Disway

99,2 Persen

Budi Utomo

Sudahlah Abah. Jangan bahas Terawan lagi. Kasihan beliau. Semoga Abah bisa membantu dengan “melupakannya”. Sama seperti Abah berusaha melupakan “urusan yang tak perlu” yang hampir saja menjebloskan Abah ke penjara. Walau Abah sama sekali tak bersalah dan Abah adalah menteri yang diam-diam saya kagumi selain Sri Mulyani di masa itu. Saya berharap Abah sehat dan berumur panjang. Dan bisa membaktikan diri untuk negeri. Sesuai janji Abah setelah menerima transplantasi hepar/lever. Melawan para oligarki-oligopoli yang kejam dan serakah yang masih menguasai negeri ini di belakang layar. Btw, terima kasih komentar saya pertama kali di DISWAY kemarin langsung dipilih. Ada hadiahnya gak? He he he.

Teguh Wibowo

Berita Terkait

Abah : “Saya bukan dokter, bukan peneliti, bukan ahli. Saya penulis.” Pembaca disway: “Saya komentator.” (sambil senyum mencep)

hilman g

Dulu sy suka heran knp bangsa kita gak maju2, dulu sy suka aneh knp kita banyak import macam2, dulu sy sering bingun kp sedikit sekali ilmu dan teknologi hasil pemikiran asli bangsa kita… Tapi skrg sy sdh mendapat jawabannya…. Karena bangsa kita hanya terdiri dari kampret dan kadrun yg cuman bisa bertempat tinggal di gua alias gak pernah bikin rumah sendiri… Setiap kampret ato kadrun bikin sarang sendiri maka yang lain akan iri dengki dan menghancurkan sarang tersebut. Bangsa kita bukan burung walet yang pandai membuat sarang masing2. Setiap walet boleh berkreasi sendiri tanpa saling mengganggu. Krn mrk tau sarang yg mrk bikin punya manfaat dan berharga tinggi. Banyak organisasi bangsa kita persis spt kampret dan kadrun, tidak mau saling support sesama bangsa, tp bersemangat saling menghancurkan dan menjatuhkan satu sama lain…

Pembaca Disway

Saya coba baca artikel ttg “intra arterial heparin flushing”.. dari tulisannya Pak Terawan (2016) dan Pak MH Machfoed (2016, ga nemu yg di versi 2022) malah pusing sendiri.. ternyata dokter bahasanya alien haha.. Ya sudahlah no comment saja.. Btw Pak Dahlan mungkin bisa share artikel yg di New England Journal Medicine.. siapa tahu ada yg mau baca.. saya cari artikelnya nggak ketemu..

Ahmad Zuhri

Apakah orang yg berobat ke dokter itu pasti sembuh? Tentu tidak.. ada yg sembuh, bahkan ada yg meninggal. Apakah orang yg transplantasi hati seperti Abah itu sehat kembali semuanya? Tentu tidak.. bos Indofood salah satunya jg meninggal. Disamping disiplin dan blm waktunya ‘pulang’ , banyak faktor yg berpengaruh juga.. Ada yg sakit berobat ke dukun, paranormal, tabib, Kyai, dll.. itu bagian dari ikhtiar. Kadang kita itu dinilai karena melewati proses/usaha yg dilakukan, bukan hasil akhir nya..

Faurizal M

Sudah bbrp tulisan terdahulu.menjelaskan bahwa testimoni dan dukungan dari para pasien orang besar tsbt berasal akibat efek plasebo dari heparin yang disemprotkan dalam prosedur DSA tsbt. Saya berpikir kayaknya heparin ini oleh neuro reseptor yg ada diotak di persepsi sebagai neuro transmitter yg menimbulkan sensasi rasa senang ,rasa segar , bugar dst. Dia juga puny efek sama seperti adrenalin, katekolamin ,hormon bahagia yg dihasilkan badan setelah selesai olahraga .juga senam dansa yg rutin pak Di lakukan.

muhammad gathmir

Mohon maaf sedikit sharing, 2018 Ibu Sy 79th DSA, kalau ketemu orang ditanya berobat apa, selalu dijawab tidak diapa2in & malah protes ke Sy kenapa ngabisin duit saja utk berobat yg nggak diapa2in. Sy yg setiap hari ketemu Ibu dan orang lain yg tahu bagaimana keadaan sebelum dan sesudah DSA, dapat melihat bagaimana cesplengnya DSA dari sebelumnya kalau jalan melayang2 dan harus pegangan, setelah DSA jadi tdk perlu pegangan dan Alhamdulillah skr sdh 83th masih bisa jalan tanpa berpegangan. Sy pernah menulis komentas disini ttg pengalaman mendampingi Ibu dan mengapa memutuskan utk membawa Ibu utk DSA (setelah menyaksikan dua saudara dekat berhasil DSA). Jadi sensasi segar mungkin saja terjadi, tapi khusus Ibu, dia tdk merasakan apa2.

Lukman bin Saleh

Kreen… Testimoni langsung. Tp bg org awam spt sy. Tdk peduli prosesnya spt apa. Tp pd akhirnya stroke sembuh. Ya obat stroke namanya. Bukankah begitu?

Edi Fitriadi

Kalau dalam buku khoping ho, untuk memperlancar aliran darah ke seluruh tubuh perlu bantuan seorang ahli tenaga dalam (ewekang) hehehe

Reply

achmat rijani

Ikke pernah berkata: “Senyumlah untuk semua orang, tapi hatimu jangan”.

Amat Kasela

Senyum Sesuatu yang berat Dilakukan meski saya suka senyum. Apalagi kalau sedang jalan bersama istri. Tidak bisa senyum ke semua orang. Senyum ke cewek tidak bakalan bisa. Yang ada, bisa-bisa istri yang tidak senyum lagi ke saya dan jadi pemicu perang dunia ke-3. Jatah: lupakan saja.

daeng romli

Klo senyum dr Terawan adalah bukan senyum yg menantang, senyum yg sinis atau senyum yg dimencep mencepkan. Ini ada guyonan suroboyoan antara Cak Sontolowo dgn Cak Kartolo : Sontolowo : Bojoku iku wonge sume, ketemu sopo ae mesem Kartolo : Lah iku lak apik seh cak….. Sontolowo : Iyo seh, tapi suwe2 tak sawang iku dudu mergo bojoku sume Kartolo : Lah terus mergo opo cak…. Sontolowo : Bareng tak gathekno, tibak e lambene bojoku cupet….. Kartolo : wakakakaka wes ngono ae Bah Salam sehat….

Pax Politica

Biasanya orang yang tidak punya kepentingan lebih mudah tersenyum dalam tekanan karena mereka bisa dengan mudah menyesuaikan diri dengan keadaan. Namun orang dengan kepentingan akan sulit tersenyum dalam tekanan karena mereka terlalu sibuk melawan terpaan badai yang menghambat arah yang ingin dicapai.

Fauzan Samsuri

Apa arti senyumnya p. Terawan yang tahu pasti ya p. Terawan sendiri, tapi kalau ada orang yang berbuat baik tidak peduli dibilang apa, dalam agama Islam termasuk kategori ikhlas yang ciri-cirinya ada tiga; 1. Menganggap sama pujian dan celaan dari manusia pada umumnya, 2. Melupakan perbuatan dari amal-amal baiknya, 3. Hanya berharap ganjaran akhirat (dari Dzun Nun dalam kitab At Tibyan karangan Imam Nawawi)

thamrindahlan

134 Selamat petang Menyambung # 28 koment pada urutan sahur dibawah fokus ke judul senyum tenang. Seandainya tidak bisa mengikuti 40 hari 40 malam untuk memastikan ke asli an kepribadian seseorang maka bisa ditempuh cara ke -2. Cara kedua itu adalah bertanya dari hati kehati kepada 5 orang. Mereka adalah orang terdekat yaitu istri/suami, ajudan, sopir dan pengawal serta sekretaris sekiranya Beliau itu pejabat. Anda Akan Tahu bagaimana perilaku pak bos terutama terkait senyum tenang itu. Salamsalaman

Liam Then

Ringkasan kronologis peristiwa : “Itu hanya DSA” *Senyum. “DSA itu teknik ini,ini,ini bukan pengobatan.” *Senyum “Sini jelaskan tekniknya” *Senyum “Pak Presiden, orang ini tidak tepat jadi menteri kesehatan” Diam ,eh senyum lagi *Covid datang* *Jadi kursi kosong* *Di berhentikan jadi menteri* *Tetap Senyum* *Di berhentikan jadi anggota IDI *Masih Senyum* Gak bisa praktek *Senyum ajaaaa* Aduh aduh aduh…Dr.T …saya jadi mau lihat kalo Dr.T sakit gigi, senyum nya gimana.

LiangYangAn 梁楊安

Pertanyaan seputar masalah ini masih saja menggelitik hati saya. Mengapa pihak-pihak yang terkait tidak menerima “terobosan yang dilakukan dr.Terawan” ?? Kalaupun metode dr.Terawan perlu penyempurnaan, ini adalah momentum yang sangat baik dalam perkembangan Ilmu Pengetahuan khususnya di Bidang Kedokteran. Saya jadi teringat akan kisah Si Genius Albert Einstein. Apakah Einstein selalu tepat dan benar dalam Teori Fisika ?? Jawabannya “Anda Sudah Tahu” (haha… pinjam ya Pakde Dahlan Iskan) ; ada cukup banyak kekeliruan Sang Genius di dalam Teori Relativitas yang di-teori-kannya, khususnya yang menyangkut Mekanika Kuantum, Konstanta Kosmologis, dlsb. Apakah dengan kekeliruannya tersebut lantas Einstein “dipecat sebagai Fisikawan” ?? Anda juga Sudah Tahu jawabannya : Tidak. Justru Kekeliruan Einstein tersebut (Ke-tidak sempurna-an) dalam Teori Relativitasnya menjadi landasan Fisikawan-Fisikawan yang lain untuk melakukan Riset yang masif, sehingga terjadilah kemajuan Science dan Technology yang berkaitan dengan Teori yang pada awalnya tidak sempurna tersebut. Terapannya pun kita rasakan manfaatnya saat ini, seperti Internet, GPS, dlsb. Sayang sekali… hal tersebut di atas tidak terjadi di sini, bahkan tersirat seolah-olah “hei… dr Terawan anda keliru !! stop atau dipecat !!” Tanpa ada terobosan (rintisan), maka kita hanya akan berkutat di satu titik, titik stagnasi.

Liam Then

“Sudah konsultasi ke dokter?” “Sudah” “Kapan” “Kemarin” “Dimana?” “Online” #lagitren

Pryadi Satriana

“Jawabnya selalu sama: saya ini hanya ingin menolong orang.” Ngomong2 ttg dokter yg menolong orang, saya teringat drg. Endang Witarsa – panggilan akrabnya Dokter Sun Yu. Ayah saya cukup dekat dg Dokter Sun Yu, yg melatih ayah waktu merumput di Persija, juga PSSI, sebelum hijrah ke Malang. Kepada pasien yg tidak mampu, Dokter Sun Yu tidak memungut biaya jasa, malah memberi uang. Hati Dokter Sun Yu gampang tersentuh, gampang menolong orang, secara spontan. Pernah suatu kali Dokter Sun Yu & ayah naik becak. Becak dihentikan seseorang. Ditodong. Dokter Sun Yu diminta dompetnya. Diberikan. Waktu penodong pergi justru dipanggil. Arloji Dokter Sun Yu malah diberikan. Merk Rolex. Ayah saya melongo. “Kasihan, dari matanya saya tahu ia orang susah. Ia nodong karena terpaksa,” kata Dokter Sun Yu. Itu cara menolong Dokter Sun Yu. Bagaimana dg Dokter Terawan – yg izin praktiknya masih sekitar dua tahunan, apa yg dimaksud beliau dg “hanya ingin menolong orang”? Apa pasien tak mampu digratiskan DSA, krn beliau sudah kuuaya raya? Apa bisa “mbayar pake kartu BPJS”? Apa Abah mau menanyakannya ke Dokter Terawan? Atau Abah justru malu untuk menanyakan “pertanyaan bodoh” tersebut? Saya kepo,”Pernahkan Dokter Terawan menggratiskan DSA kepada pasien yg datang, sekali saja?” Sehat selalu. Salam. Rahayu.

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button