Gaya Hidup

Anda Nyeri Kepala, ini Penyebab dan Cara Penanganannya

INDOPOSCO.ID – Beberapa jenis nyeri kepala kerap dialami setiap orang, baik itu nyeri kepala bagian belakang, nyeri kepala sebelah dan lainnya. Apa sebabnya dan bagaimana mengatasinya?

Melalui edukasi online, dr. Riezky Valentina Astari, Sp.S., dari Siloam Hospitals Jantung Diagram mengulas tuntas cara mengenali dan penanganan seputar nyeri di kepala. Menurutnya, nyeri kepala adalah suatu rasa tidak enak pada daerah kepala, termasuk daerah wajah dan tengkuk leher.

dr. Riezky mengatakan, berdasarkan klasifikasi, nyeri kepala terbagi menjadi 3 bagian, yaitu nyeri kepala primer yang biasanya seperti migrain dan nyeri kepala tipe tegang, kemudian nyeri kepala tipe kluster atau nyeri kepala sekunder adalah nyeri kepala akibat cedera kepala, infeksi, stroke, gangguan mata/telinga/hidung/sinus/gigi/mulut/konsumsi obat/makanan/substansi, gangguan psikiatri dan lainnya.

“Kemudian ada pula nyeri kepala lainnya, yaitu yang tidak termasuk dari 2 kategori di atas (nyeri kepala primer dan nyeri kepala kluster),” jelasnya kepada media melalui keterangan tertulis, Ahad (18/7/2021).

Berdasarkan gejala yang dirasakan pada sakit kepala migren, yaitu satu sisi kepala dengan perasaan nyeri sedang sampai dengan nyeri berat. Terasa berdenyut dan semakin nyeri jika disertai aktifitas. Sehingga nyeri kepala migren cenderung ingin beristirahat atau menutup mata dengan durasi yang berlangsung antara 4 jam sampai 72 jam.

“Sementara untuk nyeri kepala tipe tegang, yaitu merasakan nyeri pada kedua sisi kepala dengan perasaan seperti ditindih beban berat. Tingkat nyeri sedang namun tidak mengganggu aktifitas dengan durasi yang bervariasi,” jelas dr. Riezky.

Adapun untuk nyeri kepala kluster merasakan nyeri pada satu sisi kepala, umumnya di sekitar mata. Nyeri yang dirasakan terus menerus semakin berat hingga membuat pasien gelisah, durasi nyeri yang dirasakan sekitar 30 menit sampai 3 jam.

“Gejala yang dialami adalah mata merah, hidung berair, berkeringat, kelopak mata bengkak,” tuturnya.

Melengkapi presentasi akan penanganan nyeri di kepala, dapat dilakukan pemeriksaan penunjang, misalnya pemeriksaan laboratorium seperti darah rutin, elektrolit, glukosa darah, profil lipid dan lainnya. Pemeriksaan CT scan atau MRI kepala juga dapat dilakukan jika ada indikasi.

Menurut dr. Riezky, tata laksana nyeri kepala dapat dibedakan menjadi terapi abortif, terapi preventif, dan terapi non obat. Terapi abortif bertujuan untuk mengobati episode nyeri kepala yang sedang dialami menggunakan obat-obatan jenis analgesik atau antimuntah.

Kemudian, terapi preventif dapat dilakukan untuk mengurangi frekuensi, berat, dan lama serangan nyeri kepala. Terapi preventif diharapkan dapat meningkatkan respon pasien terhadap pengobatan sehingga pada akhirnya dapat mengurangi biaya pengobatan pasien.

Sedangkan terapi non-obat yang dapat dilakukan pasien nyeri kepala, yaitu menghindari dan/atau mengelola faktor pencetus nyeri kepala (misalnya perubahan pola tidur, makanan, stress, rutinitas, cuaca, lingkungan tempat tinggal), melakukan teknik relaksasi, menghindari merokok atau konsumsi alkohol, serta mempertahankan kualitas tidur yang baik.

“Bila tidak ada gejala lain yang berbahaya, sakit kepala dapat diredakan dengan obat-obatan yang dijual bebas, seperti paracetamol. Bila sakit kepala dirasa mengkhawatirkan, segeralah berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai,” imbuhnya.

Pencegahan sakit kepala akibat perilaku sehari-hari dapat dilakukan dengan menerapkan perilaku hidup yang sehat, misalnya beristirahat dengan cukup dan rutin berolahraga. Sedangkan untuk nyeri kepala sekunder akibat penyakit lain yang mendasari, pencegahan yang terbaik adalah dengan mengobati penyebabnya. (arm)

Sponsored Content
Back to top button