Disway

Tahun Komitmen

Terutama ketika sado yang menjemputnya tiba. Untuk membawanya ke kota –dari Kota Madiun akan naik kereta api ke Surabaya, lalu naik kapal laut ke Samarinda. Pak kusir membantu kakak saya menaiki sadonya.
Berangkat.

Tidak ada lagi bunyi sepatu kuda. Tidak ada suara apa-apa. Sedu dan sedan sudah lama mengeringkan air mata.

Sado pergi.
Kakak pergi.
Tetangga pergi.
Kerabat pergi.
Yang tinggal hanya sepi.

Berita Terkait

Ayah mengajak saya duduk di emper. Di atas balai-balai bambu –amben. Lantai tanah masih basah, bekas kebanyakan disiram air agar tidak berdebu.

“Dakelan… ,” kata ayah saya membuka pembicaraan. Ia tidak bisa mengucapkan ”h” yang berat di nama Dahlan. “Tahukah kamu kenapa ketika semua orang tadi menangis ayah tidak menangis?”
Saya diam.

“Sebetulnya ayah tadi juga ingin menangis. Tapi ayah ingat pesan guru. Harus bisa  mengikhlaskan apa saja,” katanya.
Saya masih diam.

“Ayah tadi tidak menangis karena sedang berlatih ikhlas. Ikhlas itu harus dilatih,” tuturnya. “Agar kelak, ketika kita menghadapi sakaratul maut, meregang nyawa, kita sudah terlatih untuk ikhlas.”

Ayah begitu fasih menirukan kata-kata gurunya. Guru yang dimaksud ayah adalah dalam pengertian guru spiritual: guru tarekat Syatariyah.

“Ayah khawatir, kalau kehilangan mbakyumu saja tidak ikhlas bagaimana kehilangan nyawa kelak,” ujar ayah.

Ikhlas harus dilatih. Latihan ikhlas harus dilakukan. Kata-kata ayah itu terus terngiang sampai saya besar. Sampai sekarang.

Berarti bersabar juga harus dilatih. Tersenyum juga harus dilatih. Mengucapkan terima kasih harus dilatih.
Latihan seumur hidup. Untuk menghadapi sakaratul maut kelak.

Komitmen juga harus dilatih.
Menulis di Disway setiap hari adalah latihan bagi saya untuk terus bisa memegang komitmen.

Banyak yang suka mengingkari komitmen dengan berbagai alasan –yang kadang memang masuk akal. Saya mencoba berlatih dengan cara yang keras: mengikatkan diri pada beberapa komitmen. Ada yang besar, ada yang kecil.

Menulis di Disway setiap hari adalah komitmen kecil. Karena itu, harus saya jaga. Apa pun halangannya.

Kadang muncul di perasaan untuk menyerah, tidak menulis –terutama ketika sangat suntuk. Lalu muncul perasaan tandingan: kalau untuk komitmen ringan ini saja mudah ingkar bagaimana dengan komitmen yang berat.

Perasaan tandingan itu yang selalu menang. Saya pun mulai memegang HP: menulis.

Komitmen seperti itu tentu berbeda dengan sekadar hobi wartawan purnabakti. Anda tahu itu. Bukan saja dalam menulis tapi juga dalam menjaga mutu.

Saya bersyukur bisa mengikatkan diri pada komitmen. Bahkan tidak hanya satu komitmen.

Saya tahu: Anda juga sudah mengikatkan diri pada komitmen pilihan Anda –saya tidak akan menghitung berapa komitmen yang Anda buat dan seberapa kuat talinya.
Selamat tahun baru.
Dengan komitmen lama. (*)

Anda bisa menanggapi tulisan Dahlan Iskan dengan berkomentar http://disway.id/. Setiap hari Dahlan Iskan akan memilih langsung komentar terbaik untuk ditampilkan di Disway

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button