Disway

Langkah Kuda

Ngobrol malam itu terlalu asyik. Senin pagi saya kembali ke kampus. Saya diskusi dengan rektornya: Dr Chairul Hudaya. Ia orang Sukabumi. Doktornya diraih di Korea Selatan.

Tentu saya juga melihat keindahan perbukitan yang dikombinasi dengan persawahan di kampus itu. Memang ada saluran irigasi teknis yang baik di situ. Yang dibangun di masa kepresidenan Megawati Soekarnoputri. Sawah pun menjadi subur.

Dari kampus, saya ingin menemui mahasiswa asing di Global Village. Saya harus berjalan kaki 1 Km di jalan kecil di tengah sawah. Tidak boleh ada kendaraan melewati jalan itu: kecuali kendaraan listrik. UTS memang sudah memproduksi sepeda listrik: NgebUTS  –dan saya sudah mencobanya.

Berita Terkait

Di ujung jalan itu: sungai kecil berbatu. Tanpa jembatan. Saya harus menyeberanginya: copot sepatu. Di seberang sungai ada dua kerbau bule yang melihat dengan takjub betapa takutnya kami dengan air yang hanya sedikit itu.

Malam sebelumnya ada 5 mahasiswa asing ikut nimbrung obrolan kami dengan Dr Zul: Sasa, gadis kulit putih dari Belarusia, Nurul Huda dari Lebanon, Mauro Nicolas Scabuzzo dari Argentina, dan Safi dari Iran.

Tapi Senin paginya saya hanya bertemu Mauro dan Nurul Huda. Yang lain sibuk kuliah. Nurul Huda ini menarik: namanyi sama dengan nama masjid terbesar di Sumbawa Besar. Dia lahir di Lebanon. Besar di Lebanon. Ayahnyi pun lahir di Lebanon. Tapi dia tidak boleh menjadi warga negara Lebanon. Nurul dianggap tetap warga negara Palestina. “Itu karena kakek saya lahir di Gaza,” ujarnya. “Jadi paspor saya ini paspor Palestina,” ujar Nurul.

“Pernah ke Palestina?” tanya saya. “Tidak pernah,” jawabnya. “Pernah ke Gaza,” tanya saya mempertegas. “Belum pernah,” tegasnya.

Dia warga Palestina, berpaspor Palestina tapi belum pernah melihat Palestina. Maka di UTS ini ada mahasiswa Katolik dari Argentina, mahasiswi Ortodoks dari Belarusia, Islam Syiah dari Iran. Ada juga yang Hindu dari Bali, dan Buddha.

Saya tentu salut pada Dr Chairul Hudaya. Ia memilih jalur mengabdi di tempat sunyi. Ia harus meninggalkan UI. Ia dosen di sana. Pernah menjadi dosen teladan nasional pula.

Ternyata di kota seperti Sumbawa Besar bisa muncul universitas besar –pada saatnya. Dr Zul sendiri minoritas di NTB –orang Sumbawa hanya 25 persen di NTB. Dan PKS juga bukan partai terbesar. Tapi ia bisa terpilih sebagai gubernur NTB. Itu menandakan Dr Zul lebih besar dari Sumbawa.

Maka kalau begitu banyak gubernur yang ingin jadi calon presiden atau wapres apakah Dr Zulkieflimansyah, gubernur NTB, juga akan ke sana? Dulu, PKS punya andalan Gubernur Jabar Achmad Heriawan. Kini telah punya satu lagi.

“Saya setuju kalau Indonesia ini punya tiga wapres,” ujar Dr Zul. “Agar Indonesia lebih rukun dan damai.” Rupanya Dr Zul tidak hanya punya banyak kuda. Tapi juga punya banyak langkah kuda. (*)

Anda bisa menanggapi tulisan Dahlan Iskan dengan berkomentar http://disway.id Setiap hari Dahlan Iskan akan memilih langsung komentar terbaik untuk ditampilkan di Disway.

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button