Ekonomi

Bisnis Sektor Wisata Masih Paling Terdampak

“Kalau untuk permintaan lokal sebenarnya tetap ada. Yang memperparah ini ekspor yang belum bisa. Sementara selama ini kan kualitas ekspor kita itu lumayan tinggi,” terang Septi Ariyani, CEO Rama Shinta, produsen Garam Spa, kesehatan dan kecantikan.

Bahkan di awal awal pandemi, Septi mengakui permintaan mengalami peningkatan untuk garam sinus congestion. Karena dengan menggunakan garam sebagai media yang ditambahkan ke air mandi, bisa membuang racun dari dalam tubuh. Garam laut memang mengandung mineral dosis tinggi yang dapat merevitalisasi sel sel kulit. Garam juga menghidrasi kulit dan melindungi dari kusam, memulihkan iritasi serta membantu regenerasi kulit. Sifat anti-inflamasi garam membuat kulit menjadi sejuk.

“Selain untuk mandi, garam kumur juga mengalami permintaan di awal awal pandemi. Tapi ke sekarang sudah biasa saja. Sementara untuk produk lainnya, yang menjadi reseller kita ya ada saja sih satu dua,” akunya.

Seperti melakukan ekspansi dari petambak garam dan melakukan diversifikasi usaha dengan memproduksi garam untuk kecantikan sejak sepuluh tahun terakhir. Septi mengelola 20 hektar lahan produksi garam. Pada 2019 Septi masih berhasil panen sekitar 80 ton per hektar dengan memiliki petani binaan 50 orang. Memasuki pandemi, dan cuaca yang tidak bersahabat di 2020 dan 2021, lahan yang dikelola mengalami penurunan drastis.

“Selain dihantam pandemi, produksi 2020 dan 2021 ini diperparah oleh cuaca kemarau basah di Cirebon. Di tengah produksi hujan datang. Per hektar hanya dapat 20 ton, turun lagi di 2021 per ha hanya 5-7 ton,” keluhnya.

Selain hasil produksi yang mengalami persoalan, harga garam pun dianggap cukup mengecewakan. “Tahun ujian lah. Gak produksi 50 petani gak makan, ketika produksi kita merugi. Kami jual garam sempat 350 perak, buat produksi saja gak nutut,” pungkasnya. (ney)

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button