Disway

Vivo 1.000

Oleh: Dahlan Iskan

INDOPOSCO.ID – “Tadi isi bensin, kok beda ya harganya. Yang di Karawang tadi Rp7.000-an. Di Sragen ini kok Rp10 ribuan ya….”.

Teman saya itu dalam perjalanan dari Jakarta ke Surabaya, Jawa Timur. Ia tidak memonitor berita. Ia tidak tahu ada kenaikan harga BBM, mendadak, ketika ia berada di tengah perjalanan dari Karawang, Jawa Barat ke Sragen, Jawa Tengah. Di Sabtu (3/9/2022) lalu.

Berita Terkait

Ia jadi saksi betapa mendadak pengumuman itu. Di akhir pekan pula. Saya jadi ingat Pak Jusuf Kalla (JK). Cara seperti itu telah menjadi bagian dari kecerdikannya. Pernah pada zaman Pak JK, harga BBM diumumkan justru di hari akhir menjelang bulan puasa.

Zaman Pak JK menjabat wakil presiden itu demo pasti meledak di setiap kenaikan harga bahan bakar minyak. Maka momentum mengumumkannya menjadi penting. Di bulan puasa konsentrasi umat beribadah. Berpuasa. Pun akhir pekan. Potensi demo turun drastis. Perhatian masyarakat di akhir pekan adalah pada liburan.

Sayangnya medsos tidak mengenal puasa. Juga tidak mengenal hari libur akhir pekan. Maka keributan tetap terjadi. Di medsos. Hanya di medsos. Toh akhirnya kenaikan harga BBM itu harus diterima.

Memang hanya ekonom Kwik Kian Gie yang tervokal menolak kenaikan harga BBM. Ia tidak bisa mengerti alasan pemerintah yang didengungkan selama ini: subsidi yang besar. Yang kalau ditotal mencapai Rp502 triliun.

Ekonom Anthony Budiawan juga tidak kalah vokal. Tapi saya menganggap Anthony itu Kwik Kian Gie juga. Satu lembaga kajian di Jakarta. Satu almamater di Rotterdam, Belanda.

Pak Kwik menelepon saya. Ia tidak habis pikir bagaimana di negara Pancasila perhitungan ekonominya ikut kapitalis. “Bagaimana ya cara meyakinkan para ekonom itu?” tanyanya.

Anthony punya cara sendiri. Ia terus menulis. Memperjuangkan pemikirannya itu. Tiap hari. Bahkan bisa sehari dua kali. Ia sebarkan tulisan pendek itu ke media. Juga lewat medsos pribadinya.

Rasanya, di negeri ini, hanya dua orang itu yang pemikiran ekonominya berseberangan dengan kebijakan pemerintah.

Rakyat punya pemikiran sendiri. Mereka kelompok yang tidak banyak berdaya. Mereka memilih cari cara sendiri. Agar bisa lebih hemat BBM.

Misalnya, ada pertanyaan seperti ini. Di medsos. Yang menjawab pun ribuan. Pertanda mereka satu nasib. “Mana yang lebih hemat, membeli BBM berdasar nilai uang, atau berdasar jumlah liter”.

Maksudnya, ketika Anda membawa sepeda motor ke pompa bensin, pilih mengatakan “membeli bensin Rp20.000” atau “membeli bensin dua liter?”.

Bukankah itu sama saja? Ternyata tidak. Lebih hemat kalau Anda mengatakan ingin membeli bensin berapa rupiah. Bukan ingin membeli bensin berapa liter.
“Kalau saya pakai liter pilihannya terbatas, satu liter, dua liter atau tiga liter.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button