Disway

Timur Musk

Telah Lahir Baterai Litium Made in Indonesia * — Widodo sendiri sudah lama bekerja di Nipress. Sejak masih muda. Sejak Nipress masih dipimpin kakek Richard. Setelah dua kali ke Nipress, akhirnya Richard setuju: Nipress bersedia memproduksi baterai lithium. Ia beli mesin-mesin baru.

Beli bahan-bahan baru. Ia bentuk tim baru, khusus untuk menangani baterai lithium. Saya tahu semua itu mahal. Terutama membangun jalur produksi baterai lithium mulai dari nol. Setahun kemudian saya minta maaf pada Richard: ide mobil listrik itu tidak jalan.

Saya merasa telah merugikannya. Tapi investasi sudah telanjur dilakukan. Tim sudah telanjur bekerja. Richard pun berusaha mengalihkan penggunaan baterai lithium produksi Nipress untuk non mobil listrik. Sebagian tim baterai lithium itu punya tugas baru: meneruskan penelitian untuk menemukan bahan baku baterai.

Berita Terkait

Widodo lantas fokus meneliti nikel. Ia lupakan penelitian lama di bidang timbal –bahan baku baterai basah. Richard sendiri tidak sulit mengikuti perkembangan tim penelitian Widodo. Richard adalah master engineering dari University Southern California (USC), Los Angeles. Di situ pula Richard lulus S-1 jurusan industrial engineering.

Nipress adalah perusahaan yang didirikan kakek Richard, Robertus Tandiono, di tahun 1970. Ketika kakeknya meninggal di tahun 2001, Richard sudah kembali dari Amerika. “Saya dekat sekali dengan kakek,” ujar Richard. Di Nipress, Richard menjabat dirut anak perusahaan: Nipress Energi Otomotif. Yakni salah satu perusahaan di Trinitan Group yang memproduksi baterai untuk semua jenis kendaraan.

Trinitan adalah holding company Nipress yang dipimpin oleh ayah Richard, Ferry Tandiono. Ketika kecil Richard tinggal bersama ayahnya itu di Pluit, Jakarta. Karena itu ia sekolah SD di Tarakanita Pluit. Ketika remaja orang tua pindah ke Cinere.

Richard masuk SMP Tirta Merta di Pondok Indah. Lalu masuk SMA di Singapura. Ketika proyek baterai lithium untuk mobil listrik gagal, tim lithium Nipress jalan terus. Mereka mencari apa saja yang bisa dikerjakan.

Didirikanlah anak perusahaan yang bergerak di energi baru. Produksi baterai lithiumnya dialihkan untuk mendukung perkembangan /solar cell/. Sebagian tim itu terus melakukan penelitian. Widodo terus meneliti nikel. Yang berkat dukungan Richard bisa berlangsung bertahun-tahun.

Sampai bisa berhasil sekarang ini. “Penelitian Pak Widodo berhasil dua bulan lalu,” ujar Richard. Yakni setelah pihak Jepang, JGC Holdings Corporation, melakukan validasi. Berarti hasil penelitian di Nipress itu sudah diakui oleh Jepang. Apa itu JGC bisa dilihat di link ini . Sebelum JGC itu pun sebenarnya BPPT dan kementerian ESDM sudah lebih dulu memvalidasi hasil penelitian Widodo itu. Nipress sudah mematenkan penemuan ini di banyak negara.

Termasuk Jepang dan Kanada. Hak paten itu menjadi milik PT Hydrotech Metal Indonesia (HMI) –anak perusahaan Nipress Energi Otomotif. Widodo Sucipto menjadi direktur utama di PT HMI. Widodo mendapat penghargaan sedikit saham di PT HMI. Saham selebihnya milik PT Nipress Energi Otomotif yang dipimpin Richard. Widodo (tengah) dan 11 tim riset Nipress /Widodo (tengah) dan 11 tim dari Nipress.

Richard sudah punya langkah besar berikutnya: PT HMI akan go public. Bukan di Indonesia tapi di pasar modal Kanada.

Richard ingin penemuan anak bangsa ini berkibar ke tingkat dunia. Elon Musk harus membaca ini. Juga seri tulisan besok pagi. Kalau masih peduli Indonesia. (*)

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button