Disway

Laksamana Enam Bulan

Ia tinggalkan bank. Untuk hanya jadi ”politikus kasta sudra” bersama Megawati Sukarnoputri melawan Orde Baru. Laks, sebagai Bendahara Umum DPP PDI Perjuangan sama sekali tidak dapat jabatan setelah Kongres di Semarang, Jawa Tengah.

Untung kursi DPR yang ditinggalkan Laks ke BUMN belum diisi orang lain. Begitu tidak lagi jadi menteri dan tidak lagi di DPP PDI Perjuangan, Megawati langsung mengembalikan Laks ke DPR. Itu sekaligus sebagai pelampiasan kekecewaan Megawati pada Gus Dur. Sampai pun memberi Laks jabatan ketua fraksi.

Padahal hubungan presiden yang memecatnya dengan DPR lagi panas. Apalagi Gus Dur mengeluarkan keterangan baru: bahwa JK dan Laks itu dipecat karena terlibat korupsi. Gus Dur mengatakan mendapat berkas 400 halaman sebagai buktinya.

Berita Terkait

Tuduhan itu kian meruncingkan hubungan. Gus Dur sampai dipanggil DPR. “Berkas 400 halaman itu isinya seperti sampah,” ujar Laks. Gus Dur minta maaf di DPR, tapi hubungan sudah begitu buruk. Dimunculkan pula soal dana Sultan Brunei Darussalam dan dana Bulog. Gus Dur pun lengser.

Laks masih lumayan: enam bulan menjadi menteri. Hamzah Haz hanya tiga bulan menjabat Menko Kesra. Ia yang pertama dipecat Gus Dur. Padahal Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu sangat berjasa menggalang ”poros tengah” di DPR. Poros tengah itulah yang berhasil mengangkat Gus Dur sebagai presiden –mengalahkan Megawati yang memenangkan Pemilu 1999. Waktu itu pemilihan presiden masih dilakukan di MPR yang anggotanya masih didominasi anggota DPR –belum ada DPD saat itu.

Laks juga masih lumayan: diberhentikan dengan cara dipanggil ke Istana Negara. Waktu masuk ruang kerja presiden, Gus Dur sudah duduk di kursi Kepresidenan. Laks dan Jusuf Kalla diminta duduk di dua kursi yang ada di depan meja itu. Dari mulut presiden sendiri Laks mendengar pemecatan itu. Setidaknya tidak seperti Jenderal Wiranto. Yang dipecat dari jauh.

Laks ingat betul kasus Jenderal Wiranto itu. Yang dipecat dengan cara –seperti ditulis di buku itu– lebih menyakitkan. Waktu itu Presiden Gus Dur lagi berkunjung ke Eropa. Sejumlah wartawan berteriak-teriak dari jauh. Gus Dur berhenti dan mendengarkan teriakan itu. Salah satunya mempertanyakan Jenderal Wiranto.

Saat itu juga Gus Dur mengatakan kepada kerumunan wartawan tersebut: akan memecat Wiranto.
Keesokan harinya, di tempat yang lain, sejumlah wartawan mencegat Presiden Gus Dur lagi dari jauh. Mereka meneriakkan pertanyaan: apakah benar dan kapan akan memecat Wiranto. Gus Dur langsung menjawab: pasti akan memecatnya begitu ia tiba di Jakarta.

Gus Dur masih di Eropa beberapa hari lagi. Berita pemecatan Wiranto sudah lebih dulu menjadi berita besar di surat-surat kabar Jakarta.
Benar saja. Begitu mendarat di Jakarta Gus Dur memecat Wiranto.

Sejak pemecatan Hamzah Haz, Jusuf Kalla, Laksamana Sukardi, dan Wiranto itu, suasana perpolitikan nasional kian panas. DPR terus bergejolak. Laks sudah menjadi ketua fraksi terbesar di DPR.
Maka terjadilah sejarah itu. Gus Dur lengser. Megawati menjadi presiden. Laksamana Sukardi kembali menjadi Menteri BUMN.

Banyak sekali kisah bagaimana Laks jadi menteri di bawah Gus Dur. Semua ditulis secara detail –dan ada kocaknya. Misalnya bagaimana Gus Dur secara mengejutkan mengangkat tokoh-tokoh besar dunia sebagai Penasihat Presiden: Henry Kissinger (mantan Menlu Amerika yang legendaris), Lee Kuan Yew (mantan PM Singapura yang hebat), dan Paul Volcker (mantan pimpinan Bank Sentral AS).

Gus Dur mengundang mereka untuk ke Jakarta, bertemu langsung dengan presiden. Sebelum ke presiden mereka bertemu Laks minta bahan-bahan masukan. Dalam hati, Laks berkata: kok mereka itu serius sekali, padahal Gus Dur banyak candanya. Laks pun minta agar setelah bertemu presiden mereka memberi kabar bagaimana hasilnya.

“Saya kira sulit bagi kami untuk memenuhi keinginan presiden,” kata mereka seusai bertemu Gus Dur. Di sebagian besar waktu pertemuan itu Gus Dur tertidur. “Kelihatannya presiden terlalu lelah,” kata mereka.

Laks awalnya adalah bankir serius yang mapan. Ia lulusan Teknik Sipil ITB. Ia bangga bisa di universitas, fakultas, dan bangku yang sama dengan Bung Karno. Maka ia terinspirasi untuk jadi pejuang. Ia merasa hidupnya sia-sia kalau hanya untuk mencari uang.

Maka Laks memilih aktif di PDI Perjuangan. Sejak partai itu masih disudut-sudutkan penguasa saat itu.
Bahwa buku itu ia tulis sendiri dengan baik, Laks memang punya darah wartawan. Kakeknya wartawan. Bahkan tokoh perintis pers Indonesia: Didi Sukardi. Ayahnya pun wartawan terkenal di Antara: Gandhi Sukardi. Adiknya wartawan terkemuka. Pernah menjadi Sekjen PWI Pusat: Wina Armada Sukardi.

Kini Laks sedang menulis buku kedua. Segera terbit. Ia akan bercerita di seputar kasus yang sempat menyeretnya diperiksa Kejaksaan Agung.

Dari buku yang sudah terbit itu saya menjadi tahu bagaimana cara Megawati membela kader utama partai. Yang kadang tidak bisa dilakukan akibat rumitnya persoalan. Megawati terlihat tidak mau membela orang-orangnya secara frontal –terutama ketika yang dihadapi adalah TK, suaminyi sendiri.

Tapi, seperti terhadap Laks, Megawati begitu memperhatikan. Untung, di saat lagi seperti tidak dibela, Laks tetap loyal kepada Mega. Akhirnya Laks dapat posisi istimewa lagi: menjadi menteri BUMN untuk kali yang kedua.

Gara-gara membaca buku itu saya terdorong mencari nomor kontak Laks. Saya baru sadar belum pernah berkenalan, bertemu, atau berbicara dengan Laks.

Maka saya WA Laks: apakah Anda menerima reaksi keras dari kelompok-kelompok yang Anda tulis?
“Dari kelompok Gus Dur tidak ada reaksi. Megawati tidak ada masalah. Mungkin TK akan marah kalau masih hidup. Anyway mereka tidak pernah baca!” jawabnya. (*)

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button