Disway

Budi Indonesia 1

Mutu mesin buatan Tan sangat terbaik terbukti perusahaan dagang Belanda, NV Ruhaak mau memasarkannya.
Belakangan ketika banyak perusahaan Belanda meninggalkan Indonesia Tan ”meneruskan” Ruhaak. Ia buat perusahaan trading bernama Rutan –singkatan Ruhaak dan Tan Brothers.

Ketika UU Penanaman Modal Asing (PMA) diberlakukan, 1970, Tan Tie Seng merangkul Mitsubishi. Untuk memproduksi mesin diesel.
Itulah sebabnya Tan menyekolahkan dua putrinya ke Jepang. “Zaman saya sekolah itu ke Jerman atau Eropa lainnya. Zaman kalian harus ke Jepang,” ujar Tan seperti ditirukan Budi Iskandar.

Tan sendiri tidak sekolah. Anak pertamanya, Budi Santoso, juga hanya sampai SMA. Budi Iskandar sampai ke ITS –jurusan mesin. Baru anak ketiga dan keempat sekolah ke luar negeri.
Modal Jepang memang sangat deras masuk ke Indonesia. Maka Tan Tie Seng meminta dua putrinya harus memahami Jepang sebaik-baiknya.

Berita Terkait

Kelak ketika Tan Tie Seng sakit di saluran empedu, memilih berobat ke Jepang –dirawat oleh dua putrinya di sana. Tan Tie Seng meninggal di Jepang.
Kerja samanya dengan Jepang membuahkan hasil nyata. Teknologi diesel Mitsubishi akhirnya dikuasai Agrindo. Ketika kerja sama dengan Mitsubishi berakhir, Agrindo sudah mampu memproduksi diesel sendiri. Menggunakan merek Diamond.

Budi Santoso dan Budi Iskandar adalah tokoh di ”perbatasan”. Ayahnya kelahiran Tiongkok. Ibunya asli wanita Madura –masih keturunan raja Sumenep. Namanya: Sri Indrajani. Dipanggil Nyonya Betty. Atau Tante Betty.

Begitu banyak orang Madura tinggal di Malang. Pun orang tua Sri Indrajani. Di Malang lah Tan dan Sri bertemu dan berjodoh.
Saking banyaknya orang Madura di Malang sampai ada guyonan: kelak kalau Madura menjadi provinsi tersendiri ibu kotanya di Malang.

Perkawinan Tan-Sri di Malang itu membuat posisi keluarga Tan unik. “Ayah bercerita, masyarakat Tionghoa menganggap ayah bukan Tionghoa. Masyarakat pribumi menganggap ayah bukan pribumi,” ujar Arief Santoso, anak kedua Budi Santoso.

Budi Santoso punya kelebihan lain: menjadi motivator. Juga mengajar. Terutama mengajar karyawan-karyawannya. Ia juga ikut mengelola lembaga pendidikan YPPI di Surabaya.
Bakat itu menurun ke Arief Santoso. Yang setelah lulus YPPI (dari SD sampai SMA) meneruskan kuliah di Wisconsin, Amerika Serikat. Di kota Milwaukee.

Sejak lima tahun lalu Arief menjadi dekan Fakultas Ekonomi Universitas Widya Kartika Surabaya –satu yayasan dengan YPPI.
Meski terlibat di Agrindo dan Rutan Arief lebih banyak aktif di pendidikan. Ia bertekad all out memajukan Widya Kartika yang masih ketinggalan dibanding banyak universitas dengan latar belakang Tionghoa lainnya di Surabaya.

“Banyak anak orang Tionghoa miskin kuliah di sini. Saya harus memajukan universitas ini. Agar mereka tidak kalah dengan yang kaya,” kata Arief.

Waktu terjadi krismon 1998, Arief harus pulang. Membantu perusahaan yang lagi sulit. Setelah kembali normal ia balik ke Milwaukee untuk menyelesaikan kuliahnya. Lalu mendapat gelar S-2 akuntansi dari Universitas Airlangga Surabaya.

Budi Santoso, Budi Iskandar dan anak-anak mereka juga jadi contoh perusahaan keluarga yang kompak. Budi Santoso mendirikan holding sendiri. Budi Iskandar juga punya holding sendiri. Kedua holding itulah yang menjadi pemegang saham di Agrindo dan Rutan. Itulah cara keluarga ini mengamankan perusahaan keluarga itu. Kelak, misalkan ada masalah di antara keluarga itu tidak akan menyeret Agrindo dan Rutan.

Kian modern cara keluarga kaya mengamankan perusahaan. Mereka telah belajar dari banyaknya kehancuran perusahaan keluarga di masa lalu. Ternyata ada pilihan lain selain IPO di pasar modal.
Bagi keluarga kaya, itu penting. Tapi juga penting bagi perekonomian negara di masa depan. (*)

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button