Disway

Cobaan Karina

Usus sang ibu sudah berhasil dipotong. Sepanjang sekitar 60 cm. Di Jakarta.

Memang usus yang tersisa berhasil disambung. Sukses. Tapi protokol kanker masih mengharuskan sang ibu menjalani kemo. Teoretis, bibit-bibit kanker mungkin saja masih ada di sekitar itu. Atau di tempat lain. Itu harus dikemo. Agar tidak berbiak lagi.

Tapi sang ibu menolak untuk dikemo. Karina harus cari jalan lain. Karina ingat kunjungannya ke Korea Selatan. Waktu itu bersama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Saat Ahok masih menjabat Plt Gubernur DKI Jakarta.

Berita Terkait

Di Korea itulah Karina bertemu seorang profesor ahli stem cell. Waktu itu rombongan Ahok memang mengunjungi satu rumah sakit terkenal di bidang stem cell. Bahkan Ahok minta agar Karina membawa teknologi itu ke Indonesia.

Karina pernah mencatat nama profesor itu. Dia hubungi sang profesor, untuk melakukan stem cell bagi sang ibu. “Bawa saja ke Jepang. Lebih murah,” ujar sang profesor lantas memberikan arahan ke mana di Jepang itu.

Lebih murah yang dimaksud adalah sekitar Rp150 juta sekali stem cell. Harus tujuh kali pula ke Jepang. “Saya kuat-kuatkan. Saya akhirnya benar-benar kolaps. Mental dan finansial,” ujar Karina.

Satu-satunya yang menjadi obat dukanya adalah: sang ibu sembuh. Kini berusia 75 tahun. Masih aktif ke klinik, sebagai dokter ahli kulit.

Di Jepang itulah sang ibu juga menjalani stem cell T-Cell dan NK Cell. “Sampai sekarang sudah enam tahun. Ibu sehat sekali,” ujar Karina.

Karina begitu senang ibundanya sembuh. Lalu muncul tekad Karina untuk membawa teknologi stem cell T-Cell dan NK-Cell itu ke Indonesia.

Tekad itu tidak bisa menemukan jalan keluar. Mahal sekali. Kondisi finansial Karina lagi kolaps.

Saat itulah datang tokoh penting ke laboratorium Karina: Sandiaga Uno –sekarang Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Wajah Karina kuyu. Sandi mencoba mengorek kenapa Karina begitu sedih. Karina hanya diam.

Akhirnya tekad Karina untuk membawa teknologi T-Cell dan NK-Cell mengalahkan keengganannya. Sandi pun mau meminjami dana. Sampai Karina mendapat pinjaman bank.

“Begitu dapat pinjaman, utang ke Pak Sandi langsung saya lunasi,” ujar Karina.

Kesedihannya mulai hilang. Dia pun bisa melakukan penelitian di situ. Dia rampungkan disertasi S-3 di UI itu. Dengan topik stem cell. Telat sekali. Batas akhir DO (Drop Out)-nya atau pemutusan hubungan studi tinggal tiga bulan.

Karina lulus. Dengan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif tinggi) –tapi tidak mendapat predikat cum laude. Tertunda-tundanya ujian S-3 itu yang membuat dia gagal cum laude. “Yang penting lulus. Dan ibu sembuh,” kata Karina.

Karina bahagia. Ayah-ibunya melihat dia dinobatkan jadi doktor. Sang ayah, 78 tahun, kini juga masih aktif sebagai konsultan air minum.

Karina itu dokter. Spesialis bedah plastik. Doktor bidang stem cell. Pelopor aaPRP. Cantik. Rambut keriting. Mau apa lagi?

Dia ingin aaPRP jadi protokol nasional penanganan Covid-19. Jenis-jenis duka terberat sudah dia lewati. Ketakutannyi sudah habis. Tinggal yang tersisa: keberaniannya. (*)

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button