Disway

Penyesalan Panggung

omami clan

Jiwa fanatisme saya sudah kadung tumbuh dengan subur terhadap cerbung yang terbit setiap hari dan bersebelahan dengan tulisan Abah, kian lama kian pasti terasa menggelora membacanya, jadi seolah2 berada di dua dunia. Tiap membaca tulisan Abah seakan berada di dunia fatamorgana, tapi saat membaca cerbung kok malah merasa seakan-akan balik ke dunia nyata, saya juga bingung. Setelah tiga hari cerbung tidak terbit, saya mulai merasa terjebak di dunia maya tanpa bisa kembali ke dunia nyata. Tolong Abah injak rem kefanatikan saya, jangan sampai saya terjebak lebih dalam lagi. Entah yang mana yang maya dan siapa yang nyata, paling tidak cerbung itu bisa menjadi pembanding yang baik, tapi bukan barometer untuk mengukur mana yang terbaik.

Pryadi Satriana

Berita Terkait

“Hidup seperti pohon bukanlah hidup. Mobil mogok bukanlah mobil.” ‘Pohon’ dan ‘mobil mogok’ ndhak bergerak, ‘ora iso obah’ seperti manusia, yang ‘obah owah’, ‘bergerak membawa perubahan’, ada ‘progress’, ada perubahan ke yang lebih baik, pun mengubah ‘yang sudah baik menjadi semakin baik’. Itulah fitrah manusia: “mangayu ayuning bawono”, ‘mempercantik’ bumi yang sudah indah. Salam. Rahayu.

Alex Ping

Jadi perumpamaannya mobilnya itu masyarakat, sopirnya itu pemerintahan (yang ngegas dan yang ngerem), kecepatan mobil itu pembangunan (di gas untuk meningkatkan pembangunan). Saat terjadi kecelakaan diperiksa apakah yang salah sopirnya atau kondisi mobilnya yang tidak mumpuni. Apakah mobil yang terguling itu karena remnya blong sehingga menggunakan rem tangan nya? Apakah sopirnya yang terbawa emosi? Tetapi yang pasti mobil itu baru disalip oleh saingannya di rute yang dia kuasai selama 23tahun.

Ghost It Is

Soal pansos, ini peluangnya masih sangat-sangat luas. Ada masalah mengenai kebosanan digital. Selanjutnya, semua hal yang berada pada google trend pasti di jadikan alat pansos karena di anggap relevan. Kdrt, dan kepolisian misal. Iya tetep viral. Meskipun belum tentu dapat uang juga. Atau kalau domain paling mahal, misal seputar xxxx.com. Kebanyakan influencer juga sangat bergantung, sampai kecekik dengan “Search Engine”. Jadi. Influecer sedang melakukan cornerring melawan media, dan mereka tidak tau cara membanting trafik. Sampai lupa diri. Bahkan video yang di buat heboh, dan memiliki resolusi 8k, sekaligus seluruh editan rumitnya. Pada beberapa momen masih kalah dengan video 19-30 dengan resolusi HD. Tanpa editan juga.

Er Gham

Selama ini, saya mengartikan ‘urip iku urup’ itu ‘hidup itu harus menerangi’. Artinya ‘hidup yang memberikan manfaat’. Beda dengan yang diartikan Abah, bahwa ‘hidup harus menyala nyala’. Kalau hidup harus menyala nyala, kok kesannya kita jadi cinta dunia ya Abah.

Budi Utomo

Tafsiran urip iku urup sebagai hidup untuk menerangi juga benar. Karena urup atau nyala terkait dengan api. Api terkait dengan alat penerangan kala Syekh Siti Jenar hidup yang saat itu belum ditemukan listrik. URUP itu bahasa Indonesianya adalah NYALA. Terkait dengan API yang PANAS dan TERANG.

thamrindahlan

Cinta rela berresiko sengsara / Ibarat buruh merindukan bahagia / Sepak bola sesungguhnya pelipur lara / Hiburan seluruh rakyat indonesia /

Er Gham

Abah pasti fanatik pada klub sepakbola Persebaya. Tapi stadionnya aman gak, Abah? Abah bisa cek juga. Apakah pintunya cukup lebar dan tangga jangan terlalu curam. Tangkap arsiteknya jika salah desain. Hehehehe…

Pryadi Satriana

Bung Lukman, itu ungkapan kiasan. Orang yg sdh ‘almarhum’ tidak berfungsi lagi sbg manusia. Stadion yg ‘almarhum’ jg begitu, sudah ndhak berfungsi sebagai stadion lagi. Banyak orang yg ‘nalarnya bengkok’, ndhak konsisten dlm bernalar. Paham nabi Muhammad disebut sebagai ‘kekasih Allah’ tapi ndhak paham Yesus disebut ‘Anak Allah’ padahal Yesus disebut ‘Firman Allah’ (Alkitab) atau ‘kalimatullah’ (Al-Qur’an). ‘Firman Allah’ itu, ‘yang ke luar dari Allah’ (proceeds from the Father) itu ‘digerakkan’ oleh Roh Allah, yg disebut Roh Kudus. Jadi, the Father (Bapa), the Son (‘Firman Allah’/’kalimatullah’ yang ‘nuzul’ menjadi Yesus Juru Selamat/ Isa Al-Masih), dan ‘Roh Allah’ (yg disebut Roh Kudus) itu yg disebut Allah tri-Tunggal, Allah Yang Esa, yg disebutkan oleh Musa dalam Taurat,”Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!”(Ulangan 6: 4). Paham Allah triTunggal didasarkan pada,”Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia (Yesus) melihat Roh Allah (Roh Kudus) spt burung merpati turun ke atasNya (Yesus), lalu terdengarlah suara dari sorga yg mengatakan: “Inilah AnakKu yg Kukasihi, kepadaNya lah Aku (Bapa) berkenan” (Matius 3: 16-17) dan “Aku (Yesus, ‘Firman Allah’/’kalimatullah’) dan Bapa (Allah) adalah satu” (Yohanes 10: 30). Jadi, orang Yahudi & orang Kristen mengimani Allah yang esa, Yesus adalah FirmanNya, dan Roh Kudus adalah RohNya. Salam. Rahayu.

Gianto Kwee

Juga kalimat penutup tentang Pohon dan Mobil, Error dan Keblinger, Mumpung ada pak Pry yang mulai, Kang Dahlan kita “Kruyuk”

Ghost It Is

Saya kemarin bilang. Tim independen sedang melawan posisi sebagian dari anggota kepolisian, tidak seluruh. Opening kasus ini saja sudah aneh. Penonton mulai anarkis. Ini belum ada korban tewas mungkin. Baru di bantai dengan gas air mata setelah itu. Kalaupun ada 200-400 botol miras di sana. Itukan salah petugas. Nha, kenapa nggak jaga pintu keluar masuk. Malah bawa pentungan sama gas air mata di tengah lapangan. Mau makan gaji buta apa, cuma pamer seragam di tengah lapangan. Setahu Saya botol itupun tersegel. Tidak di minum. Kadar alkoholnya juga tidak di sebut.

Dodik Wiratmojo

dan bukti2pun pun agak melenceng, ditemukan botol miras, pdhl bawa korek aja ga bisa masuk, pihak arema ga diajak, presuden hanya menyebut pintu terkunci tangga menurun, gas air mata ga disebut sbg pemicu..trus py ki.. .. Fanatisme Sepakbola paseduluran saklawase…

Macca Madinah

Lucu juga perumpamaan mobil itu harus “pernah nyenggol”, apa itu kelasnya dinding atau pohon. Suka gemes soalnya kalau di jalan “gang” kecil di Jakarta. Sudah jelas jalannya kecil, yang masuk mobilnya sebesar bagong, sekelas fortuner, landrover,, dan sejenisnya. Mending kalau yang menyetir itu pede, gak masalah kalau “nyenggol dikit” gores dikit. Berhubung mungkin yang menyetir bukan yang empunyanya, jalannya pelannnn, sedikit-sedikit injak rem, lihat sepeda motor-angkot-bajaj nyalip langsung berhenti ngalangin yang di belakang (baca: ya saya itu). Wesss, nek wedhi ngono yo ojo lewat kene Pak-eeee (kadang-kadang ada juga Buk-eeee)!

Liam Then

Tadi pagi juga merasakaan hal serupa. Kok pohon? Berhubung blom ngopi otak masih berkabut. Sekarang mumpung lagi gabut-gak ada buat ( dah lama saya kira gabut itu singkatan gak ada buat- rupanya bukan kwkwkwkw), di temani secangkir kopi tubruk non gula, baru enak mikirnya. Hidup pohon kok ya dijadikan perbandingan. Karena berangkat dari pengertian awal , derajat hidup manusia lebih tinggi darinya. Sebenarnya manusia bisa belajar falsafah hidup dari pohon, ia tak peduli angin hujan, tetap hidup. Tak peduli siang malam tetap berusaha hidup. Tak peduli berapa lama ia hidup. Ia alot,ulet,tekun, hanya untuk hidup. Ia tegak hidup, gak merasa marah, merasa sedih. Ia hidup dibawah bintang, cahaya matahari, cahaya bulan, semilir angin. Kondisi apapun ,tak oernah mengeluh. Tetap hidup. Ia hidup tanpa perlu sesuatu untuk membuat ia lebih hidup. Tujuannya hanya hidup. Bukankah sangat sederhana? Bayangkan betapa banyak konflik tak perlu, jika manusia belajar dari falsafah pohon? Jika anda ada merasa cabang pemikiran lain, karena banyaknya kata hidup di atas. Gapapa, berarti anda masih normal. Terus terang saya juga begitu.

Johan

Pendapat subyektif dari manusia, kali ini pohon sebagai objek perbandingannya. Kehidupan pohon dianggap sebagai bukan hidup yang sebenarnya. Pohon jelas tidak bisa kita ajak bicara, sehingga kita tidak tahu pendapatnya mengenai hidup. Tapi manfaat dari pohon sering kita rasakan. Itu pasti. Mungkin itulah “hidupnya” yang sebenarnya. Hidup yang bermanfaat untuk alam disekitarnya. Perbandingan semacam itu bisa saya katakan ngawur, tapi dalam beberapa situasi, bisa jadi itu ada benarnya. Semisal pohon durian, dia berbuah, kemudian buahnya dimakan Dahlan Iskan. Hidup macam apa itu? Lebih baik pohon itu mati saja.

Pryadi Satriana

“Kadang mobil ‘harus’ nyenggol pagar.” ‘Mobil’ mereprentasikan ‘manusia’. ‘Harus’ menunjukkan ‘keniscayaan, kepastian’. ‘Nyenggol pagar’ maksudnya ‘melakukan kesalahan’. Pak Dahlan mau mengatakan ini: ‘Mobil yg bergerak’ itu seperti ‘manusia yg beraktifitas’. Manusia itu tak luput dari kesalahan. Namun, dg akal budinya ‘manusia bisa belajar dari kesalahannya’. ‘Mobil harus nyenggol pagar’. Manusia – mau tak mau – karena memang tak luput dari kesalahan, seperti mobil yang ‘harus nyenggol pagar’ supaya bisa belajar dari kesalahannya, supaya ndhak berbuat kesalahan yg fatal. ‘Mobil harus nyenggol pagar, supaya selanjutnya lebih hati-hati, supaya ndhak nabrak orang’. Semoga bermanfaat. Salam. Rahayu.

Pembaca Disway

Salah satu cara mengendalikan fanatisme itu dengan berdoa… Misalnya saya ngefans dengan Disway.. Kalau tiap hari saya cuma memuji-muji Disway, misalnya “Disway paling hebat. Tulisannya bagus semua. Paling rajin terbit, dst..” nanti fanatismenya makin menjadi-jadi. Kalau mendoakan, misalnya “Semoga tulisan pak Dahlan membawa berkah.. Semoga para komentator makin rukun… dst” nanti fanatismenya bisa makin terarah.. Fanatisme itu cinta..

Budi Utomo

Syekh Siti Jenar. Misteri Hidup Mati. Fanatisme. Merasa Paling Benar. Wah Abah Dahlan memancing saya nih. Wkwkwk. Syekh Siti Jenar adalah tokoh penting dalam sejarah dan budaya Jawa. Manunggaling Gusti lan kawula (Bersatunya Tuhan dan hambaNya), Urip iku Urup (Hidup itu Menyala-nyala). Kita secara fisik adalah bangkai tapi secara “non fisik” bukan bangkai. Tak mudah memahami ajaran Siti Jenar. Saya hanya bisa mereferensikan buku-buku mengenai Siti Jenar yang ditulis Ustad Achmad Chodjim. Yang saya ingin garisbawahi adalah ajaran Syekh Siti Jenar besar pengaruhnya pada Islam yang inklusif dan toleran di Jawa bahkan mungkin di Indonesia. Saya sebagai pengamat sejarah sangat menyukai buku-buku Achmad Chodjim yang membuka wawasan saya mengenai Islam Nusantara. Yang tidak merasa “paling benar”.

Budi Utomo

Informasi dari Achmad Chodjim mengenai sejarah masuknya Islam di Jawa sangat bagus. Salah satunya adalah salah kaprah mengenai Wali Songo/Wali Sanga yang menurut banyak orang jumlahnya harus tetap sembilan atau Songo/Sanga. Padahal tidak harus sembilan. Sanga/Songo ini adalah penyimpangan dari kata Sangha/Songho. Ketika pertama kali Islam masuk sudah pasti harus permisi pada agama yang lebih tua yaitu Hindu dan Buddha. Wali adalah istilah Arab untuk Sangha. Jadi Sangha atau para pemimpin agama Islam dikenal sebagai Wali Sangha atau Sangha Wali. Lalu entah mengapa kemudian berubah menjadi Wali Sanga/Songo. Ini sama seperti Bioro Buddho (Vihara Buddha) menjadi Boro Budur.

Arala Ziko

seorang investor kondang pernah berkata “Being too far ahead of your time is indistinguishable from being wrong”. itu yg pernah terjadi pada menteri beberapa tahun silam soal mobil listrik dan soal jadwal tanding malam hari.

Impostor Among Us

Pernah baca penjelasan, bahwa hikmah di balik ada fanatisme suku, misalnya marga. Salah satunya untuk menghadirkan rasa tanggungjawab menjaga citra baik bersama. Sebaliknya menjadi rem agar jangan sampai membikin malu komunitas semarga.

Saifudin Rohmaqèŕqqqààt

Statement akhir Pak Disway mantap. Hidup seperti pohon bukanlah hidup. Kenyataannya semua yang hidup butuh pohon. Benar tidak? Anda makan nasi. Tanpa pohon padi tidak ada nasi. Nasi anda berlauk tempe. Tanpa pohon kedelai tidak ada tempe. Biar mantap tempe sama sambel kecap. Tanpa pohon lombok tidak ada sambel. Begitu bukan? Ya, anda semua sudah tahu. Tanpa pohon tidak ada kehidupan. Jadi kesimpulannya apa? Fanatisme membuat hidup bergairah. Kegairahan hidup akan membuat anda bahagia. Jadi endingnya,” Saya akan terus hidup bergairah sampai akhir kehidupan saya.”

*) Dari komentar pembaca http://disway.id

 

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button