Disway

Siapa Membunuh Putri (22)

Putusan Sela

”Kok kayaknya?”
”Ya, karena dia tak pernah mengabari apa-apa lagi, setelah malam itu…”
Sejenak kembali kami saling diam.

”Mas, bulan depan, ayah sama ibu mau datang ke sini. Mas mau ketemu nggak?”
”Oh, tentu mau. Nanti pastinya kapan beritahu aja ya,” kataku.

Inayah lalu bercerita tentang ayahnya yang pernah menjadi wartawan dan kemudian menjadi dosen di Pekanbaru. Inayah anak sulung. Dia yang paling ingat, masa-masa ayahnya masih bekerja sebagai wartawan.

Berita Terkait

”Bangga sekali dia menjadi wartawan. Tapi tekanan-tekanan yang dia terima karena pemberitaan medianya membuat dia menyerah. Menjadi dosen bukan pekerjaannya idamannya. Meski dia sangat suka mengajar, seperti ibuku yang juga guru,” kata Inayah.
”Jadi, bakat mengajarmu itu karena ibumu juga guru dan ayahmu dosen,” kataku.

”Ya, betul. Dan saya melihat ada sosok ayah dalam dirimu, Mas. Ayah yang dulu wartawan,” kata Inayah.

”Oke, nanti kalau ketemu beliau akan saya lihat apa betul penghilatanmu. Atau kamu salah lihat karena mata hatimu rabun oleh sesuatu…”

”Sesuatu itu apa?”
”Nggak tahu. Kamu yang ngerasain…”
”Mas Abdur sok tahu ya. Kok bisa tahu apa yang kurasakan? Apa karena Mas Abdur juga sedang rabun oleh sesuatu itu?”
”Mungkin…” Lalu kami tertawa.

Anak-anak yatim itu kelelahan berenang. Mereka sibuk bermain pasir dan ada yang berbaring dan tertidur setelah menghabiskan bekal makanan. Inayah memasaknya sendiri.
Kalau dalam film-film itu, setelah percakapan seperti kami tadi, biasanya akan dilanjutkan dengan adegan kejar-kejaran dan siram-siraman air laut. Saya tersenyum membayangkan hal itu.

”Jalan, yuk…” kataku.
”Yuk,” kata Inayah, dia bergegas berdiri. Lalu berseru kepada Rodi, ”jaga adik-adikmu ya…”
Setelah jauh dari anak-anak, Inayah berlari, ”kejar aku, Mas…” Dia berlari ke arah laut. Aku mengejarnya. Dalam jarak yang cukup dekat dia dengan dua tangan menyemburkan air laut ke arahku! Sambil tertawa lepas. Kalau ini pengambilan gambar untuk adegan film, saya tak ingin mendengar sutradaranya lekas-lekas berteriak cut! Ini bukan akting. Inayah sedang memerankan dirinya sendiri dengan sangat baik. Dia makin memenuhi dan meneduhkan hatiku. (*)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 23 September 2022: Mak Edi

Farwadi Barma
Ternyata Mamak Edi dapat gelar “Sir” dari negeri non-Muslim pula. Ternyata beliau berjasa besar di perdamian Aceh. Ternyata dipercaya sumber ilmiah tentang jaringan ulama nusantara.

Rofi’udin
Menteri Agama pertamalah, H.M. Rasjidi, sesungguhnya perintis belajar Islam di Barat. Dia beri beasiswa Harun Nasution kuliah di Amerika. Meski akhirnya sang menteri merasa menyesal karena sang penerima beasiswa membawa oleh-oleh pemikiran “sekuler” ke Indonesia. Bisa dilihat di buku “70 Tahun Prof. H.M. Rasjidi”

thamrindahlan
Naik bendi keliling Monas / Wisata bersama sahabat Malaysia / Mak Edi Ulama Minang Lawas / Mengharumkan nama Islam Indonesia /

Mirza Mirwan
Sekadar menambahkan. Order of the British Empire itu ada 5 tingkat. 1) Yang tertinggi adalah GBE (Knight/Dame Grand Cross of the Most Excellent Order of the Nritish Empire — Kinght untuk pria, Dame untuk wanita). 2) KBE/DBE (Knight/Dame Commander of the Most Excellent Order of the British Empire). 3) CBE (Commander of the Most Excellent Order of the British Empire). 4) OBE (Officer of the Most Excellent Order of the British Empire. 5) MBE (Member of the Most Excellent Order of the British Empire). Yang diterima oleh almarhum Prof. Azra pada tahun 2010 adalah CBE, yang berhak dituliskan di belakang namanya. Tetapi untuk “Sir” di depan namanya, sebenarnya hanya untuk GBE dan KBE. Tentang Columbia University. Univeritas yang didirikan oleh Raja George II tahun 1754 itu nama resminya adalah Columbia University in the City of New York. Waktu berdiri, sampai tahun 1776, namanya King’s College. Sejak menjadi Columbia University, biasa disebut Columbia saja, statusnya adalah universitas swasta. Tetapi, waini, telah melahirkan 4 Presiden AS, 33 Presiden/PM di berbagai negara, 10 hakim ahung AS, 99 penerima Nobel, dan 122 penerima Pulitzer. Eh, lupa, pada tahun 2017 Prof. Azra juga penerima The Order of Rising Sun, Gold and Silver Star dari Kekaisaran Jepang. Selamat hari Jumat. Tabik.

Giyanto Cecep
innalillahi wainnailaihi rojiuun .. semoga amal ibadahnya diridhoi dan khilaf dan dosanya diampuni allah swt. Aamiin Yaa Rabb. saya membaca tulisan Prof Azyumardi Azra sejak masih muda krn pakdhe saya langganan majalah Panji Masyarakat yg diampu oleh Prof Hamka. Mengeja nama beliau memang susah. Namanya cukup apik menurut saya. saya mencoba mencari apa rti dr nama tersebut. Ada yg menyebut bhw nama tsb adl singkatan dr nama ayah dan ibunya yaitu Ra’azni dan Azri’ati. sayang sekali pak DI terlewat atau sengaja tidak membahas asal usul dan arti nama beliau. Ada akun twitter yg menulis bgmn nama beliau ini. Akun @zachumam menulis begini : orangtua pak @Prof_Azyumardi dulu dapat inspirasi dari mana menamai puteranya ” alzyumardi alazroq ” ditulis dg huruf arab, dg pelepasan ‘ qof ” ala beberapa dialek arab. Pastilah orangtuanya santri dari tradisi surau. Yakni : zamrud biru, aduhai indahnya dan berharganya sebuah nama. Akun @JRofarif mereply status, Al-zumurrud al azraq >> azyumardi azra. Menarik. Lebih menarik artinya. Zumurrud (zamrud)sendiri artinya ” batu (mulia) warna hijau ” tapi ini kemudian disifati warna biru. Tapi rangkaia kata (dlm huruf arab) ” zumardi azraq” artinya ” aquamarine” . Warna hijau laut. Hijau kebiruan. Akun @amajid13 menambahkan , orang Mesir mengucapkan “qaf” jadi ” hamzah ” . saya pernah berjumpa Prof Azyumardi Azra di food court Pondok Indah Mall, tidak lupa saya salami dan saya cium tangan beliau, ngalap berkah. Semoga.

Rahma Huda Putranto
Yang mempopulerkan Islam Nusantara ternyata Mak Edi. Jadi tahu kenapa Wakil Menteri Agama berkata seperti ini. “Wamenag: Prof Azyumardi Azra Tokoh Muhammadiyah yang Gigih Membela NU”

Jimmy Marta
Panggilan bapak/pak itu untuk garis ayah. Anak dari saudara lelaki baik kandung maupun segaris ayah. Yg paling besar pak adang atau pak tuo. Yg kecil pak etek. Pak dhe dan pak lik di bila di jawa.

Budi Utomo
Suku Minang bisa jadi satu-satunya suku di Indonesia yang marganya menganut garis ibu. Di dunia kini hanya orang India masa kini yang marganya memakai garis Ibu. Tiongkok dulu juga menganut marga garis ibu yaitu sebelum era Dinasti Zhou (sebelum sekitar 1000 SM). Ini masih bisa dilacak dari aksara Xing 姓 = marga. Yang terdiri dari dua simbol. Nu 女 (baca nii) = female = wanita dan Sheng 生 (baca sheung, eu ala Sunda) = born/birth = dilahirkan/lahir. Bisa dilihat dari nama-nama raja/kaisar sebelum Dinasti Zhou. Mesir kuno juga memakai garis ibu. Garis ayah biasanya dari suku nomaden. Seperti Mongolia, Turki, Arab, dll. Suku yang menetap biasanya memakai garis ibu dan berubah memakai garis ayah setelah dijajah suku nomaden. Perang Padri salah satunya karena konflik antara kaum adat yang memakai garis ibu dan kaum padri yang memaksakan garis ayah.

Jimmy Marta
Di Minang, mamak ( biasa juga dipanggil singkat: mak)itu panggilan kemenakan/ponak an ke paman. Kemenakan adalah anak saudara perempuannya. Saudara perempuan kandung dan segaris ibu. Tapi karena begitu lekatnya, panggilan mamak ke sang paman kadang dijadikan nama panggilan yg lumrah sehari2. Semacam nama populer. Oleh orang lain pun yg bukan kemenakan, bukan keluarga. Yg berposisi mamak/paman tentu bisa banyak, tergantung jumlah lelaki dalam keluarga itu. Makanya untuk membedakan para mamak, ada tambahan lagi dibelakangnya. Untuk yg paling tua disebut mak gadang/mak adang. Mamak yg tengah jadi mak angah. Yg kecil mak etek atau mak uncu. Kalau jumlah mamak lebih banyak, ada lagi mak uniang, mak itam, mak aciak. Atau bisa juga dg tambahan nama panggilan kecil si mamak. Mak Udin, mak buyung, mak david, dll… Selamat beristirahat mak Edi.

ALI FAUZI
Narasi Islam Nusantara selama ini memang lebih kepada Islam yang berkembang di Jawa –lebih khusus lagi di kalangan NU. NU memang lebih banyak diterima orang Jawa. Sedangkan narasi Islam Nusantara yang didengungkan Azyumardi Azra adalah Islam yang berkembang di seluruh Indonesia –dari Sabang sampai Merauke. Karena Indonesia bukan cuma Jawa. Saya lebih menerima narasi Islam Nusantaranya Azyumardi Azra.

Johannes Kitono
Gegara asyik mengikuti Cerbung ” Siapa Membunuh Putri ” jadi tidak fokus lagi membuat komentar tulisan Juragan Disway. Cerbung AH itu menggambarkan situasi FTZ BATAM, dimana Rambo Rambo abuse the power. Bisa jadi jendral Sambo hanya copy paste saja dan menerapkannya dalam size nasional. Now wartawan idealis seperti Dur tentu semakin langka dan maaf hampir sudah punah.

didik sudjarwo
Ternyata orang barat tidak percaya kutbah.Apalagi komentar di Disway yg kadang ndakik2.Untung saia bukan orang barat. Ngapunten.

Rihlatul Ulfa
Jujur saja saat beliau meninggal saya tidak begitu mengetahui. pun walaupun banyak media yg memberitakannya. tapi setelah baca tulisan Abah, saya baru merasa kehilangan. disinilah saya baru mengenalnya, dan kenapa kematiannya harus disebarluaskan karena memang beliau sangat istimewa. saya sangat menyukai orang-orang yang berfikiran terbuka, apalagi sampai mau belajar ke negeri barat yg biasanya mereka-mereka itu lebih suka dengan Al-Azhar Kairo. tentu itu suatu bentuk kemajuan yang tinggi sekali, melihat beliau lulusan Columbia University. wow. selamat jalan Prof..

Ferdy Holim
Order of the British Empire terdiri dari 5 kelas, yaitu: Knight Grand Cross (GBE) Knight Commander (KBE) Commander (CBE) Officer (OBE) Member (MBE) Yang berhak menyandang Sir adalah GBE dan KBE.

Mirza Mirwan
Maaf, Bung Munawir, menyesal sekali saya tidak bisa membantu. Kalau misalnya kata “Syadzali” itu tabarruk dengan pendiri tarikat Syadziliyah, Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili, tetap saja saya juga tidak tahu arti kata “syadzili”. Karena Syaikh Abul Hasan dari Maroko, boleh jadi “syadzili” itu bahasa “Darija” — bahasa Arab yang bercampur bahasa Perancis. Bahasa Arab memang punya 2 jenis : “Fusha” (bahasa resmi, seperti dipakai al-Quran, komunikasi antar-bangsa-Arab, media massa, bahkan sastra) dan “‘Amiyah” (bahasa sehari-hari, pasaran, juga bahasa gaul). Nah, bahasa Arab Darija yang dipakai di Maroko itu termasuk jenis “Amiyah”. Mereka yang pernah kuliah di Maroko mungkin tahu “syadzili” itu artinya apa. Lepas dari apapun arti tepatnya, pastilah syadzil/syadzali itu artinya bernuansa baik.

munawir syadzali
Alhmarhum Bapak menamai sy dengan nama Munawir Sandali, itu setidaknya yg tertulis di ijazah TK. Krn suka dibully dg sebutan Sandal, Sy pun mencari jati diri nama saya, dr mana sebenarnya nama itu, apa artinya dan meniru siapa. Usut punya usut, ternyata harapan org tua memberi nama itu supaya bisa menjadi mentri agama. Waktu itu, kelas 3 SD sy bingung, mentri agama yg mana, kuberanikan diri sy bertanya ke guru TPQ sy. Utk nama saya, bagaimana tulisan arabnya. Bu Guru itu pun menuliskan nama sy versi arabnya. Sy catat, sy simpan. Suatu ketika, sy membuka2 halaman depan al Qur’an terbitan kemenag, tertulis di kata pengantarnya, dg huruf arab, yg sama seperti Bu Guru menuliskan utk sy. Oh ini, toh rupanya, tulisan yg sebenarnya. Sy mencoba mentransliterasi sendiri, bagaimana mengubah huruf arab ke indonesia. Jadilah Munawir Syadzali. Harusnya Munawwir, dr nawwara, yunawwiru, fa huwa munawwirun. Tp, krn Pak Mantri Agama menuliskan namanya dg Munawir Sjadzali, sy tuliskan saja spt itu, tanpa tasydid. Waktu ada perubahan penulisan nama kelas 6 SD utk penulisan nama ijazah, sy ajukan ke wali kelas utk perubahan nama, sy patenkan sendiri, tanpa sepengatahuan org tua, pun sampe skrg, maklum, org tua masih buta huruf. Demikian cerita tdk penting dr saya. Semoga, sebagaimana namanya, Munawwir, org yg memberikan cahaya, Sy bisa bermanfaat utk sesama, agama dan negara. Amien

DeniK
Berbahagialah bagi pembaca disway Yang yang bisa isi kolom komentar setiap hari. Kolom komentar sekarang sudah seperti bensin premium,sangat susah di cari.hil yang mustahal. Jadi silent reader itu jadi pilihan. Salam buat’ mas Dur’ di Borgam.

yea aina
Soal kekhasan muslim di Indonesia, dinarasikan secara ilmiah oleh Prof Azra, hingga menjadi rujukan ilmuan barat. islam Nusantara versi Prof Azra, jangan disamakan dengan Islam Nusantara yang akhir-akhir ini diwacanakan. Sebab sebuah karya ilmiah steril dari muatan kepentingan, entah itu jabatan apalagi uang. Prof Azra hanya menjelaskan BAGAIMANA sejarah dan sikap muslim Indonesia yang dikenal sangat toleran. Mungkin, beliau merasa tidak perlu menjelaskan MENGAPA sikap toleransi begitu kuat mengakar di sini, dalam disertasinya. Umumnya literatur ilmiah hanya membahas suatu hal berdasarkan bukti logis-empiris. Padahal sikap toleransi didasari kesadaran yang bersifat spiritual, keyakinan orang per orang. Perbedaan sisi spiritual (keyakinan) tidak layak diperdebatkan, baik di ranah ilmiah apalagi hanya ranah medsos. Bisa ribut debat kusirnya.

Liam Then
Sikap mental orang maju, yang paling penting itu mau memgakui keunggulan orang lain. Apapun suku dan agamanya. Atau dari mana ia berasal. Kayu bakar tetap kayu bakar darimana pun asalnya. Tetap berguna. Belajar darinya ,ambil yang baik, buang yang buruk. Ini teori usang, gampang di ketik-kan tapi susah di kerjakan. Wkkwkwkw Sikap seperti ini banyak dipraktekan di negara maju. Di sana mereka dalam beberapa hal , mau mengakui keunggulan orang. NASA-nya Amerika contohnya. Itu tempat kumpul entah berapa macam suku ras. Di Tiongkok juga. Kota-kota modern mereka banyak yang di disain oleh orang barat. Apakah orang Tiongkok tak ada yang pandai tata rancang kota? Pasti ada, cuma mereka ngaku, disainnya orang barat yang di upah. Lebih baik lagi. Begitulah sikap yang saya harap berkembang di lingkungan politik negara kesayangan saya. Karena saya sedih, banyak tokoh politik yang saya kagumi, cenderung mendorong dan memberi jalan kepada anak dan saudara. Kalo sudah begitu saya jadi teringat, cerita keruntuhan Partai Butongpai di dunia Kangow, yang runtuh karena calon pengganti yang tidak kapabel. Juga sejarah banyak kerajaan di masa silam. Runtuh. Karena pengganti kaisar dan raja yang kurang oke kualitasnya. Jaman sekarang, model kuno pewarisan kekuasaan. Sangat beresiko. Di RI, nasib beratus juta orang taruhannya. Sungguh, saya tidak mengerti, kenegarawanan itu ada dimana? Apakah susah ketemunya?

Komentator Spesialis
Agama Islam itu sangat simple. Untuk urusan agama, ikuti saja tuntunan yang dibawa Rosulullah Muhammad SAW. Jangan membuat ajaran baru, inovasi baru atau yang lebih dikenal dengan istilah bid’ah. Jangan menggunakal akal, gunakan hati. Tetapi, untuk urusan dunia, masing masing dari kita lebih tahu urusannya. Silahkan berinovasi disini dalam koridor yang diperbolehkan agama. Jangan dibalik, urusan agama berivonasi, sedang urusan dunia melempem.

Liam Then
Para imuwan dan pemikir muslim kualitasnya tidak perlu di ragukan. Cuma yang saya perhatikan, di negara-negara yang penduduknya muslim. Peran para pemikir dan ilmuwan sangat jarang diutamakan. Di dalam sejarah sampai kontemporer. Seperti yang Pak SBY biasa bilang, saya prihatin. Sebab begitu kisah kehancuran dan keruntuhan didalamnya. Sekadar menyebut beberapa. Dinasti Ottoman, Iraq, Suriah, Yaman, Afghanistan, Libia Bayangkan saja betapa sia-sia. Membangun negara tidak seperti menanam singkong, 4-5 bulan tinggal dipanen. Membangun negara perlu proses berkelanjutan. Jika berkonflik kemudian hancur. Bayangkan berapa banyak upaya yang terbuang sia-sia. Karena itulah saya berpendapat, cendikiawan muslim dan pemikir muslim, entah prioritas nomer berapa di beberapa nama yang saya sebut diatas.

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button