Ekonomi

Target Pengembangan PLTS Perlu Ditetapkan secara Jelas

“Awal tahun ini kami mendirikan join venture dengan salah satu pengembang PLTS di India, kita sebutnya EMITS. EMITS sudah mengembangkan lebih 550 MW di India, mayoritas kepemilikan dipegang TPG,” ungkap Azis.

Menurut Azis, target komitmen net zero emission akan dicapai Indika melalui perubahan portfolio, dan melakukan dekarbonisasi di anak usaha yang akan berkontribusi ke net zero emission.

“Kami sudah diskusikan bahwa potensi PLTS sangat besar karena PLTS akan mempunyai suatu ekosistem tertentu. Kami ingin menjadi bagian dari ekosistem solar PV di Indonesia, baik melalui anak usaha EMITS dan lainnya,” kata dia.

Norman mengungkapkan PPI yang juga Subholding Pertamina New Renewable Energy, menargetkan 50 MW sampai 50 MW hingga lima tahun ke depan. Proyek PLTS Pertamina dengan potensi 1,5 GW degan target PLTS sebesar 500 MW.

“Untuk merealisasikan target kapasitas terpasang 50 MW dari PLTS pada 2021, termasuk di SPBU Pulau Jawa, perlu dukungan manufaktur dan EPC lokal. PLTS ini tidak hanya digunakan untuk perumahan, tapi juga untuk memenuhi kebutuhan listrik di sistem LNG Badak, termasuk di Dumai,” kata dia.

Mnurut Norman, tantangan pengembangan bisnis PLTS di Indonesia adalah segregated networks, tarif listrik intermitten, grid constrain, dan regulasi.

“Saya juga melihat hal lain, seperti proses perizinan karena ada isu over supply sehingga Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menutup ruang bagi pengembang yang akan membangun PLTS. Hal ini menjadi kendala. Hal-hal seperti ini kita harapkan ada fasilitasi dari pemerintah sehingga bisa dipercepat pengembangannya,” kata dia.

Untuk kandungan local, Pertamina sedang mendorong manufaktur lokal untuk bisa memenuhi kebutuhan pembangunan PLTS. Kapasitas domestik masih belum mampu, isu tidak hanya terkait kapasitas pabrik tapi juga terkait dengan pricing-nya.

“Ini menjadi tantangan untuk memaksimalkan potensi energi surya dalam negeri,” kata dia.

Fuad mengatakan kalau dilihat dari RUEN sudah dipetakan potensi 207,8 GW energi surya. Solar PV ditargetkan 45 GW pada 2050, dari beberapa potensi EBT maka energi surya adalah salah satu yang terbesar.

“PTBA mempunyai rencana 2030-2050 dimana renewable masuk dalam salah satu pilar energi yang ada di Bukit Asam untuk men-support green energy dan beyond coal Bukit Asam,” kata dia.

Menurut Fuad, pada RJPP hingga 2050, pengembangan EBT Bukit Asam cukup ambisius dan terukur karena mempunyai kelebihan dalam konteks lahan pascatambang.

Dia menuturkan ada tantangan dalam pengembangan PLTS adalah ketersediaan lahan dan tarif yang atraktif bagi pembeli.

“Kami sudah hitung dengan cermat untuk address dua hal tersebut,” kata dia.

Fuad mengatakan Bukit Asam sudah menyediakan 200 hektare lahan di Ombilin. Namun, karena kapasitasnya besar maka perlu persetujuan PLN. Di Tanjung Enim juga ada, sudah disampaikan ke PLN. Jadi kita sungguh-sungguh dalam hal penyediaan lahan untuk PLTS. Serta di Kaltim ada diasumsikan bertahap samapi 300 MW.

“Di tiga titik tersebut rencana besar kami. Semoga PLN bisa approve masuk RUPTL. Jadi ketersediaan lahan sudah ada, lalu kami juga ingin memberikan value ke PLN,” kata dia.

Menurut Christoper, Sky Energi berupaya mendukung upaya pemerintah untuk mendorong penggunaan PLTS melalui ekspansi kapasitas produksi. Sky Energy yang memproduksi solar cell dan solar modul telah menyiapkan pabrik baru. Produk perusahaan sejauh ini sudah diekspor ke berbagai negara seperti Australia, Amerika Serikat dan Kanada.

“Komitmen ke depannya perbesar TKDN untuk mendukung program pemerintah,” kata Christoper. (arm)

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button