Disway

Siapa Membunuh Putri (23)  

“Orang-orang itu siapa?”

“Katanya keluarganya, tapi kayaknya orang suruhan semua.”

“Fotonya dapat, nggak?  Kalau tak dapat minta sama fotografer grup kita di sana,” kataku. “Otopsinya kapan?”

Berita Terkait

“Katanya besok. Saya di sini sampai otopsi selesai, ya, Bang?” tanya Nurikmal.

“Ya, cari berita sisi-sisi lain yang unik ya,” kataku.

Laporan Nurikmal dari Palembang menjadi headline berita kami beberapa hari. Oplah bertahan di angka tertinggi yang pernah kami capai.  Upaya kami merawat pasar berhasil. Meskipun tidak ada berita yang menggebrak. Tak selalu memang ada berita besar.  Sementara perhatian publik masih pada kelanjutan kasus pembunuhan Putri.

Satu laporan Nurikmal yang dibicarakan pembaca koran kami di Borgam adalah tentang kekayaan keluarganya di Palembang. Rumahnya megah seperti istana. Ibunya mengelola banyak perusahaan termasuk dealer mobil dan hotel. ”Kaya banget, Bang,” kata Nurikmal.

”Jadi keluarga mereka itu sudah kaya dari dulu ya?” tanyaku.

“Kaya banget. Dan kata orang-orang di sini, makin kaya setelah Putri bersama  AKBP Pintor bertugas di Borgam,” kata Nurikmal. “Dealer mobilnya makin besar. Makin banyak cabangnya.”

Naluri wartawan dan logikaku terpicu untuk membuat analisis. Di ruanganku ada selembar kertas yang kubentang di dinding. Di sana kubangun bagan kejadian, nama-nama yang terlibat dalam pembunuhan Putri. Setiap kali ada perkembangan baru, nama baru atau informasi baru,  saya menambahkannya hal itu terkait dengan siapa, dan mengarah ke siapa. Analisis seperti ini bagiku sangat membantu perencanaan berita. Itu yang membuat pemberitaan kami terancang rapi.

Kata pembaca seperti cerita bersambung. Dari Pak Hendra saya dapat laporan banyak yang mencari koran lama, karena tertinggal berita-berita terkait kasus pembunuhan Putri.  Ferdy menulis semakin bagus. Beritanya tak lagi kering. Modal penting disiplin memverifikasi fakta sejak semula sudah ia punya.

Inilah fakta-fakta yang itu. Ada pembunuhan Putri yang tersangka otak pelakunya mengarah ke suaminya sendiri AKBP Pintor. Ada pengiriman mobil bodong, yang tentu saja dibantah, dan kalau bukan untuk mabes di Jakarta namanya yang tepat adalah ”penyeludupan”. Ada perjudian, kasino gelap, yang semakin menjadi-jadi. Ada kedekatan AKBP Pintor dan atasannya Kapolresta AKP Heru.  Apakah kejadian-kejadian ini saling terhubung?  Bagaimana dan dari mana menemukan informasi yang menautkan semua hal itu?

Saya menyampaikan itu kepada Bang Eel.  ”Soal judi itu tak usah terlalu jauh kita,” katanya. ”Kita ikuti aja. Kalau ada kejadian kita beritakan. Kalau tak ada. Diam-diam aja kita. Kita tak usah cari-cari.”  Memang belum ada kejadian. Tak ada yang bisa saya beritakan. Sementara saya percaya pada premis keterkaitan peristiwa yang saya bangun itu.

Sore itu, Yon datang dengan berita mengejutkan. Pemred Metro Kriminal dianiaya orang, semalam.  Saya langsung teringat Mila. Dan Edo. Apa mungkin Edo pelakunya? Keterlaluan kalau benar. Saya sudah melarangnya. Saya panggil ia ke ruangan saya.

“Bukan saya, Abang. Saya tak tahu. Semalam saya tak ke mana-mana. Sampai jam dua kita masih di percetakan. Habis kita makan nasi goreng saya antar abang, saya juga langsung pulang,” kata Edo.

Bang Jon-kah? Yang tahu tentang pelecehan Beni ke Mila itu, yang kuberi tahu, hanya Bang Jon. Saya meneleponnya.

”Kenapa, Dur?”

”Siapa, Bang? Abang ya?”

”Soal Beni? Sudahlah. Sudah selesai. Sebelum kamu cerita kemarin, saya sudah lama tahu Beni itu siapa. Aku ini wartawan brengsek, tapi gak gitu sama perempuan.  Mila itu anak baik, kamu tahulah itu, dia sudah kayak adikku sendiri, biar dia nggak kerja sama aku lagi. Ini cuma peringatan buat dia. Kalau Beni masih macam-macam habis dia….”

Aku kembali melihat monster dalam diri Bang Jon.

”Beni dirawat, Yon? Dirawat di mana?” saya bertanya pada Yon yang mulai mengetik berita.

”Nggak dirawat. Nggak tahu kenapa. Kayak ketakutan gitu dia,” kata Yon. (Hasan Aspahani)

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button