Disway

Tubi Burek

Saya pun mendongak. Ups…banyak benalu tumbuh di rerantingan pohon teh besar itu. Daun benalu teh itu laku: saya tidak tahu. Bisa untuk obat: saya tidak tahu. Semua teman yang ikut ke rumah Tubi ternyata tahu mengenai khasiat daun benalu teh.

Tubi Burek
Dahlan Iskan Dengan Pohon Teh Yang Benalunya Dijual. Foto : Disway

Pada saatnya saya akan bertanya ke Prof Dr Mangestuti Agil, peneliti herbal di Unair: benarkah daun benalu teh bisa untuk menyembuhkan banyak penyakit. Saya memang selalu mem-forward postingan di medsos mengenai khasiat yang dibilang hebat dari satu tumbuhan, umbian atau buah.

Tubi juga pernah mencoba minum benalu daun kelor itu. “Mungkin terlalu banyak. Justru nyesek,” katanya. Begitulah kalau air terlalu banyak di tubuh Tubi. Ginjal tidak bisa memprosesnya jadi air kencing. Paru-parunya ikut dipenuhi air. Dan lagi Tubi kan takut kencing.

Berita Terkait

Tubi sebenarnya pernah mencoba pekerjaan lain: kuli bangunan. Pindah-pindah. Selama tiga tahun. Juga pernah mencari rumput. Untuk dijual ke peternak kambing. Tapi hatinya sudah sepenuhnya pindah musik. Pekerjaannya sebagai pengamen membuatnya kenal musik. Ia diajari sesama pengamen memegang gitar.

Perannya pun naik: dari hanya tepuk-tepuk tangan di pinggir jalan ke jreng-jreng pegang gitar. Lalu jadi vokalis. Ternyata ia suka sekali menyanyi. Lalu menciptakan lagu. Di antara banyak sekali ciptaannya, Rindu Tak Sampai itulah yang dianggapnya bernilai 10. Yang di setiap menyanyikannya mendorong linangan air matanya.

“Sebenarnya dia ingin kembali ke saya. Tapi ayahnya melarangnya,” ujar Tubi. Sampai pun Tubi menantingnya: pilih ia atau pilih ayahnya. “Kalau pilihannya itu saya pilih mati,” ujar sang istri seperti ditirukan Tubi.

Sejak itu Tubi berusaha melupakannya. Apalagi, dua tahun lalu, si dia sudah menjadi istri orang. Tubi ketemu gadis itu ketika sang gadis masih SMP. “Saya sering lewat depan sekolahnya,” kata Tubi.

Begitu si gadis tamat SMP mereka pun menikah. Tubi kini tinggal berdua dengan sang ibu. Ia masih punya sepeda motor. Ia masih bisa naik sepeda motor. Termasuk bila harus ke rumah sakit untuk cuci darah.

Kami pun membicarakan kemungkinan transplantasi ginjal. Tubi memilih menerima takdir. Sambil seminggu dua kali cuci darah. Ia tidak rela kalau harus menerima salah satu ginjal sang ibu. Sampai kapan Tubi akan cuci darah? “Ada orang yang sampai 23 tahun,” ujar Tubi.

Orang yang dimaksud adalah sesama penderita gagal ginjal yang tergabung dalam satu grup WA. Kalau malam Tubi juga masih bisa ikut diba’an –ritual menyanyikan lagu-lagu pujian pada Nabi Muhammad– bersama para tetangga. Meski mengaku tidak bisa membaca quran, Tubi bisa diba’an atau tahlilan.

Teman-teman Tubi juga masih sering ke rumah ini. Terutama kalau Tubi ingin membuat video untuk YouTube. Temannyalah yang merekamnya dengan HP Samsung miliknya. Tubi memang wakil ketua Komunitas Musik Jalanan (Komjal) Jawa Timur.

Istri saya minta Tubi menyanyikan lagu Rindu Tak Sampai itu. Tubi pun meraih gitar di sebelahnya. “Oh maaf, senar gitarnya putus. Senar paling kecil,” katanya sambil hendak meletakkan kembali gitar itu.

Saya lihat memang senarnya kurang satu. “Tidak apa-apa. Seadanya,” jawab istri saya. Kami pun mendengarkan lagu itu. Ikut terharu. Cinta yang kandas. Ayah yang pergi ke atas pohon. Kakak yang terlempar ke makam. Istri yang ingin kembali. Kini ibu dan anak adalah pengabdian dan harapannya. Kalau lagi kangen pada si anak, Tubi meneleponnya. Kadang si anak sendiri yang menelepon Tubi. Untuk dijemput. Kangen. (Dahlan Iskan)

Anda bisa menanggapi tulisan Dahlan Iskan dengan berkomentar http://disway.id/. Setiap hari Dahlan Iskan akan memilih langsung komentar terbaik untuk ditampilkan di Disway.

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button