Disway

Cinta Sejati

Mereka tidak mau perdagangan senjata disalahkan. Yang salah adalah orangnya.

Maka penembakan seperti di Uvalde itu belum yang terakhir. Tetap akan terjadi lagi.

Apa boleh buat. Berita duka lainnya: suami guru Garcia meninggal dunia. Hanya dua hari setelah sang istri tewas. Mereka mempunyai 4 anak. Yang sulung sedang pendidikan militer. Yang nomor 2 masih kuliah. Yang bungsu masih berumur 13 tahun. “Ia meninggal karena terlalu sedih campur kaget,” kata sepupunya. Dua hari ditinggal sang istri ia begitu murung.

Berita Terkait

Sang istri adalah cinta sejatinya. Cinta seumur hidupnya. Cinta sejak sama-sama di SMA. (*)

Anda bisa menanggapi tulisan Dahlan Iskan dengan berkomentar http://disway.id/. Setiap hari Dahlan Iskan akan memilih langsung komentar terbaik untuk ditampilkan di Disway

Komentar Pilihan Dahlan Iskan pada Tulisan Buya Perhatian

edi hartono

Selamat jalan Buya. Tokoh besar penjaga persatuan bangsa. Satu persatu negara ini ditinggalkan guru2 bangsa. Sebelumnya yg sudah mendahului adalah cak Nurcholis Madjid juga KH Hasyim Muzadi. Nama guru2 bangsa yg pernah saya lihat semasa hidup. Yang selalu mengingatkan pentingnya persatuan dan kerukunan; disaat2 dimana muncul figur2 yg mencolokkan perbedaan dan identitas pribadi mereka di mata publik yg beragam warnanya.

Mirza Mirwan

Man of Integrity. Itulah sebutan yang tepat untuk Buya Ahmad Syafii Maarif, Guru Bangsa yang berpulang kemarin pagi. Saya beberapa kali bertemu beliau, justru setelah beliau tidak menjadi Ketum PP Muhammadiyah. Di Yogya (Perumahan Nogotirto) maupun di Jakarta. Kalau apartemen yang dimaksud Pak DI tadi yang di Kuningan, sebenarnya pemberian seoran pengusaha (saya lupa namanya) yang tidak sampsi hati bila tokoh panutannya harus tinggal di hotel tiap kali ke Jakarta. Maka kalau ditanya soal apartemen itu, beliau bilang punya teman beliau. Beliau hanya sekadar menempati. Kalau saja pengusaha tersebut bilang sebelumnya, beliau pasti menolak. “Kalau tidak sanggup bayar hotel, toh saya bisa tidur di Maarif Institute,” kata beliau. Buya berpantang menerima pemberian orang. Maka sia-sia saja bila orang mencoba memberi gratifikasi dalam kedudukan beliau sebagai anggota BPIP, sejak masih menjadi Unit Kerja Presiden. Jauh sebelum meninggal beliau pernah dirawat juga di RS PKU Muhammadiyah. Sebagai mantan Ketum PP, pihak RS menggratiskan biaya perawatan beliau. Tetapi beliau ngotot ingin membayarnya. Ceritanya berbeda kalau soal urusan royalty buku-buku beliau. Meski jumlahnya tidak seberapa beliu pantang dirugikan. Menurut saya, Buya benar-benar meneladani akhlak Pak AR — bukan Amien Rais, lho, tetapi Abdul Rozak Fakhrudin. Sayangnya, kalau saya teruskan pasti terhalang batas karakter. Tabik.

Johan

Selamat jalan Guru Bangsa. Terima kasih untuk karya dan kontribusinya yang luar biasa untuk bangsa. Saya komentar sedikit mengenai Popwe yang Abah DI sebut di artikel. Potongan bilah bambu bernomor yang dikocok dikenal dengan nama Ciam Sie, (Mandarin : Qian Shi). Sebuah sarana untuk meramal yang bisa ditemukan di Kelenteng Konghucu, Tao, Tridharma, dan Budha Mahayana Tiongkok. Ciam Sie ini merupakan teknik meramal yang disederhanakan dari teknik meramal Yijing (Book of Changes / Kitab Perubahan). Dimana setiap bilah bambu diberi nomor atau langsung ditulis dengan syair atau cerita singkat yang diambil dari puisi dan cerita Tiongkok klasik. Hasil kocokan akan dibaca dan ditafsirkan oleh imam atau tetua agama yang bertugas di kelenteng. Mengenai akurasi dan kemanjuran hasil ramalan tergantung yang minta diramal dan kelihaian yang menafsirkan ramalan. Praktik Ciam Sie ini disamping meramal juga sebagai media konsultasi atas permasalahan hidup yang dihadapi orang yang minta diramal.

thamrindahlan

Berduka cita sedalam dalamnya atas wafat Bapak Bangsa Buya Syafii Maarif. Pemahaman kebangsaan Buya terkait keberagaman sungguh satu hal menyejukkan hati siapa saja. Hal ini menimbulkan kesadaran kesejatian diri bersebab manusia dilahirkan di muka bumi ini tidak bisa memilih. Siapapun seharusnya pasrah atas kejadian dirinya ketika dia berkulit putih, hitam dan juga coklat atau warna lainnya. Itulah takdir. Domain dan otonomi mutlak Tuhan Yang Maha Kuasa yang tidak perlu di permasalahkan lagi. Demikanlah sikap Buya Syafii Maarif nan penuh perhatian kepada siapa saja. Sikap itu terpatri di jiwa Gus Dur serta Bapak Dahlan Iskan dan tentunya kita semua. Dengan demikian kedamaian tercipta ketika perbedaaan itu hanya berkisar pada sebarapa besar sumbangsih kebaikan setiap anak manusia untuk keluarga tercinta, lingkungan, bangsa dan negara dan dunia. Insha Allah Buya Syafii Maarif Husnul Khatimah. Aamiin Ya Rabbal Alamin. Salamsalaman

Mudzakkir H.

Bedakan berpikir liberal dan perpikir moderat… Buya itu berpikir moderat bukan liberal atau sekuler. beliau kaya akan karya dan pemikiran namun tanpa kehilangan identitas keagamaan.

Budi Utomo

Bila Gus Dur dijuluki sebagai Neo-tradisionalis maka Cak Nur dan Buya Syafi’i dijuluki Neo-modernis sekembali Beliau berdua dari Chicago. Gus Dur menyebut Beliau berdua sebagai para pendekar dari Chicago. Apa istimewanya Chicago? Karena baik Cak Nur dan Buya Syafi’i menimba ilmu dari guru Neo-modernis yang sama: Fazlur Rahman Malik (1919-1988). Fazlur Rahman adalah ulama kelahiran Pakistan yang pandangannya semerdeka Gus Dur sampai-sampai difatwa halal darahnya oleh ulama Konservatif di Pakistan. Karena Fazlur Rahman menekankan kontekstual bukan tekstual dari Qur’an. Tahun 1968, Fazlur Rahman bermigrasi ke Amerika Serikat demi keselamatan dirinya. Di Amerika, Fazlur Rahman mengajar di Universitas California dan Universitas Chicago. Buya Syafi’i berkenalan dengan ajaran Neo-modernis dari Fazlur Rahman ketika kuliah S3 di Universitas Chicago. Demikianlah sejarah singkat Sang Neo-modernis, Guru Bangsa, yang inklusif, toleran. Gus Dur nya Muhammadiyah. Selamat jalan Buya. Selamat berkumpul kembali dengan Cak Nur dan Gus Dur.

Lena Wati

Kl ada keadilan , Tak akan ada persoalan yg mengganggu persatuan , Kl ada keadilan , Tak kan ada persoalan kemiskinan , Semoga pesan Guru Bangsa kt ini , Selalu menggema. Bangsa kita dan Generasi muda nya, Tertulari semangat Beliau u/ menggelorakan sila ke 5. Kl tdk ada keadilan , u apalagi kt hidup , apalagi hidup ber”Bangsa” , Selamat Jalan Guru Bangsaku, Murid2 dan Kader2mu senantiasa bertumbuh di Indonesia, bahkan u Dunia.

Jimmy Marta

Perginya guru bangsa. Buya Ahmad Syafii Maarif memberi keteladanan dalam kehidupan sehari hari. Berintegritas tak mau menerima macam2 fasilitas. Tak mempan rayuan harta dan tahta. Berpikiran jernih tempat meminta nasehat. Pemikiran yang moderat. Bervisi untuk persatuan bangsa. Negara Indonesia yg adil sejahtera. Selamat jalan buya. Semoga semuanya dipermudah untuk buya.

Gianto Kwee

Teringat Iklan Sampoerna Mild di tahun 2000 an, “Menjadi Tua Itu PASTI, Menjadi Dewasa Itu PILIHAN” Saya sangat kagum akan beliau dan terus belajar untuk makin Dewasa sampai menjadi Dewasa yang sempurna, yaitu tinggal dirumah Type 21

Mirza Mirwan

Mungkin banyak yang tidak tahu kalau Buya itu humoris. Kalau bercerita riwayat rumahtangganya, siapapun yang mendengar pasti geli. “Lif itu kan cantik, anak saudagar pula, kok ya mau jadi isteri orang miskin seperti saya,” kata Buya. Lif adalah panggilan isteri beliau, Nurkhalifah. Beliau juga memanggilnya “si Kecil”, karena perawakan Bu Lif yang kecil. Buya bilang, dulu menikahi Bu Lif tanpa modal — semuanya ditanggung mertuanya. Juga cerita bahwa rumahtangganya seperti kebanyakan rumahtangga lain. Sesekali terjadi juga pertengkaran kecil. Tapi begitu selesai bertengkar ya sudah. Tak perlu diungkit-ungkit lagi. Kalau mesti marah ya marah saja, jangan ditahan, nanti malah jadi penyakit. “Makanya saya itu heran, punya isteri satu saja ribut, gimana yang 3, 4, itu, ya!” kata Buya. Buya juga memuji Bu Lif sebagai sangat dermawan. Buya mengaku kalah soal kedermawanan itu. Itulah Buya Ahmad Syafii Maarif, Guru Bangsa, yang meninggal dalam usia 87 tahun (kurang 4 hari). Sebagai penerima Bintang Mahaputera Utama, Buya pasti tahu bahwa kalau meninggal ia berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Tetapi ia malah sejak Februari lalu sudah pesan ‘kavling’ di Pemakaman Muhammadiyah Khusnul Khatimah, di Kulon Progo. Kemarin itu saya sedih juga. Rencananya bakda Jumatan mau berangkat ke Yogya, tspi anak teman saya bilang jenasah Buya akan dimakamkan bakda Ashar. Jadinya hanya bisa Shalat Ghaib seusai shalat Jumat.

Akagami Shanks

Libur dulu bahas itunya. Besok saja. Mau menghormati ini dulu. Bukan itu poin kenapa saya ngeyel ini harus di bahas. Tapi ini saja sedikit bocoran. Pawang buaya harusnya berjaga. Supaya buaya-buya tidak melewati tembok pembatas. Jika sampai melewati tembok pembatas. Maka buaya-buaya akan gercep untuk membuka kulkas yang di dalamnya ada daging segar.

Waris Muljono

Semula hati saya “bombong” . Sy ini selevel sama buya, sang guru bangsa. Yaitu dlm hal sama sama pembaca disway. Semenit kemudian bombong saya ilang, ketika menyadari bahwa di level pembaca disway pun sy ga bisa di sandingkan dgn buya. Buya bisa langsung WA ke penulis disway, sy tidak. Utk menghibur diri, sy kembalikan bombong sy. Komentar sy di disway pernah jadi komentar pilihan, buya rasanya tak pernah. Heheh Lalu bombong sy ilang lagi. Karena komentar buya langsung ke WA , bahkan langsung di follow up. Bukan sekedar komentar, bahkan di buatkan tulisan obituary. Selamat jalan buya, sang guru bangsa

Juve Zhang

Sekalian turut berduka buat pak Ridwan Kamil yg anaknya hilang di sungai di Swiss, walaupun belum ketemu ,logika nya sulit bertahan di arus kuat dengan suhu dingin karena air lelehan salju. Beberapa hal kita catat dari berita. 1. Dilarang Berenang di sungai Aaree itu ditulis dalam 10 bahasa. Mengapa tidak baca pengumuman? 2. Istri pak RK dan anak wanita nya juga berenang , sungguh bahaya kalau semuanya hanyut. 3. Pak RK tidak mendampingi, kalau ada mungkin bisa ngasih warning, ingat kata kata Don Corleone, sang Godfather, “wanita dan anak anak boleh ceroboh, tapi Laki laki dewasa tidak boleh ceroboh”. 4. Eril anak Pak RK ke Swiss dalam rangka cari beasiswa buat S2, acungkan jempol buat niat cari beasiswa, biasanya kalau anak setingkat bupati/walikota saja malas nyari beasiswa karena di rumah sudah numpuk “cek ” ,”giro” ” emas batangan” “valas” berbagai negara, beasiswa itu sudah”kuno” menurut anak anak pejabat tinggi.

Komentator Spesialis

Bulan 5 baru awal musim panas. Bukan cuman air sungai. Buat kita di katuliatiwa kondisinya masih terasa dingin. Bisanya berenang itu bulan 7-8.

Mbah Mars

Ada kelakar di kalangan Muhammadiyah. Begini: Meski merokok adalah haram menurut Muhammadiyah, tetapi banyak juga para pimpinannnya yang merokok. Ketika ditegur, dengan enteng mereka menjawab, “Kami ini, para perokok di Muhammadiyah adalah pengikut Madzab Maliki. Sedang yang tidak merokok adalah pengikut Madzab Syafi’i”. Yang dimaksud Madzab Maliki adalah kelompoknya Pak Malik Fajar yg perokok berat. Sedang Madzab Syafi’i adalah Buya Syafi’i Ma’arif yg tidak merokok.

Mbah Mars

Buya Syafi’i memang pegiat pemikiran yg liberal di Muhammadiyah bersama-sama dengan Prof Amin Abdullah dkk. Meski pemikiran liberal tetapi jangan tanya kesalehan personal beliau. Jika kita mau menemui beliau, biasanya akan ditemui di masjid, selepas shalat berjamaah. Terasa sejuk dan nyaman, bertemu beliau di masjidnya.

Komentator Spesialis

Salah satu hal yang kontroversi dari beliau adalah pembelaannya terhadap ahok. Entah apakah beliau masih bahagia melihat ahok dalam mengelola Pertamina yang kabarnya akan rugi besar itu. Tidak menurunkan harga BBM saat harga minyak dunia turun. Tapi gercep menaikkan harga bbm saat naik. Bukan rahasia lagi beliau adalah pengusung paham Islam liberal di tubuh Muhammadiyah sendiri. Ada JIMM (Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah) dan juga Ma’arif Institute. Saya saat awal berdiri sering ke kantor Ma’arif Institute di Menteng, karena kebetulan banyak teman disitu. Di Muhammadiyah ada pemikir dan ulama. Ulama tempatnya di majlis tarjih. Syukurlah masih banyak mereka yang tidak terpengaruh pemikiran Islam liberal. Terlepas dari semua itu, jasa beliau kepada Muhammadiyah dan bangsa ini sangat besar. Kesederhanaan beliau. Kejujuran beliau. Tidak ambisi. Itu yang harus kita teladani. Kita doakan beliau Buya Syafi’i Ma’arif rohimahulllah husnul khotimah. Dilapangkan kuburnya, dan diberikan tempat yang baik di sisi Allah SWT. Selamat jalan Buya ! Selamat kembali ke kampung akhirat.

Liam Then

Intelektual sekaligus ahli agama yang sangat langka. Lantang berkata dan jelas bertindak .Terang pemikiran Pak Syafi’i Ma’arif mencerahkan pemikiran anak bangsa. Semoga damai abadi disana.

*) Diambil dari komentar pembaca http://disway.id

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button