Disway

Garuda Ayolah

Tidak hanya komisaris seperti mbak Yenny Wahid yang akan mendampingi. Juga komisaris seperti Peter Gonta pasti mau diajak serta. Malunya ditanggung rame-rame. Saya pun tidak keberatan ikut mengantarkan ke PKPU –meski akan terasa lucu.

Peter Gonta adalah komisaris mewakili pemegang saham 29 persen: Chairul Tanjung (CT). Di antara lima kursi komisaris dua dari CT. Yakni Chairal Tanjung (adik Chairul Tanjung) dan Peter Gonta.

Minggu lalu Peter bikin heboh. Ia membuat surat ke direksi. Surat itu bocor ke medsos (media sosial). Peter sendiri yang membocorkan. Ia tidak peduli hal seperti itu melanggar aturan perusahaan dan aturan sopan santun. Ia sudah merasa tidak ada jalan lain untuk menyuarakan pikirannya untuk memperbaiki Garuda.

Berita Terkait

Realitasnya, Garuda kini menyewa 90 pesawat –termasuk untuk kebanggaan saya: Citilink. Dari jumlah itu hanya 40 pesawat yang terbang. Akibatnya, dari 1.500-an pilot hanya 700 yang harusnya berdinas. Tapi Garuda terus membayar sewa pesawat yang tidak terbang itu. Juga membayar penuh kelebihan pilot dan karyawannya.

Memang direksi Garuda sudah melakukan negosiasi dengan lessor. Sudah ada juga yang berhasil. Atau agak berhasil. Tapi negosiasi itu dianggap kurang keras. Mungkin karena kita orang timur. Padahal uang tidak mengenal suku dan agama.

Salah satu contoh yang ‘agak berhasil’ itu adalah: sewa sudah bisa turun. Tapi kurang banyak. Masih berat. Dan lagi pesawatnya masih harus parkir di Jakarta. Itu berarti sewa parkir, perawatan dan asuransi masih menjadi tanggungan Garuda.

Garuda, kabarnya, sudah menunjuk perusahaan asing untuk melakukan negosiasi itu. Tapi tetap saja negosiasi terbaik adalah oleh orang kita sendiri. Yang memang punya jiwa sebagai negosiator. Juga punya kemampuan. Termasuk bahasa.

Negosiasi itu sendiri akan lebih kuat atas perintah pengadilan. Dengan batas waktu yang jelas. Tidak perlu malu. Toh nyaris semua negara mempunyai mekanisme seperti lewat PKPU itu. Yang kalau di Amerika kita kenal sebagai Chapter 11.

Memang, Dirut Garuda –seperti yang dikemukakan di TV One tiga hari lalu– mengatakan Garuda akan baik-baik saja. Di forum TV One itu saya tergelitik atas penjelasan Pak Dirut itu. Maka saya pun bertanya pada Pak Dirut: apakah sampai tiga bulan ke depan Garuda masih akan bisa terbang normal?
Saya ingin tahu yang pasti-pasti saja.

Jawabnya begitu meyakinkan: sampai tiga bulan ke depan masih akan bisa terbang normal. Bahkan tidak hanya tiga bulan. ”Selama-lamanya,” ujarnya.

Tapi saya juga tahu: Garuda untuk bisa membayar gaji saja sudah harus dengan cara menjual tiket masa depan. Lewat perusahaan biro perjalanan.

Saya tetap salut bahwa direksi sudah sedang melakukan negosiasi dengan lessor. Tapi tanpa batas waktu yang pasti mereka akan terus buying time. (*)

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button