Disway

VakNus Terakhir

Kami belum tahu hasil penelitian itu. Kami sadar hasilnya kemungkinan bukan untuk kami. Tapi untuk kepentingan umum. Akan dipublikasikan di jurnal internasional.

Tentu hasil itu juga bukan untuk BPOM –badan yang mengeluarkan izin untuk obat dan makanan. Itu karena uji coba VakNus ini memang tidak diakui oleh BPOM. Bahkan tidak diizinkan untuk dilaksanakan.

Awalnya saya mengira hasil uji coba fase 1 dan 2 di Indonesia ini akan menjadi jurnal kedokteran pertama di tingkat internasional. Di bidang terapi vaksin sel dendritik.

Berita Terkait

Itu lantaran para penentang VakNus sering menjadikannya alasan: belum ada satu pun jurnal internasional yang membahas terapi dendritik.

Ternyata sudah ada. Belakangan ini. Dari Italia. Kita kecolongan satu langkah. Akibat terlalu lama usreg.

Nama jurnalnya: PubMed.gov. Nama penulisnya: Mona Kamal Saadeldin. Bersama dua dokter lagi dari Milan (Italia) dan Kairo (Mesir).

Dari nama mereka kelihatannya itu peneliti keturunan Arab.

“Jadi, sekarang sudah ada di jurnal. Dunia lagi ramai membahasnya,” ujar Letjen TNI dokter Terawan Agus Putranto kemarin.

Dalam jurnal itu disebutkan, kata Terawan, bahwa penggunaan terapi vaksin sel dendritik adalah “awal dari berakhirnya pandemi Covid-19”.

Terawan memang menjadi salah satu panelis di seminar mempercepat penanganan Covid dan keamanan kesehatan nasional. Yang penyelenggaranya RSPAD Gatot Subroto sendiri.

Selasa pagi. Kepala Staf TNI AD Jendral Andika Perkasa menjadi pembicara utama. Salah satu topik yang dibahas adalah Terapi Vaksin Sel Dendritik.

Di situ, Terawan tetap menunjukkan semangatnya dalam mengembangkan VakNus. Besarnya hambatan seperti tidak menggoyahkannya. Sama sekali. “Kami segera memublikasikan hasil uji coba fase 1 dan 2 di jurnal internasional,” kata Terawan, yang berbicara setelah Kolonel dr Jonny.

Terawan juga membanggakan RSPAD yang telah ambil inisiatif di berbagai penelitian kesehatan. Ia juga membanggakan tim di situ yang telah mulai mendalami sel dendritik sejak 2015.

Saya sendiri harus memberikan penjelasan tambahan pada relawan dari Surabaya. Yang semula cara berpikir mereka masih terpola oleh vaksin yang sudah ada. Termasuk: mereka ingin tahu berapa tingkat antibodi mereka setelah diVakNus.

Padahal untuk VakNus ini tidak ada istilah ”sudah punya antibodi berapa banyak”. Yang jumlahnya bisa diketahui melalui test elisa di laboratorium.

“Kalau Anda ke lab dan minta dicek kadar antibodi, hasilnya akan nol,” kata saya pada mereka. “Kemampuan menangkal Covid lewat VakNus akan diketahui dari test ELISpot. Bukan dari test elisa seperti biasa,” ujar Dokter Jonny yang kemudian saya teruskan ke relawan.

Setiba di Surabaya saya semakin menyadari: tidak mungkin dua aliran ini bertemu. Masing-masing punya definisinya sendiri. Caranya sendiri. Kemampuannya sendiri. Bedanya: yang satu mengekor. Yang satunya mencoba jadi induk. (*)

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button