Ekonomi

Dukung Literasi Keuangan Syariah untuk BMT

BSI

Beberapa strategi yang dilakukan BSI diantaranya adalah meningkatkan value chain financing, KUR Syariah dan penyaluran dana berbasis komunitas. Selain itu BSI juga meningkatkan kolaborasi fintech dan e-commerce, fokus ke industri halal dan pengembangan produk retail banking syariah. BSI juga memanfaatkan ekosistem digital, integrasi antara commercial finance dan social finance, dan penyaluran dana berbasis masjid.

Program BSI tersebut disebutkan dalam acara Forum Group Discussion (FGD) Sinergi dan Kolaborasi BMT dengan Industri Keuangan Syariah dalam Mendukung Inklusi Keuangan yang diadakan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian secara virtual, Senin (12/7).

Turut hadir pada FGD tersebut Asisten Deputi Keuangan Inklusif dan Keuangan Syariah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Erdiriyo, Asisten Deputi Pengembangan SDM Perkoperasian dan Jabatan Fungsional Kementerian Koperasi dan UMKM Nasrun Siagian, Guru Besar Ekonomi Syariah UIN Jakarta Euis Amalia, dan Chairman Saemaul Undong Global League Aries Muftie.

Asisten Deputi Keuangan Inklusif dan Keuangan Syariah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Erdiriyo mengatakan BMT merupakan lembaga keuangan mikro syariah yang dapat mendukung peningkatan inklusi keuangan, serta sangat strategis dan layak untuk memfasilitasi perubahan perekonomian rumah tangga rakyat khususnya untuk ummat Islam menjadi lebih baik atau lebih sejahtera dibandingkan sebelumnya.

“Seiring dengan fungsinya, maka sejak diproklamirkannya Induk Koperasi Syariah (Inkopsyah) BMT pada tahun 1998 sebagai induk perkumpulan, maka industri BMT juga semakin membaik. Hal ini ditunjukkan dengan komitmen yang kuat dan serius dari para pengurus dan juga para anggota yang terlibat dalam membesarkan Inkopsyah BMT itu sendiri. Sinergi dan koordinasi BMT dengan industri keuangan syariah dalam bentuk channeling pembiayaan syariah kepada UMKM, serta kolaborasi lainnya berpotensi untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional menghadapi Pandemi Covid-19,” jelas Erdiriyo.

Sampai Maret 2021, BSI telah menyalurkan pembiayaan UMKM sebesar Rp35,91 triliun atau 22,63% dari total pembiayaan BSI. Pembiayaan UMKM BSI ini terdiri dari Rp15,3 triliun pembiayaan segmen menengah, Rp10,87 triliun segmen kecil dan Rp9,74 triliun segmen mikro. Potensi pertumbuhan pembiayaan UMKM ini cukup besar dengan risiko pembiayaan yang cukup terjaga, dimana jumlah Baitul Maal Wat Tamwil di Indonesia mencapai lebih dari 4.500 dengan BPRS mencapai 163 dengan jumlah jaringan 631 outlet, jumlah masjid lebih dari 600 ribu dan pesantren lebih dari 26 ribu.

Dalam mendorong bisnis UMKM, BSI telah melakukan beberapa sinergi dan kolaborasi diantaranya adalah pembiayaan kepada Pertashop, kerjasama dengan MUI, PBNU, BPRS dan Kemenparekraf. BSI juga ikut mendukung agenda pemerintah sebagai penyalur bantuan sosial di Aceh dan penyaluran program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dengan tingkat leverage mencapai 2,8 kali. (arm)

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button