Headline

Diplomasi Jokowi dan Pilihan Baju Adat Badui

INDOPOSCO.ID – Sejak kemunculannya dalam kancah perpolitikan nasional, sosok Joko Widodo (Jokowi) selalu tampak menerapkan politik simbol. Ia bermain-main dengan filosofi dalam wujud simbol-simbol yang jika dimaknai kerap kali merupakan sindiran yang dalam terutama bagi lawan-lawan politiknya.

Boleh jadi hal itu menjadi ciri orang Jawa tulen yang senantiasa meminjam istilah kesantunan untuk tidak secara frontal dalam menyampaikan sesuatu. Tak terkecuali dalam hal pemilihan baju yang dikenakannya. Jokowi tak pernah sembarangan memilih segala apa yang dikenakannya.

Ia mencermati satu per satu setiap hal yang dipakainya termasuk untuk menunjukkan citra kesederhanaan yang dipilihnya sejak awal. Baju adat Badui hanya satu dari sekian banyak yang telah dipilih Jokowi sebagai caranya berdiplomasi kultural dengan masyarakat di pedalaman Banten.

Sekretaris Pribadi Presiden Anggit Nugroho saat dikonfirmasi terkait alasan di balik pemilihan baju adat Suku Badui tersebut mengatakan, Presiden Jokowi memilihnya lantaran desainnya sederhana, simpel, dan nyaman dipakai.

Selain itu, baju tersebut dipilih dari sekian banyak baju adat di Indonesia karena dianggap Jokowi sangat sesuai sesuai dengan kondisi Indonesia yang saat sedang menghadapi Pandemi Covid-19. Jokowi melihat dalam baju tersebut ada makna tentang kesederhanaan, kemandirian, ramah alam, dan pesan kearifan lokal.

Anggit menceritakan awal mula Jokowi memilih baju adat Badui saat akan menyampaikan pidato kenegaraannya dalam sidang tahunan di Senayan, Jakarta. Ia mengaku mendapatkan tugas setiap tahunnya untuk menyiapkan pakaian adat dari daerah-daerah di seluruh Nusantara. Setelah itu Presiden akan memilih dengan berbagai pertimbangan yang diprioritaskan memang dari daerah-daerah yang belum pernah ditampilkan.

Khusus untuk tahun ini, lanjut Anggit, Presiden meminta pakaian adat yang sederhana saja, tidak terkesan festive (meriah), mengingat kondisi negara sedang menghadapi Pandemi Covid-19.

Tim Sespri pun menyiapkan delapan pakaian adat dari lima daerah. Dari situ dipilih dua pakaian adat untuk pidato kenegaraan dan upacara 17 Agustus 2021. Setelah dipilih dan ditentukan, baju adat pun dibuat sesuai ukuran dan kali ini memang asli dibuat oleh masyarakat Badui dan tanpa modifikasi apapun.

Jaro Saija, Tetua Masyarakat Adat Badui yang menyiapkan sendiri baju itu. Sebelumnya Tim Sespri menyampaikan pesanan melalui telepon dan beberapa hari kemudian pesanan baju adat itu pun diambil.

Sejumlah tokoh Banten menyambut baik pilihan Jokowi untuk mengenakan baju adat Suku Badui dalam pidato kenegaraan 16 Agustus 2021. Ini dianggap sebagai kode dan politik simbol Jokowi sekaligus diplomasi budaya mengingat Suku Badui selama ini memang dikenal sebagai masyarakat adat yang sangat rendah hati, ramah, pekerja keras, dan sangat menjaga keselarasan dengan alam.

Kearifan kuno dari Suku Badui misalnya bahwa mereka selalu memilih kesederhanaan dan warna-warna selaras alam sebagai cerminan dari ilmu bumi atau “saipi bumi” (tanah).

Banyak budayawan kemudian menarik pelajaran dari masyarakat Badui yang dianggap sebagai pewaris tradisi keilmuan yang membumi dan senantiasa menjaga keselarasannya. Dalam keselarasan dengan bumi ada tiga elemen dasar yang terkandung di dalamnya yakni perihal kehidupan, keteraturan, dan kedamaian.

Hal-hal itulah yang dipercaya akan diterapkan Jokowi dalam sisa pemerintahannya beberapa tahun ke depan. Bagi mereka yang paham dengan cara berpikir dan bekerja Jokowi maka akan tahu benar kode-kode yang disampaikan melalui pemilihan baju adat ini.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button