Ekonomi

Strategi Redam Volatilitas Pasar Keuangan, BNI-PLN Terbitkan Buku

Sementara itu, Sinthya Roesly menyebutkan bahwa PLN mengelola Belanja Operasional Rp330 triliun per tahun, Belanja Modal senilai Rp80 triliun hingga Rp100 triliun pertahun, atau ada uang beredar di PLN sekitar Rp1 triliun per hari.

Dalam konteks dana kelolaan yang mencapai sekitar Rp400 triliun tersebut, PLN mencatat sekitar 30% diantaranya berupa valuta asing, atau sekitar USD8,5 miliar. Sebagian berasal dari pinjaman asing dalam denominasi USD, Yen, atau mata uang asing lainnya.

“Kondisi tersebut membuat hedging menjadi Langkah yang sangat penting bagi PLN. Karena kami harus menjaga rasio likuiditas minimum. Dengan tetap menjalankan prinsip kehati-hatian dan sejalan dengan regulator,” ujarnya.

Sinthya Roesly menekankan, dalam melaksanakan hedging tersebut, peran bank menjadi sangat penting sebagai bagian dari mata rantai pengelolaan risiko mata uang ini. Untuk itu, kompetensi dalam mengelola risiko mata uang perlu terus dibangun di lingkungan PLN. Atas dasar itulah dibutuhkan sebuah Buku Pintar Hedging yang diharapkan akan menjadi panduan bagi insan muda PLN ke depan.

“Kami sangat berterimakasih dengan BNI karena dalam 1 bulan bisa menerbitkan buku ini, sehingga kami memiliki panduan dalam mengelola risiko valas yang sangat dekat dengan kami. Buku ini akan menjadi pegangan buat individu-individu di PLN yang sebagian besar merupakan para insinyur teknis yang membutuhkan buku operasional hedging,” ujarnya.

Sementara itu, EVP Perbendaharaan PT PLN (Persero) Iskandar menuturkan, Buku PIntar Hedging ini diterbitkan dengan 100 halaman. Rencananya, buku tersebut dicetak sebanyak 250 – 300 dan akan disebarkan ke internal PLN dan BNI.

“Buku dapat menjadi pedoman bagaimana menjalankan hedging agar tetap memenuhi prinsip – prinsip tata kelola yang baik dan ada landasan legal, sehingga PLN menjalankannya dengan percaya diri,” pungkasnya. (arm)

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button