Disway

Budaya Rujak Pare

Oleh: Dahlan Iskan

INDOPOSCO.ID – Makanlah rujak pare dan sambal jombrang. Tiap  13 Mei –seperti Kamis (13/6/2021) lalu. Begitulah cara baru mengenang kerusuhan Mei 1998.

Memang ada yang menempuh cara budaya untuk memperingati kerusuhan besar itu. Itulah kerusuhan yang menjadi tonggak munculnya era demokratisasi di Indonesia sekarang ini.

Berita Terkait

Yang menggagas gerakan ”rujak pare dan sambal jombrang” ini adalah tokoh Tionghoa Semarang: Harjanto Halim. Nama Tionghoanya Liem Toen Hian (林敦贤).

Gerakan makan “rujak pare dan sambal jombrang” ini disertai pakai pita hitam di lengan. Cara itu melengkapi cara-cara lain yang ada selama ini.

Misalnya ada kelompok yang minta peristiwa harus dilupakan saja. Agar tidak mengusik ketenangan yang sudah tercipta.

Ada pula yang ingin memaafkannya tapi jangan melupakannya. Ada lagi yang ngotot agar peristiwa tersebut  harus diusut siapa dalangnya.

Keadilan dan kebenaran harus ditegakkan.

Harjanto memilih jalan budaya. Ia ingin setiap 13 Mei, masyarakat Tionghoa membuat rujak pare dan sambal jombrang. Yang sangat  pedas.

Harjanto sampai menciptakan resep sendiri. Juga uraian bagaimana cara pembuatannya. Resep itu  sudah ia masyarakatkan lewat medsos (media sosial).

Ia sendiri punya medsos yang ia namakan ”DaHar” –Dapur Harjanto. Dahar –yang dalam bahasa Jawa berarti makan– memuat banyak kegiatan dari rumah perkumpulan Boen Hian Tong (BHT). Harjanto sendiri adalah ketua BHT –yang dalam bahasa Indonesia disebut Perkumpulan Rasa Darma Semarang, Jawa Tengah.

Kamis (13/5/2021) malam, ia kembali membuat rujak pare dan sambal jombrang. Untuk disajikan di altar sembahyang di kelenteng itu. Juga untuk disajikan bagi mereka yang ikut peringatan peristiwa Mei 1998 di situ.

Di altar itu kemarin juga diadakan upacara khusus:  menempatkan ”sinci” baru. Yakni sebilah kayu yang ditulisi nama seseorang yang sudah meninggal dunia.

Nama yang ada di sinci baru itu adalah: Ita Martadinata Haryono. Dia seorang gadis berumur 17 tahun. Kelas 2 SMA. Dia meninggal dunia pada 9 Oktober 1998. Badannya tergeletak di lantai di kamar atas rumah orang tuanya. Di Jakarta Timur. Lehernya nyaris putus. Ada kayu tertancap di vaginanya.

Nama Ita perlu ditempatkan di altar tersebut sebagai simbol korban kerusuhan Mei 1998.

Di altar tersebut, pada 2014, juga ditempatkan sinci orang terkenal: KH Abdurrahman Wahid. Gus Dur. Presiden keempat kita.

Dengan demikian siapa pun yang sembahyang di altar itu akan otomatis sembahyang juga untuk Gus Dur dan Ita Martadinata.

Sebagai aktivis Tionghoa, Harjanto terus berpikir bagaimana menempatkan peristiwa kerusuhan Mei 1998. Yang tidak perlu membuka luka lama tapi juga jangan sampai melupakannya. Maka ia memilih lewat cara budaya itu.

Sudah menjadi budaya di kalangan Tionghoa untuk selalu memperingati sesuatu dengan sajian makanan. Ada hari raya bakcang, hari raya rebutan, hari raya Imlek, cap gomeh –yang semuanya serba bernuansa makanan.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button