.

Keamanan informasi dan siber menurut Eva adalah ranah yang sangat penting, karena itulah kedaulatannya harus ada di Indonesia. ”Makanya Xynexis itu adalah 100 persen perusahaan Indonesia, dimiliki oleh orang Indonesia, menggunakan talent-talent orang Indonesia, dan ingin menjadi dominan di Indonesia. Itu adalah visi kita,” sambungnya.

Sejalan dengan visi yang ingin dicapai, Xynexis memiliki misi untuk melindungi konsumen Indonesia, baik (konsumen) bisnis, maupun pemerintah dari ancaman siber melalui cara (tools), prosedur, atau talent yang dikembangkan oleh perusahaan.

Eva menegaskan pentingnya memproteksi konsumen dengan tools, prosedur, dan talent dari negara sendiri. Dalam hal ini, Eva mengambil contoh Rusia, negara ini disebut telah membangun sendiri, mulai dari tools-nya, teknologinya, prosesnya dan orang-orangnya betul-betul (telah) dibangun.

“Sehingga kalau kita coba analogikan ke pandemi (Covid-19). Pandemi ini kan kita dihadapkan dengan virus yang kita tidak tahu sebelumnya. Nah, bayangkan kalau virus Covid ini adalah yang terjadi di (ranah) siber. Apa yang terjadi? Yang terjadi adalah kita kurang dokter, kalau di cyber itu kita kurang ahlinya, terus kita kurang perawat kalau di kesehatan. Nah, kalau di cyber itu kita kurang talent, siapa yang mau (menangani) kalau misalnya terjadi cyber attack, siapa yang akan mempertahankan kedaulatan kita. Kita belajar dari Covid-19 ini, bahwa di ranah siber itu kita harus mulai memikirkan hal seperti ini,” ucap Eva.(ibs)

 

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button