Disway

Rombongan Nusantara

Oleh: Dahlan Iskan

INDOPOSCO.ID – Mereka harus bolak-balik Surabaya-Jakarta. Tiap minggu. Untung sudah ada jalan tol. Kemarin, mereka ke Jakarta lagi –untuk kali yang ketiga.
Begitulah konsekuensi menjadi relawan Vaksin Nusantara (VakNus) dari luar Jakarta. Atas biaya sendiri –saya tinggal mengadakan busnya.

Sebenarnya mereka sudah diberi penjelasan panjang lebar. Agar jangan memaksakan diri. Yakni ketika untuk kali pertama ke Jakarta: bahwa mereka harus berkali-kali ke Jakarta. Mereka diingatkan harus mempertimbangankan diri baik-baik.

Berita Terkait

Waktu pertama ke Jakarta itu 30 orang. Semuanya tetap mau jadi relawan –kecuali satu orang. Sebenarnya ia juga ingin sekali. Tapi ia merasa akan terlalu sering meninggalkan pekerjaan.

Dari yang mau dan mau itu barulah RSPAD Gatot Subroto Jakarta mengadakan seleksi. Dengan cara mengambil darah mereka. Tidak semua bisa memenuhi syarat sebagai objek penelitian.

Dari seleksi itu diketahuilah ada yang sudah punya imunitas tinggi. Ada pula yang sedang dalam keadaan sakit khusus. Atau sedang dalam masa minum obat tertentu secara terus-menerus.

Yang ingin hamil mestinya juga tidak diterima, tapi di antara kami tidak ada yang tidak lolos dengan alasan ingin hamil. Mereka bersedia menahan nafsu selama menjadi objek penelitian –atau harus mengenakan kondom.

Akhirnya 15 orang yang lolos bisa jadi objek penelitian. Dari 15 itu yang empat orang tinggal di Jakarta: seorang wanita pembaca Disway, seorang pengusaha UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah) yang karena gigihnya saya beri gelar wanita Disway, ayah teman saya yang kini tinggal di New York, Amerika Serikat –berarti mertua pencipta lagu Lilin-lilin Kecil, James F. Sundah.

Yang 11 orang dari Surabaya, Jawa Timur itu kemarin ke Jakarta naik bus wisata. Senin (3/5/2021) petang, setelah berbuka puasa, mereka berangkat. Sepanjang malam di jalan tol. Jam 6 pagi sudah tiba di Cawang, Jakarta Timur. Mereka masuk hotel di situ –milik sang mertua tadi. Mereka senam-dansa di halaman hotel itu: 20 lagu. Siangnya baru ke RSPAD.

Ke Jakarta yang pertama dulu hanya untuk seleksi dan pengambilan darah –setelah melalui berbagai pemeriksaan kesehatan.
Darah itulah yang diproses di lab di RSPAD. Hanya untuk diambil sel dendritiknya. Sel dendritik itu lantas diproses. Agar memiliki imunitas terhadap Covid –termasuk akan menjangkau varian-varian baru Covid-19.

Minggu berikutnya mereka ke Jakarta lagi. Sel dendritik yang sudah memiliki imunitas itu disuntikkan kembali ke mereka. Saya ikut disuntik meski bukan sebagai objek penelitian.

Begitu disuntik mereka kembali lagi ke Surabaya. Jam 4 subuh mereka baru tiba. Sebagian langsung menuju tempat senam kami di Rumah Gadang, Injoko, Surabaya.

Selama seminggu di Surabaya itulah sel dendritik yang disuntikkan tadi “mengajar” sel-sel di dalam tubuh. Agar sel-sel di tubuh itu bisa ikut memiliki imunitas.
Apakah selama seminggu itu mereka sudah memiliki imunitas yang cukup?

Itulah. Mereka harus diperiksa. Karena itu kemarin mereka ke Jakarta lagi. Diambil darah lagi. Dari pemeriksaan itu akan diketahui siapa yang sudah punya imunitas. Lalu seberapa banyak imunitas tersebut.

Mungkin –asumsi saya– mereka belum akan diberitahu hasilnya. Sewaktu disuntikkan kembali ke tubuh mereka minggu lalu tentu dosisnya tidak sama. Itu untuk mengetahui pada dosis berapa Vaksin Nusantara itu dianggap paling ampuh.

Yang jelas, selama seminggu setelah penyuntikan itu tidak ada keluhan apa-apa. Pun yang paling ringan. Itu sama dengan yang dialami mantan Menteri Kesehatan (Menkes) Prof Dr Siti Fadilah Supari, konglomerat Aburizal Bakrie, mantan Sekretaris Kabinet (Seskab) Sudi Silalahi, dan penyanyi Anang Hermansyah beserta istri dan anak laki-lakinya.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button