Disway

Wakaf Produktif

Lalu di mana uang wakaf itu sekarang disimpan?
”Sebagian besar di Sukuk,” ujar Pak Nuh.

Yang dalam bentuk uang, nilainya sekitar Rp800 miliar. Sedang yang dalam bentuk tanah ribuan hektare.
Apakah ada uang wakaf yang dibelikan SUN (surat utang negara)?
”Tidak ada. Kan harus syariah,” ujar Pak Nuh.

Apakah kelak boleh dimasukkan ke dalam SWF (sovereign wealth fund) yang kini sedang dibentuk pemerintah?
”Belum dibicarakan. Harus dikaji dulu,” katanya.

Berita Terkait

BWI sendiri punya proyek uji coba. Yakni membangun rumah sakit mata di Serang, Banten. BWI membentuk perusahaan bersama Dompet Dhuafa (DD). Sahamnya 51 persen DD, 49 persen BWI.
”Pada 2017 dan 2018 masih rugi. Tapi 2019 sudah laba Rp2 miliar. Dan pada 2020 laba Rp5 miliar,” ujar Pak Nuh.

Tahun ini RS mata Serang itu akan dilengkapi dengan pusat retina dan kornea. Untuk pembiayaannya pak Nuh mencari akal. Lahirlah istilah ”wakaf sementara”.

Pak Nuh pun mencari orang yang mau mewakafkan sementara uangnya. Selama lima tahun. Nilainya Rp50 miliar. Dapat. Uang itu harus dijaga agar lima tahun lagi bisa dikembalikan secara utuh.

Maka Pak Nuh memasukkan uang wakaf sementara tadi ke Sukuk (asuransi syariah). Lalu mencari pinjaman ke bank Syariah untuk membangun pusat retina dan kornea tadi.
Cicilan bulanan ke bank tersebut dibayar dari hasil bulanan pembelian Sukuk.
Hemmm.

Wakaf sudah begitu berkembang. Sekarang ini Pak Nuh melihat ada tanah wakaf, sudah lama, di Cirebon. Tiga hektare. Dekat Hotel Aston. Tengah kota.

Di situlah juga akan dibangun RS mata seperti di Serang. Dengan pola yang sama. Akhirnya nanti akan dibangun banyak RS mata di banyak daerah. Memanfaatkan tanah wakaf yang sudah lama ada. ”Di pusat kota Padang ada juga tanah wakaf tiga hektare. Bisa dibuat lebih produktif,” ujar Pak Nuh.

Bahkan di Tanah Abang, Jakarta Pusat, juga ada tanah wakaf tiga hektare. ”Kami lagi mengurus ke Gubernur DKI Jakarta. Agar status tanah sosial di situ bisa diubah ke tanah komersial. Nilainya triliun rupiah,” ujar Pak Nuh.

Pak Nuh melihat potensi wakaf uang ini luar biasa. ”Sekarang orang sudah bisa wakaf hanya dengan uang Rp10.000,” ujarnya. Dan pahalanya akan abadi mengalir terus sampai yang berwakaf itu di akhirat kelak.

Bahkan Pak Nuh cenderung menggalakkan wakaf kecil-kecil seperti itu asal jumlah orangnya banyak sekali.
BWI sendiri harus mencari sumber dana untuk biaya operasional. Yang, menurut UU Wakaf pada 2004, hanya boleh dari sebagian laba usaha. Nilainya pun tidak boleh lebih dari 10 persen dari laba.
Memproduktifkan wakaf ternyata menemukan jalannya. (*)

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button