Ekonomi

Tak Semua Pelaku UMKM Kuliner Terdampak Pandemi Covid-19

Awalnya, ‘Aku Singkong’ dijual melalui majelis taklim atau pengajian ibu-ibu. Sebab, produk ‘Aku Singkong’ diproduksi oleh para santri-santri pesantren, yang nantinya keuntungan tersebut digunakan untuk perkembangan atau kemajuan pesantren.

“Produk kami adalah hasil kerja dari para santri. Sebagai mereka yang bercocok tanam singkong. Sebab. Hasil dari penanaman singkong keuntungannya untuk pendidikan di pesantren. Sedangkan untuk pemasaran, kami menjualnya ke para ibu-ibu pengajian atau majelis takilm. Nah, dari ibu-ibu itu, produk kami di promosikan kepada anak-anaknya yang telah bekerja di kantoran. Secara tidak langsung produk kami melebar ke perkantoran. Jadinya kami minim biaya promosi,” jelas Lutfi.

Namun, di masa pandemi ini, penjualan ‘Aku Singkong’ mengalami penurun. Sebab, majelis taklim tidak ada, semua kegiatan yang bertatap muka dihentikan. “Ini berdampak pada penjualan kita,” ucap Lutfi.

Akhirnya, Lutfi mengatakan, pihaknya beralih menggunakan penjualan secara e-Commerce, melalu online. “Agar kita tetap berproduksi. Kami jualannya melalui online, yang awalnya tradisional sekarang mengitu perkembangan digitalisasi,” jelas Lutfi.

Sementara itu, Paundra Hanutama, Director of Marketing Communications Aston Simatupang mengatakan, pihaknya siap membantu para pelaku UMK untuk kembali berjaya di masa pandemi Covid-19 ini.

“Kita selalu siap melakukan kerjasama dengan pelaku UMKM untuk memasarkan peroduk-produknya agar para pelaku UMKM bisa berkembang lagi di masa pandemi ini,” ucapnya.

Adapun acara webinar ” Kiat Menjadi UMKM Kuliner dan Cooking Demo ” didukung oleh APJI, Sasa, Bugasari, Indofood, Kokola Biskuit, Aston Prioritas Simatupang, Frisian Flag, Ichitan, Emina Cheese, Kokita, Tora Cafe, Mcdonald, Saheela, Tonici Kriping Pisang, Aku Singkong dan Aqua. (bal)

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button