Disway

Pajak Roket

Reputasi Liz pun hancur. Dia dianggap menjadikan rakyat Inggris sebagai kelinci percobaan. Memalukan Inggris di mata dunia. Mulailah ada suara agar dia mundur.

Sebenarnya Liz ingin bertahan. Tapi ada bencana susulan. Menteri dalam negerinya mendadak mengundurkan diri. Wanita. Muda, 42 tahun. Namanya: Suella Braverman. Dia wanita keturunan India. Ibu orang Tamil dari Mauritius. Ayah dari Gowa. Dia ilmuwan hukum. Anggota DPR. Mantan Jaksa Agung Inggris.

Satu lagi jabatan sangat penting Inggris di bawah Liz dipercayakan pada tokoh kulit berwarna: menteri luar negeri. Yakni James Cleverly. Di Inggris partai Konservatif lebih berwarna dibanding Partai Buruh. Kebalikan dengan di Amerika Serikat.

Berita Terkait

Begitu Mendagri Suella, mundur kabinet guncang. Padahal alasan mundurnya sepele untuk ukuran kita: dia mengirim draf peraturan menteri lewat alamat email pribadinya. Di Inggris itu dianggap penyalahgunaan jabatan yang amat serius. Hanya alamat email.

Tapi memang tidak hanya itu. Dalam surat pengunduran dirinya, Suella juga mengkritik habis Liz soal balik kucing pemerintahannya.

Selanjutnya Anda sudah tahu sendiri: Liz mengundurkan diri. Siapa penggantinya agak rumit. Suella pernah ikut bersaing untuk jabatan perdana menteri, tapi tersisih di babak awal. Mungkin saja tokoh keturunan India lainnya yang akan naik: Rishi Sunak. Hari itu, Rishi sudah bersaing ketat dengan Liz sampai di babak akhir. Siapa tahu kali ini Rishi Sunak yang akan jadi perdana menteri Inggris. Luar biasa. (*)

Komentar Pilihan Disway Edisi 21 Oktober 2022: Alvin Allianz

Kujang Bengkok Amburadul
“Hanya hukum dan tukang cat yang bisa mengubah hitam menjadi putih dan sebaliknya” Saya lupa pernah membaca dimana kalimat itu.

Amat Kasela
Tukang cat juga disuruh. Warnanya tergantung maunya yg nyuruh. Wkwkwkwk

Johan
Perbedaan antara nekat dan bodoh memang sangat tipis. Kadang sulit dibedakan. Saya tidak berani mengambil kesimpulan untuk kasus Alvin ini. Mungkin dia ingin menjadi seorang “martir”? Siapa tahu?

AnalisAsalAsalan
Hukum di Indonesia menghukum perbuatan, bukan mengembalikan uang. Tentang uang, itu tugas nasabah yang tertipu untuk bernegosiasi sendiri. Maka, waspada nomor satu. Sebagaimana pasien harus pintar, nasabah pun harus cerdas sebelum menaruh uang di “keranjang”.

Johan
“Seekor harimau tidak akan melahirkan anak anjing.” Begitu pepatah orang Tionghoa yang pernah saya baca. Melihat putri Alvin Lim, saya pikir pepatah itu ada benarnya. Garang dan tidak ada takutnya, sama seperti bapaknya. Benar-benar cocok dengan ungkapan “Babi mati tak takut air panas” orang khek Pontianak (Sie Chu Eng Bui Gun Shui : 死猪不畏滚水) wkwkwkwk

yea aina
Dahulu rumput koperasi & tetangga tampak lebih hijau dari rumput kita. Sekarang mungkin sudah dipasang paving Pak @ JM.

Jimmy Marta
Se “konyol konyolnya” Alvin ini, tetap lah ia ayah yg hebat. Membesarkan, memberi makan dan pendidikan ke anaknya. Kate Victoria Lim. Sang anak pun sudah mulai spt ayahnyi. Berani.

Gianto Kwee
Nelson Mandela, ketika dipuji wartawan betapa hebat dan berani melawan “Apartheid” Jawab Mandela : “Berani ? Saya begitu ketakutan ! tapi saya tetap melakukannya karena tidak ada yang mau melakukannya”

AnalisAsalAsalan
Saran saya ke Kate, kalau Abah berkenan meneruskannya, “Anda pemberani, itu tak diragukan lagi. Namun, ditambah kecerdikan akan lebih indah. Kuliahlah di bidang hukum hingga level tertinggi — apa pun namanya — sehingga Anda hampir dipastikan memenangkan perkara sekaligus tak diperkarakan.”

Leong putu
Gimana kalau kapan² sesama perusuh ini debat gitu… Hal apalah … Hal g penting juga gpp… Sampai 50an komen reply gitu… Biar seru… Wkwkwkwk

Pryadi Satriana
Alvin Lim bukan ‘lawyer’ handal … ‘Orang hukum’ harus bicara berdasarkan fakta-fakta. Dikumpulkan. Diseleksi. Dipilah-pilah. Dilengkapi dg ‘alat bukti’, yg membuktikan ‘fakta’ tsb. Setelah ‘fakta’ dan ‘alat bukti’ dipandang cukup, baru dibuat ‘konstruksi hukum’, utk menjelaskan argumentasi hukum yg akan dikemukakan di pengadilan. Mestinya begitu. Ndhak boleh pakai asumsi. Ndhak boleh ‘membuat perkiraan sendiri’ tanpa ada fakta hukumnya. Sayangnya, itulah yg dilakukan Alvin! Saat dialog dg Uya Kuya, Alvin membuat ‘statement’ ngawur: Ferdy Sambo adalah ‘tukang bersih2’ Listyo Sigit. Ini jelas ngawur. Konteksnya begini: Alvin menelpon Listyo Sigit, melaporkan pelanggaran yg dibuat oknum di Polri. Diminta Listyo menindaklanjuti dg menghubungi Ferdy Sambo. Dari situ Alvin bilang bahwa ‘Sambo adalah tukang bersih2 Listyo.’ Ngawur! Yg disampaikan Listyo itu hal yg normatif krn memang (waktu itu) Sambo adalah Kadiv Propam! Setelah Sambo terkena kasus serius, Alvin malah bilang bahwa tragedi Kanjuruhan itu “disengaja” untuk “menutupi” kasus Sambo! Alvin bilang, “Polisi sendiri ndhak menyangka korbannya akan sebanyak itu!” Ini lebih ngawur lagi! Saya ndhak kenal Alvin. Saya juga tahu Polri memang perlu dibenahi, namun tuduhan seperti itu membuat saya benar2 ‘gregetan’ thd Alvin! Tuduhannya tendensius & sangat mendiskreditkan polisi! Dari dua ‘statement’ Alvin di atas, saya menyimpulkan: Alvin bukan ‘lawyer’ yg handal, ‘main asumsi’ dg sembrono dan menuduh serampangan. Salam. Rahayu

EVMF
Kalau di Denmark, sengketa bisnis dengan nilai besar (ada batasannya) kasusnya bisa langsung ke Supreme Court atau bisa juga melalui Bankruptcy Court

EVMF
Saya pernah diajak teman untuk pertama kalinya menyaksikan langsung jalannya persidangan sengketa bisnis di Supreme Court di Viborg. Persidangan berjalan sangat baik, tidak ada teriakan-teriakan juga caki-maki dan lain sebagainya. Bukankah pada dasarnya, gugat-menggugat itu akan diakhiri dengan pembuktian berdasarkan hukum yang berlaku ?? Jikalau di dalam masa berjalannya kasus, baik ketika masih dalam tahapan pemeriksaan maupun masih persidangan, sudah didahului dengan teriakan-teriakan yang keras plus caci-maki melalui berbagai media sosial ; maka pengertian hukum itu sendiri akan menjadi bias !! Berapa banyak pengguna media sosial yang benar-benar paham hukum ?? maka respon netizen justru akan memperkeruh masalah !! Sepertinya juga perlu adanya pembenahan sistem peradilan itu sendiri yang benar-benar independen dan adil, sebagaimana fungsinya. Berbicara mengenai bantuan hukum kepada masyarakat yang tidak mampu, “hati nurani” saya koq lebih menghargai dan menghormati Lembaga Bantuan Hukum di Perguruan Tinggi yang ada Fakultas Hukum nya, seperti Lembaga Bantuan Hukum “Pengayoman” Universitas Parahyangan Bandung. Para Sukarelawan LBH Perguruan Tinggi, pimpinan dan anggota-anggota nya bergilir, dengan tujuan utama pengabdian institusi pendidikan kepada masyarakat. Sama sekali tidak terkesan adanya “one man show”. Pertanyaan di dalam hati kecil saya… apakah sesungguhnya pengertian dari pengabdian itu sendiri ?? Rasa-rasanya koq sudah bergeser jauh ya !!

Otong Sutisna
Horeee….Iwan bule ga mau mundur, berita kompas.com….adu kuat Statuta PSSI sama rekom TGIPF pimpinan pa Mahfud

Chei Samen
Anak bela bapak. Anda kenal nurul? Nurul Izzah binti Anwar bin Ibrahim. Ketika saya di pertengahan usia, beliau memperjuangkan keadilan untuk bapanyi. Ceritanya anda paling tahu. Yang kebetulan Pak DI nulis tentang sang ayah di chd tak berapa lama yang lalu. Salam Jumat.

Sama Konomaharu
Anda pernah di BUMN. Mana investasi yang tidak bodong. Kapitalisme adalah soal siklus yang dekat dengan kematian. Tapi di sana di sebut robot. Berarti itu forex. Kemungkinan sunton, dkk. Seingat saya robot forex di setel dengan sistem marti. Kalau di saham namanya average down / up. Tapi ini otomatis, dan tidak akan pernah bekerja. Termasuk menggunakan strategi manual. Btw, omong kosong dengan forex. Tidak ada trader forex yang sukses. Kecuali dia temennya “Bandar Forex, OD, atau BA”. Copet currency asli langsung ngepet ke lokasi. Bukan lewat meta trader.

Juve Zhang
Dari berita ,pesawat nyungsep vertikal di Guangxi ternyata sang pilot bunuh diri, uang tabungannya amblas di “investasi” obligasi Evergrande yg heboh. Sungguh kejam investasi ini, penumpang tak berdosa ikut mati.

Kliwon
Tidak semudah itu Fergusso… “Sesungguhnya menegakkan hukum jauh lebih sulit daripada menegakkan terong rebus..” –Mak Erot–

Farwadi Barma
Cerita penegakan hukum dari zaman kuno hingga era milenial, hakikatnya sama saja. Bahkan di hukum agama pun begitu. Tergantung pada penegak hukumnya. Seharusnya penegak hukum itu tutup mata seperti gambar perempuan pegang timbangan dengan mata tertutup itu. Kalau mata tidak ditutup, maka sangat dimungkinkan terbawa kepentingan.

Kelender Indonesia Lengkap
Dunia ini memang lahan pertempuran antaran Keadilan dan Ketidakadilan. Suatu masa ketidakadilan yang menang, di masa lain keadilan yang menang, begitu terus berganti-ganti sampai akhir dunia. Walaupun demikian, kita sebagai komentator Disway punya pilihan, bukan dua tapi tiga, yaitu ikut yang tidak adil, ikut yang adil, atau jadi Bunglon seperti siapa itu.

Kliwon
Karena bagian dari pekerjaan, beberapa tahun lalu aku sering banget disuruh kantor buat ngurusin kasus dan berhubungan dengan hukum dan segenap perangkatnya. Jadilah aku mengalami sendiri apa yang dibilang pak Mahfudz MD. “Hukum di negara kita sudah menjadi sebuah industri besar”. Aku sih ga peduli. Toh semua di biayai kantor. Yang paling membuatku menggelinjang adalah, kena urusan hukum ternyata lebih nghabisin duit daripada kena urusan perempuan. Maka akan lebih parah lagi.., kalo sampe berurusan dengan hukum gegara perempuan. Kelar lah hidup. Bisa pailit dunia akhirat.

Oeij Harmoko
mungkin bisa di pertimbangkan hakim di pilih oleh rakyat langsung, dengan metode syarat yg sangat ketat, untuk mencari hakim yg bener bener punya logika yg sangat baik dan bebas dari tekanan kebutuhan hidup.

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button